PISAU SASTRA (PISTRA), Ruang Karya/Cerpen, Kamis (29/01/2026) ─ Cerpen berjudul “Dunia yang Pudar” ini merupakan sebuah karya sastra yang ditulis oleh Shinta Meida Fitrianingsih Suarna atau Meydashinta ─ seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Kota Cimahi, Jawa Barat.
Namaku Adelio. Sejak aku ingat, duniaku selalu dibagi dua. Satu sisi terang ─ tempat Ibu selalu tersenyum meski penat. Satu sisi lagi buram ─ tempat Ayah dan Ibu bertengkar. Rumah kami, bagiku adalah medan perang yang tak pernah usai.
Setiap pagi, Ibu bangun paling awal. Suara mesin jahitnya sudah berdengung saat aku masih terlelap. Dia bekerja, entah itu menjahit pesanan, membereskan rumah, atau mengurus toko kecil kami. Sementara itu, Ayah, kebanyakan waktunya dihabiskan rebahan di sofa, matanya terpaku pada layar ponsel, jari-jarinya menari di atas tombol game.

Jika tidak bermain, Ayah sibuk dengan ponselnya. Bukan untuk Ibu atau aku, tetapi untuk menelepon teman-temannya di Padang atau mengobrol panjang lebar dengan keluarganya di sana. Ia bisa tertawa lepas di telepon, menceritakan semua hal, tetapi hanya diam saat Ibu mengajaknya bicara.
Aku sering melihat Ibu menghela napas panjang, tatapannya kosong ke arah Ayah yang tak bergeming. Ia tampaknya banyak memendam sesuatu.
Suatu sore, suasana di rumah terasa sangat pekat. Suara Ibu meninggi, bercampur isak tangis yang membuat dadaku sesak. Dia berdiri di hadapan Ayah, wajahnya memerah karena marah, tangannya gemetar memegang ponsel Ayah.

“Ini maksudnya apa, Bang? Bukti chat Kamu sama Mita, karyawan toko kita!” Teriak Ibu, suaranya parau, “Kamu selingkuh? Ayo Jawaaab!”
Ayah bangkit. Matanya memancarkan amarah yang menakutkan.
“Apaan sih, Sa? Jangan ngada-ngada! Itu cuma iseng!”
“Iseng? Iseng kok sampai panggil sayang sayangan dan ayah bunda? Padahal sama istri sendiri saja Kamu panggil nama. Bahkan, Kamu malas bicara kalau bukan soal kiriman uang ke Padang!” Ibu mencaci maki, air matanya tak terbendung.

Tiba-tiba, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ibu. Suara itu begitu nyaring, memecah keheningan yang mencekam. Ibu terhuyung, air matanya makin deras. Ia membalas tamparan itu, tetapi Ayah lebih cepat. Sebuah tendangan mendarat telak di perut Ibu sehingga membuatnya menjerit. Tubuhnya jatuh terempas ke lantai, meringkuk sambil memegangi perutnya yang kesakitan.
Hatiku hancur melihat Ibu menangis tak berdaya. Aku hanya bisa menatap, tidak mengerti apa yang harus kuperbuat. Ibu perlahan bangkit, dengan sisa-sisa kekuatannya. Ia meraih tasnya, lalu menarik tanganku. Kami bergegas ke pintu depan. Saat Ibu sedang membungkuk memakai sepatu, Ayah datang lagi, mendorong punggung Ibu dengan keras.
Tubuh Ibu terdorong keluar, jatuh tersungkur ke halaman depan. Wajahnya mencium tanah. Ia terisak tanpa suara. Aku berlari menghampirinya, memeluknya erat. Panas air mata Ibu membasahi bahuku. Aku patuh saat Ibu menggendongku, lalu kami beranjak pergi, meninggalkan rumah itu. Meninggalkan Ayah.

Ibu menggendongku sambil terisak, langkahnya cepat. Aku tahu tujuannya adalah rumah kakek nenek ─ orang tua ibuku . Namun, di tengah perjalanan, Ibu tiba-tiba mampir ke sebuah tempat makan yang ada arena bermainnya.
“Kita makan dulu ya, Nak,” ucap Ibu, berusaha tersenyum.
Kami makan, dan aku bermain di arena bermain itu. Setelah itu, Ibu mengajakku ke toilet. Dia membersihkan wajahnya, merapikan dirinya. Kemudian, dia tersenyum padaku ─ senyum yang sedikit dipaksakan, tapi berusaha tulus.
“Nak, maafkan Ayah dan Ibu ya. Lio tidak apa-apa kan ya?“
Aku menjawab, ”Tidak Bu, Lio cuma takut dan sedih saja.“
Kita main, ya. Lio main yang happy ya nak. Lupakan kejadian tadi. Suatu hari nanti ibu akan ceritakan semua ke Lio,” kata Ibu mencoba meyakinkanku.
Setelah puas bermain, kami melanjutkan perjalanan ke rumah kakek nenek.
Setibanya di sana, Ibu sudah tampak biasa saja. Ia membawakan makanan untuk kakek dan nenek, lalu bercerita dengan riang, seolah tak ada hal buruk yang baru saja terjadi. Ibu lalu masuk ke kamar, izin istirahat sebentar. Aku pun bermain bersama Nenek di ruang tamu.

Sambil bermain, aku menceritakan semua kejadian di rumah. Nenek mendengarkan dengan seksama.
“Untuk sementara, Kamu sama Nenek dulu saja ya, Lio. Tunggu sampai keadaan tenang. Biarkan Ibu istirahat dan menenangkan diri,” kata Nenek lembut.
Malam harinya, Ibu keluar kamar dengan wajah yang kembali ceria. Nenek sempat bertanya apa yang kuceritakan. Ibu hanya tersenyum tipis.
“Elsa tak apa, Mah. Minta doanya saja biar semua selesai dengan baik,” jawab Ibu.
Beberapa bulan berlalu. Akhirnya, kami pindah dari rumah kami ke rumah Nenek. Setiap hari, aku melihat Ibu mengurung diri di kamar, menangis dalam diam. Namun, begitu keluar kamar, dia akan kembali dengan wajah riang, siap menjalani aktivitas kesehariannya.
Suatu hari, aku bertanya, “Bu, Ayah ke mana?”
Ibu tersenyum sedih, “Ayah pergi Nak, entah kemana.”
Aku bingung. Aku mencoba memahami ke mana Ayah pergi dan mengapa dia pergi?
Sampai suatu kali, aku pergi bersama Om Rio, adiknya Ibu. Kami main ke sebuah mall baru di daerah sentul.
Di tengah keramaian, mataku menangkap sosok familiar. Ayah! Ya, itu memang ayah. Namun, ayah tidak sendiri. Ada Teh Mita, karyawan toko kami di sampingnya. Mereka tampak sangat mesra, tertawa, dan bergandengan tangan. Tatapan Ayah kepada Teh Mita adalah sebuah tatapan penuh kasih sayang. Tatapan yang tak pernah kulihat saat dia menatap Ibu. Hatiku terasa perih.

Ayah tidak pernah mengajak aku dan Ibu ke mall dan makan di tempat sebagus ini. Setahuku, Ibu yang selalu makan sendiri di rumah atau di toko. Entah ada apa dengan Ayah. Ada apa dengan ayah dan ibu? Sungguh pertanyaan ini terus mengusikku.
Sampai aku sekarang berumur sepuluh tahun pun, aku masih tidak mengerti mengapa duniaku harus menjadi seperti ini. Mengapa cintanya Ayah bisa pudar dan mengapa Ayah memilih untuk meninggalkan kami demi dunia yang baru.
***
Judul: Dunia yang Pudar
Pengarang: Meydashinta
Editor: Jumari Haryadi
Catatan:
Tulisan ini merupakan tugas menulis dari peserta Workshop Menulis Online “Dari Kata Menjadi Karya” secara daring yang diselenggarakan oleh Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kota Cimahi bekerja sama dengan Media Online Berita Jabar News dan Kampung Cendekia Kota Cimahi pada Minggu, 21 September 2025.