PISAU SASTRA (PISTRA), Rubrik RUANG KARYA/CERPEN, Sabtu (31/01/2026) ─ Cerpen misteri berjudul “Kereta Terakhir” ini ditulis oleh Jumari Haryadi alias J. Haryadi seorang penulis, pegiat literasi, dan pendiri Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) yang kini tinggal di Kabupaten Bandung Barat.
Malam merayap dingin di Antapani. Aurelia, seorang sekretaris yang biasanya berkutat dengan tumpukan dokumen di Jalan Asia Afrika, kini terburu-buru memasukkan laptop dan beberapa helai pakaian ke dalam tasnya. Sebuah rapat mendadak di Jakarta menunggunya besok pagi. Di luar, hujan rintik-rintik mulai membasahi kaca jendela, menciptakan pola-pola air yang tampak seperti air mata yang mengalir pelan. Ia melirik jam dinding; waktu seolah mengejarnya.
Stasiun Bandung tampak lebih sunyi dari biasanya. Hawa dingin menusuk hingga ke tulang saat Aurelia melangkah melewati gerbang pemeriksaan. Tidak ada hiruk-pikuk penumpang yang lazim terdengar. Hanya suara tetesan air dari atap seng yang beradu dengan lantai peron yang lembap. Lampu-lampu stasiun berpendar redup, memberikan bayangan panjang yang seolah menari-nari di dinding tua stasiun yang mulai mengelupas.

Di kejauhan peron, Aurelia melihat tiga orang penumpang duduk diam membatu di bangku kayu. Wajah mereka sangat pucat, seputih kapas, dan mata mereka menatap kosong ke arah rel tanpa berkedip. Aurelia merasa bulu kuduknya berdiri. Ia mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman itu, menganggap mereka hanyalah sesama pengelana malam yang kelelahan. Namun, tidak ada suara napas atau gerakan sekecil apa pun dari arah mereka.
Suara gemuruh rendah terdengar, diikuti oleh kepulan asap tebal yang menyelimuti peron. Sebuah kereta tua dengan badan besi yang berkarat perlahan merapat. Kereta itu berasal dari arah Surabaya, namun tidak seperti kereta modern yang biasa Aurelia tumpangi. Catnya mengelupas dan jendelanya tertutup debu tebal. Pintu kereta terbuka dengan suara derit logam yang memilukan, seolah-olah mesin tua itu sedang merintih kesakitan.
Aurelia melangkah masuk ke dalam gerbong yang remang-remang. Di dalam, beberapa penumpang duduk dengan kepala tertunduk. Mereka semua mengenakan kupluk rajut yang ditarik rendah hingga menutupi dahi, membuat wajah mereka tersembunyi dalam kegelapan di bawah lampu yang berkedip-kedip. Tidak ada suara percakapan, hanya deru mesin kereta yang terdengar tidak wajar, menyerupai geraman rendah dari dasar bumi.
Tiba-tiba, aroma melati yang sangat kuat menyeruak, memenuhi paru-paru Aurelia hingga membuatnya mual. Bau itu tidak berasal dari parfum, melainkan bau bunga kematian yang menusuk. Lampu di dalam gerbong mulai padam total, lalu menyala kembali sesaat, menciptakan efek strobo yang menyakitkan mata. Setiap kali cahaya hilang, Aurelia merasa ada sesuatu yang bergeser di sekitarnya, sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.
Saat kegelapan menyelimuti gerbong untuk waktu yang lebih lama, sebuah sosok putih muncul di ujung lorong. Itu adalah Pocong, dengan kain kafan yang kusam dan terikat erat. Wajahnya yang hitam legam tanpa mata menatap langsung ke arah Aurelia. Sosok itu tidak melompat, melainkan melayang mendekat perlahan, membawa serta hawa dingin yang luar biasa yang seolah membekukan darah di nadi Aurelia.
Belum sempat ia berteriak, dari balik kursi-kursi penumpang, muncul makhluk-makhluk mengerikan lainnya dengan anggota tubuh yang tidak proporsional dan kulit yang membusuk. Mereka merangkak di langit-langit gerbong, mengepung Aurelia yang mulai berlari panik menuju pintu keluar. Tangisan dan rintihan gaib mulai terdengar dari segala penjuru, memenuhi kabin kereta yang kini terasa seperti penjara bawah tanah.
Aurelia mencoba membuka pintu antar gerbong, namun pintu itu terkunci rapat. Rasa takut yang teramat sangat membuatnya kehilangan keseimbangan. Ia tersandung oleh sesuatu yang dingin dan licin di lantai, lalu jatuh terjerembap. Kepalanya membentur lantai besi dengan keras. Pandangannya perlahan menggelap saat ia melihat bayangan-bayangan hitam besar mulai menutupi tubuhnya. Ia pingsan dalam dekapan ketakutan yang murni.
“Mbak? Mbak, bangun, Mbak.” Suara berat itu membangunkan Aurelia. Ia mendapati dirinya tergeletak di lantai dingin di depan toilet Stasiun Bandung. Baskara, seorang petugas stasiun berseragam, menatapnya dengan cemas. Saat Aurelia menceritakan tentang kereta tua dari Surabaya dan makhluk-makhluk itu, Baskara hanya menggeleng. “Tidak ada kereta tua yang beroperasi malam ini, Mbak. Apalagi dari Surabaya jam segini. Mbak mungkin kelelahan.” Aurelia terdiam, meraba saku mantelnya dan menemukan sekuntum bunga melati yang layu dan dingin.
***
Judul: Kereta Terakhir
Penulis: Jumari Haryadi
Editor: JHK