PISAU SASTRA (PISTRA), Rubrik OPINI, Minggu (16/11/2025) ─ Artikel berjudul “W.S. Rendra: Burung Merak yang Tak Pernah Diam” ini ditulis oleh Jumari Haryadi, seorang penulis, pegiat literasi, dan pendiri Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) yang kini tinggal di Kabupaten Bandung Barat.
Dalam lanskap sastra Indonesia modern, nama W.S. Rendra berdiri kokoh seperti pohon tua yang akarnya menjalar jauh ke dalam sejarah dan batangnya menjulang menembus langit kebebasan ekspresi. Rendra bukan sekadar penyair, bukan pula sekadar dramawan. Ia adalah simbol perlawanan, lentera nurani bangsa, dan burung merak yang bulu-bulunya mengilap di tengah gelapnya tekanan sosial dan politik pada zamannya.
Tahun ini, tepat 90 tahun sejak kelahirannya pada 7 November 1935, bangsa ini patut merenungi kembali jejak langkah sang maestro yang telah menorehkan tinta emas dalam perjalanan kebudayaan dan sastra Indonesia. Mengenang kembali sang tokoh berarti kita akan melihat sepak terjang Rendra dalam membangun peradaban melalui karya-karya yang ditorehkannya.

Awal Kehidupan dan Jejak Sastra
Willibrordus Surendra Broto Rendra, atau yang lebih dikenal dengan nama pena W.S. Rendra, lahir di Solo, Jawa Tengah. Ia tumbuh dalam lingkungan yang memadukan nilai-nilai keagamaan, seni, dan intelektualitas. Ayahnya, R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo adalah seorang guru bahasa dan seniman. Ibunya, Raden Ayu Catharina Ismadillah, seorang penari serimpi di lingkungan keraton.
Kombinasi darah seni dan pendidikan itulah yang kelak membentuk karakter Rendra: religius, tetapi bebas; Lembut, tetapi tajam, dan; sederhana, tetapi berjiwa megah.
Rendra menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, di Fakultas Sastra Barat. Di sanalah ia mulai dikenal lewat bakatnya membaca puisi dengan gaya teatrikal yang belum pernah dilihat sebelumnya.
Setiap kali Rendra membacakan puisinya, situasi panggung seolah menjadi hidup; kata-kata menjelma menjadi tubuh, sedangkan suara berubah menjadi nyawa. Rendra tak hanya menulis puisi—ia memerankannya, ia hidup di dalamnya.
Sejak awal, puisinya menandakan keberanian untuk melawan stagnasi. Dalam kumpulan puisinya “Ballada Orang-orang Tercinta” (1957) dan “Empat Kumpulan Sajak” (1961), Rendra menampilkan sisi kemanusiaan yang hangat dengan nada cinta dan empati yang kuat terhadap rakyat kecil. Namun, di balik kelembutan itu, ada bara yang perlahan tumbuh: semangat kritik sosial. Bara itu kelak menyala terang di masa-masa kelam sejarah Indonesia.
Burung Merak dan Lahirnya Teater Mini Kata
Julukan “Burung Merak” yang melekat pada Rendra bukan tanpa sebab. Ia dikenal flamboyan, baik dalam gaya berpakaian maupun dalam cara mengekspresikan diri. Namun, di balik kemewahan ekspresi itu, terdapat kejujuran dan keberanian untuk menjadi diri sendiri. Ia tidak pernah tunduk pada arus besar konformitas yang sering menenggelamkan suara individu.
Pada 1967, setelah menimba ilmu teater di Amerika Serikat dengan beasiswa dari The American Academy of Dramatic Arts di New York, Rendra kembali ke Indonesia dan mendirikan Bengkel Teater. Di sinilah kebesarannya sebagai sutradara dan aktor mencapai puncaknya.
Rendra memperkenalkan teater total, di mana tubuh, suara, musik, dan kata menyatu dalam satu kesadaran artistik. Ia percaya bahwa teater bukan hanya hiburan, melainkan ruang refleksi dan pembebasan jiwa.
Lewat pementasan seperti “Mastodon dan Burung Kondor”, “Panembahan Reso”, dan “Bip Bop”, Rendra mengolah persoalan sosial, politik, dan eksistensial dengan simbolisme yang menggugah. Ia menolak menjadi pengkhotbah di panggung, tetapi setiap lakonnya adalah seruan moral yang menggetarkan hati penonton. Rendra menyebut teaternya sebagai “teater rakyat”—karena yang ia bicarakan bukanlah elite, tetapi manusia biasa yang berjuang di tengah ketidakadilan.
Suka Duka Sang Maestro: Dari Panggung ke Penjara
Keberanian Rendra itu bukan tanpa risiko. Pada masa Orde Baru, suara yang terlalu jujur dianggap ancaman bagi stabilitas kekuasaan. Ia yang dikenal tajam dalam kritik sosial dan politiknya, sering kali berhadapan langsung dengan aparat negara. Puisinya seperti “Sajak Pertemuan Mahasiswa” (1977) atau “Sajak Sebatang Lisong” menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, ketimpangan, dan korupsi kekuasaan.
Dalam “Sajak Sebatang Lisong”, Rendra menulis dengan getir:
Menghisap sebatang lisong,
melihat Indonesia Raya,
mendengar 200 juta rakyat,
di bawah naungan sinar bulan,
menghisap sebatang lisong,
memandang langit,
melihat nasib manusia.
Kalimat sederhana itu menyimpan kegelisahan yang dalam tentang bangsa yang kehilangan arah. Rendra tidak pernah mengutuk, tetapi ia juga tidak pernah diam.
Akibat keberanian Rendra, beberapa kali ia ditahan tanpa pengadilan. Salah satunya pada 1978, ketika pementasan puisinya di Yogyakarta dibubarkan dan ia ditahan selama beberapa bulan.
Penjara menjadi ruang meditasi bagi Rendra. Di sana, ia tidak berhenti menulis. Ia terus merenung, menulis puisi, dan membangun kesadaran baru tentang makna perjuangan tanpa kekerasan.
Dalam surat-surat dari penjara, Rendra menunjukkan kedewasaan spiritual yang luar biasa. Ia menulis, “Aku tidak takut kehilangan panggung karena panggungku adalah kehidupan itu sendiri.”
Masa-masa sulit itu tidak memadamkan nyala jiwanya yang terus bergejolak bagaikan api yang membara. Semakin keras tekanan yang ia terima, semakin kuat pula suaranya. Rendra menjelma menjadi ikon kebebasan berekspresi di Indonesia. Ia adalah bukti bahwa seni yang jujur tidak bisa dibungkam oleh kekuasaan.
Rendra dan Jalan Spiritualitas
Dalam perjalanan hidupnya, Rendra mengalami transformasi spiritual yang mendalam. Ia yang semula dikenal sebagai Katolik, kemudian memeluk Islam pada 1970-an. Namun perpindahan keyakinannya bukan sekadar formalitas keagamaan; melainkan pencarian makna hakiki tentang Tuhan dan kemanusiaan.
Dalam karya-karya pascakonversinya, seperti kumpulan puisi “Potret Pembangunan dalam Puisi” (1980), Rendra menghadirkan semangat religiusitas yang universal. Ia menulis tentang manusia yang terasing dari dirinya sendiri karena kemajuan teknologi dan sistem ekonomi yang menindas. Ia menegaskan bahwa iman dan keadilan sosial tidak bisa dipisahkan.
Sajak-sajaknya menjadi semacam doa sosial—mengingatkan bangsa agar tidak terjebak dalam keserakahan materialisme. “Janganlah pembangunan membuat manusia menjadi benda,” begitu kira-kira pesan moral yang berulang dalam karya-karyanya. Rendra menulis bukan untuk menasihati, melainkan untuk menggugah kesadaran.
Rendra dan Dunia Pendidikan
Selain menjadi penyair dan dramawan, Rendra juga seorang pendidik sejati. Di Bengkel Teater, ia membentuk generasi baru seniman yang berpikir bebas dan berani bersuara. Murid-muridnya bukan hanya diajarkan akting atau menulis naskah, tetapi juga diajarkan untuk memahami kehidupan, membaca tanda-tanda zaman, dan berpikir kritis.
Rendra sering mengatakan bahwa teater adalah “sekolah kehidupan”. Di sana, setiap individu belajar tentang empati, disiplin, dan kejujuran. Bengkel Teater yang ia bangun di Depok menjadi pusat pembelajaran alternatif yang melahirkan banyak tokoh seni dan budaya Indonesia.
Kontribusi dan Pengaruh bagi Bangsa
Rendra meninggal dunia pada 6 Agustus 2009 di Depok, Jawa Barat. Namun, warisannya tetap hidup. Ia meninggalkan jejak yang dalam, bukan hanya dalam dunia sastra, tetapi juga dalam kesadaran kebangsaan. Rendra telah mengajarkan bahwa kata-kata bisa menjadi alat perlawanan, dan seni bisa menjadi senjata paling damai untuk melawan ketidakadilan.
Kontribusi Rendra bagi Indonesia terletak pada kemampuannya menyatukan seni, politik, dan moralitas dalam satu kesadaran estetis. Ia menjembatani dunia puisi yang kontemplatif dengan dunia rakyat yang konkret. Rendra bukan sekadar penyair panggung; ia adalah penyair kehidupan.
Dalam dunia sastra, pengaruhnya luar biasa. Ia membuka jalan bagi lahirnya generasi penulis yang lebih berani berbicara tentang isu sosial dan politik. Sejak 1970-an hingga kini, gaya pembacaan puisi di Indonesia banyak terinspirasi oleh performa teatrikal Rendra. Ia menjadikan pembacaan puisi bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan pengalaman emosional yang hidup.
Banyak sastrawan dan seniman yang mengaku berutang pada Rendra, baik dalam hal cara berpikir, gaya berekspresi, maupun keberanian moral. Bahkan di kalangan akademisi, karya-karyanya masih menjadi bahan kajian tentang estetika perlawanan dan humanisme dalam sastra Indonesia.
Rendra, Api yang Tak Pernah Padam
Kini, di usianya yang ke-90 jika ia masih hidup, W.S. Rendra tetap terasa hadir di antara kita. Suaranya bergema dalam setiap bait puisi yang jujur, dalam setiap teater yang menolak tunduk pada kekuasaan, dalam setiap gerakan seni yang berani mengatakan kebenaran.
Rendra telah mengajarkan bahwa menjadi seniman berarti menjadi saksi zaman. Ia tidak sekadar menulis puisi, tapi menulis sejarah bangsa lewat kata. Ia tidak sekadar berdiri di atas panggung, tetapi berdiri di atas keyakinan bahwa keindahan sejati lahir dari keberanian.
Dalam salah satu puisinya, Rendra pernah menulis:
Aku menulis bukan karena aku pandai menulis,
tapi karena aku tidak bisa diam
Memang, Rendra tidak pernah diam. Ia tetap berbicara. Bahkan, setelah raganya tertanam dalam tanah. Kata-katanya menjadi nyala yang terus menerangi jalan generasi muda bangsa ini—mengajarkan bahwa sastra bukanlah pelarian dari kenyataan, melainkan cara paling luhur untuk menghadapinya.
Rendra, sang Burung Merak, telah terbang tinggi. Namun bulu-bulunya masih berkilau di angkasa sastra Indonesia.
***
Judul: W.S. Rendra: Burung Merak yang Tak Pernah Diam
Penulis: Jumari Haryadi
Editor: JHK