PISAU SASTRA (PisTra), Kolom RUANG KARYA/PUISI, Minggu (11/10/2026) – Puisi berjudul “Kesaksian” ini merupakan buah karya dari Ridwan Ch. Madris, S.Pd.I., M.M., M.Pd., seorang akademisi, budayawan, dan seniman multitalenta asal Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Di rahim zaman melahirkan badai
Dari sudut-sudut sunyi, kita saksi getirnya pertiwi.
Saat air mata tertelan di tenggorokan
terlihat tunas bangsa layu dihantam ngeri
Lewat layar-layar gawai yang keji.
Ada sedih mengiris, bercampur lara yang menyayat
Saat kejujuran diinjak sepatu kekuasaan
Teater hantu di layar kaca meremukkan dada:
Negeri ini kaya, namun rakyatnya merangkak dalam gulita
Mencari keadilan yang sirna.
Zaman kian edan, kompas moral telah patah!
Penguasa makin pongah meludahkan dusta, merajut petaka.
Dengarlah jerit aksara ini!
Getir ini bukan alasan untuk menyerah
Sebab di balik rusuk kita, ada nyala takkan dipadamkan badai.
Runtuhkan tirani kelicikan
Ambil kembali hak yang dirampas penindas.
Allah Maha menyaksikan, tak pernah tidur
Mencatat setiap denyut nadi perlawanan.
Wahai pemantik fajar! Darah segar yang membelah arah bangsa!
Jangan sujud pada malam yang pekat, jangan buta oleh panggung yang sesat!
jika mereka menghujani dengan kengerian
Maka sambutlah dengan amuk badai kebenaran yang meluluhlantakkan!
Basuh air matamu, senyum bahagia telah menanti di ujung juang.
Hari esok memeluk kita;
Fajar melahirkan kemerdekaan akal budi, tangan keadilan tegak benderang!
Lewat raga bergerak, lewat aksara yang menyalak,
runtuhkan takhta tirani, jemput fajar kejayaan negeri!
***
Judul: Kesaksian
Penulis/Pengarang: Ridwan Ch. Madris, S.Pd.I., M.M., M.Pd.
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas tentang penulis/pengarang
Ridwan adalah seorang akademisi, budayawan, dan seniman multitalenta asal Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sosok multidimensi ini secara konsisten merajut harmoni antara nilai-nilai agama, pendidikan, dan estetika tradisi Nusantara.
Beliau merupakan pemegang Gelar Magister Ganda, yakni Magister Manajemen (M.M.) dari STIE PBM Jakarta (2012) dan Magister Pendidikan (M.Pd.) dari Pascasarjana PAI Universitas Islam Nusantara (UNINUS) Bandung (2026). Di UNINUS, beliau mencetak sejarah meraih Cum Laude Tertinggi lewat tesis fenomenal “Konstruksi Pendidikan Akhlak Berbasis Akulturasi Budaya”, sebuah terobosan ilmiah yang memadukan sastra dan tradisi lokal. Saat ini, beliau mendedikasikan dirinya sebagai dosen Sastra dan Filsafat Pendidikan sekaligus menjabat Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan di STAI Baitul Arqom Al-Islami (STAIBA) Ciparay.

Di dunia kreatif, ia dikenal sebagai seniman komplet (multi-genre) yang produktif berkarya. Berbagai karya puisi, artikel, opini, dan kritik sastranya mengenai isu sosial, politik, kebudayaan, hingga pendidikan telah tersebar luas di berbagai media cetak maupun digital, termasuk jaringan LTN NU Jawa Barat. Jejak literasinya abadi dalam bentuk buku, baik melalui buku tunggal seperti antologi “Tirakat Purnama”, maupun puluhan buku antologi bersama para penyair ternama skala nasional hingga internasional.
Selain sastra, kiprah seninya meluas ke ranah lain:
* Musik & Seni Rupa: Piawai menulis lirik lagu kritik sosial, sekaligus aktif menggoreskan filsafat hidup di atas kanvas dalam gerakan perupa Jawa Barat.
Dakwah Kultural: Memelopori konsep “Tausiah Puisi” (2016–2018) yang diapresiasi Kementerian Pariwisata RI hingga membawanya berkeliling Nusantara. Dalam jalur diplomasi budaya ini, ia berkolaborasi dengan maestro Dr. Wawan Gunawan (Ki Dalang Wawan Ajen) dan bertindak sebagai Editor Utama buku puisi spiritual “Suluk Hijrah Mahjura”.
Di akar rumput, Ridwan mengemban amanah sebagai Ketua Umum FOSSKAB (Forum Silaturahmi Seniman Kabupaten Bandung). Ia juga mendirikan Sanggar Menara Madris di Pacet, Bandung, sebagai episentrum gerakan “Ngaji Puisi” dan program residensi mahasiswa yang produktif melahirkan buku serta pertunjukan teater.
Saat ini, beliau sedang merampungkan penerbitan buku referensi nasional berbasis riset tesisnya, bersamaan dengan penyusunan Trilogi Filsafat (Cinta, Pendidikan, dan Seni). Bagi Ridwan Ch. Madris, seni dan agama adalah satu kesatuan—kompas moral yang menjaga manusia agar tetap mengakar pada tradisinya di tengah modernisasi.
***