PISAU SASTRA (PISTRA), Ruang Karya/Cerpen, Kamis (05/02/2026) ─ Cerpen berjudul “Pertarungan yang Menentukan” ini merupakan karya Jumari Haryadi atau bisa dikenal sebagai J.Haryadi. Penulis kelahiran Kotabumi, Lampung Utara ini kini berdomisili di Desa Cihanjuang, Kabupaten Bandung Barat.
Sudah hampir lima tahun Bahar Malaka hidup sebagai pengembara. Ia berpindah dari satu negeri ke negeri lain, seolah bumi terlalu luas untuk ditempati hanya pada satu titik. Dalam dirinya, kebebasan bukan sekadar pilihan hidup, melainkan napas yang harus terus dihirup. Tanpanya, ia merasa mati perlahan. Lautan dan benua telah ia lintasi, batas negara hanya garis tipis yang mudah dilewati oleh langkah seorang yang tak pernah benar-benar ingin menetap.
Di antara sekian banyak tempat yang pernah disinggahi Bahar, Madinah adalah pengecualian. Kota itu tidak menyambutnya dengan gegap gempita, tetapi dengan ketenangan yang sunyi. Di kota yang dahulu bernama Yatsrib itulah Bahar Malaka merasa waktu berjalan lebih pelan, seakan Tuhan sendiri sedang mengajak manusia untuk berhenti sebentar dan bercermin.

Tubuh Bahar kurus dan tak tinggi—sekitar seratus enam puluh lima sentimeter. Kulitnya cokelat tua, rambutnya panjang dan gimbal, memutih di beberapa bagian. Penampilannya mencolok, nyaris tak pernah selaras dengan lingkungan sekitarnya. Namun, ia tak pernah berniat menyamarkan diri. Rambut gimbal itu adalah bentuk kesetiaannya pada jalan hidup yang ia pilih—jalan yang liar, bebas, dan sering kali sepi.
Usia pria kelahiran Bandung ini sudah mendekati kepala lima. Ia belum beristri, bukan karena tak pernah mencintai, melainkan karena tak sanggup menjanjikan kepastian. Hidupnya adalah koper setengah terisi dan tiket tanpa tanggal pulang. Ia sadar, tak semua orang bersedia mencintai seseorang yang lebih setia pada perjalanan ketimbang rumah.
Di Madinah, Bahar Malaka hidup dari pekerjaannya sebagai desainer interior lepas. Dunia seni adalah tempatnya berpijak, sekaligus ruang untuk melarikan diri dari kekerasan realitas. Dalam kesendirian ruang kerjanya, ia sering ditemani kopi hitam dan sebatang rokok, sementara lagu-lagu Bob Marley mengalun pelan—tentang cinta, perlawanan, dan kebebasan. Di sanalah ia merasa utuh, meski dunia di luar kerap memandangnya sebagai orang asing.

Ditangkap Polisi Madinah
Ketika Bahar berjalan kembali dari sebuah restoran kecil menuju vila tempatnya bekerja, ia berpapasan dengan petugas imigrasi. Tatapan mereka tajam, curiga, dan dingin. Penampilannya yang berbeda telah menjadikannya sasaran. Identitas diminta. Status overstay ditemukan. Ia pun digiring, bukan sebagai pekerja, melainkan sebagai tersangka.
Di kantor polisi kriminal, Bahar duduk menghadapi kenyataan: kebebasan yang selama ini ia puja ternyata rapuh. Namun, justru di ruang itulah seni kembali menyelamatkannya. Sebuah sketsa sederhana—goresan spontan dari tangan yang gelisah—mengubah arah nasibnya. Polisi muda yang melihat gambar itu tersenyum dan percakapan pun mengalir, melupakan tuduhan, melupakan berkas, seolah hidup sedang memberi Bahar satu kesempatan lagi. Namun, malam itu kebebasan tak sepenuhnya kembali. Ia diserahkan ke tahanan imigrasi.

Di ruang bawah tanah itu, Bahar belajar tentang lapisan paling keras dari hidup manusia. Empat puluh tubuh dari berbagai bangsa dipadatkan dalam satu ruangan. Tidak ada kursi, tidak ada ranjang, hanya lantai dingin dan sisa-sisa harga diri yang dipertahankan dengan cara paling kasar. Makanan menjadi simbol kekuasaan. Yang kuat makan, yang lemah menonton.
Bahar memilih menyingkir. Bukan karena tak lapar, melainkan karena ia tahu, satu pertengkaran kecil bisa berujung kehancuran. Di sudut ruangan, ia berteman dengan rasa sakit di perutnya dan pikiran yang berkecamuk.
Hari kedua, harga diri kembali diuji. Ia menolak sisa makanan, bukan karena sombong, melainkan karena ia tahu, sekali ia merendah, ia akan diinjak selamanya. Dalam keterdesakan itulah muncul gagasan nekat: menghadapi ketakutan secara langsung.

Akbar—nama itu menggema di ruang tahanan. Tubuh besar, janggut lebat, karateka bersabuk hitam asal Maroko. Ia adalah hukum tak tertulis di ruangan itu. Ketika Akbar menjatuhkan Yusuf dari Yaman dengan satu pukulan, semua orang membeku. Bahar Malaka justru melangkah maju. Ia memeriksa denyut nadi Yusuf, menyiramkan air ke wajahnya, dan mengembalikannya pada kesadaran.
Sejak saat itu, mata-mata mulai memperhatikannya. Bahar tahu, keberanian bukan soal menang atau kalah, melainkan tentang berdiri saat semua orang memilih diam. Oleh karena itu ia mendatangi Akbar, bukan sebagai penantang sejati, melainkan sebagai manusia yang ingin diakui.
Pertarungan pun terjadi
Waktu yang dinantikan tiba. Ketegangan merasuki sekujur tubuh Bahar Malaka. Tubuh kecil itu dihantam oleh kekuatan yang jauh melampaui batasnya. Setiap pukulan terasa seperti peringatan: bahwa hidup tak selalu adil. Dadanya nyeri, perutnya mual, punggungnya seperti retak. Namun, ia terus bertahan. Bukan karena ia yakin bisa menang, melainkan karena ia menolak menyerah sebelum waktunya.

Saat akhirnya Bahar mengangkat tangan dan mengakui kekalahan, ruangan itu hening sejenak—lalu pecah oleh tepuk tangan. Akbar memeluknya. Dalam pelukan itu, Bahar menemukan sesuatu yang selama ini ia cari: pengakuan sebagai manusia, bukan sebagai korban.
Sejak malam itu, hidup di tahanan berubah. Makanan datang, kasur tersedia, selimut menghangatkan tubuh yang selama ini menggigil. Akbar menjadi kawan. Kekuatan yang sebelumnya menindas, kini melindungi.
Seminggu kemudian, Bahar Malaka dipindahkan untuk proses deportasi. Di saat perpisahan, Akbar menangis. Seorang lelaki besar yang biasanya ditakuti, kini tak malu memperlihatkan rapuhnya perasaan.
Bahar melangkah pergi dengan tubuh penuh memar, tetapi jiwa yang lebih utuh. Ia belajar bahwa dalam hidup, ada pertarungan yang tak dimenangkan dengan pukulan, melainkan dengan keberanian untuk tetap menjadi manusia—di tempat paling tak manusiawi sekalipun.
***
Judul: Pertarungan yang Menentukan
Penulis/pengarang: J. Haryadi
Editor: JHK