PISAU SASTRA (PisTra), Kolom RUANG KARYA/PUISI, Senin (17/08/2026) – Puisi berjudul “Merdeka yang Masih Mencari Jalan Pulang” ini merupakan buah karya dari Jumari Haryadi alias J.Haryadi, seorang penulis, pegiat literasi, dan pendiri “Kopi Literasi”, kini tinggal di Desa Cihanjuang, Kabupaten Bandung Barat.
Setiap Agustus kita kembali mengibarkan bendera merah putih,
Merah seperti darah yang dahulu tumpah demi sebuah nama: Indonesia,
Putih seperti doa agar negeri ini kelak menjadi rumah yang adil,
bagi siapa pun yang dilahirkan dan hidup di atas tanahnya.
Kita menyanyikan lagu kemerdekaan dengan suara lantang,
sementara di sudut-sudut kota masih banyak orang yang berkeliaran,
mengukur jalan sambil mengais rezeki demi sesuap nasi,
untuk mengisi perutnya yang selalu berdendang tak mau diam.
Lihatlah seorang sarjana yang sedang mengantre membawa ijazah,
yang semakin lama semakin kusam,
ia sudah terlalu lelah menanti sebuah pekerjaan,
yang entah kapan akan datang.
Setiap hari buruh bekerja,
mempertaruhkan delapan jam kehidupannya
demi upah ala kadarnya,
yang seharusnya tak layak ia terima.
Lihatlah seorang istri dengan cemas menghitung uang dari suaminya,
ia bingung harus belanja apa,
karena tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hariannya,
lalu sang suami dengan lirih berkata:
“Besok mungkin rezeki kita akan lebih baik,”
bukan karena ia yakin akan mendapatkan hasil lebih,
melainkan karena anak-anaknya butuh alasan untuk selalu berharap.
Lalu kita bertanya:
Benarkah kita sudah merdeka?
Merdeka dari apa jika hidup masih terasa seperti tawanan?
Kita memang tidak lagi melihat,
serdadu asing berdiri di depan rumah,
tidak ada rantai besi yang mengikat kaki,
tidak ada bendera penjajah yang berkibar di halaman istana.
Namun kini,
penjajahan memiliki wajah yang lebih licin,
ia bisa memakai jas dan dasi,
sambil membawa map dan duduk di kursi empuk,
ia berbicara tentang rakyat dengan kalimat berbusa yang sangat indah,
sambil tersenyum dikulum menandatangani dokumen tipu-tipu,
yang kelak membuat rakyat jadi sapi perah dan terbelenggu.
Di jalan-jalan begal mengintai orang yang pulang malam,
sementara di kantor-kantor sebagian orang mengintai anggaran,
yang satu merampas dengan ancaman,
yang lain merampas dengan tanda tangan,
yang satu mengambil dari kantong orang miskin,
yang lain mengambil dari kantong negara.
Begitulah ironi negeri ini,
kadang kita lebih takut kepada pencuri yang memegang pisau,
daripada kepada pencuri yang memegang stample,
padahal keduanya sama-sama bajingan,
yang tega mengambil sesuatu yang bukan miliknya.
Wahai mereka yang hidupnya sedang berlimpah,
tidak ada yang salah dengan menjadi kaya,
yang salah adalah menjadi kaya dengan membuat orang lain menderita,
tidak ada dosa memiliki rumah besar,
yang menjadi masalah ketika rumah itu dibangun dengan mengambil hak orang lain,
tidak ada larangan memiliki mobil mewah,
tetapi jangan sampai kemewahan itu menghalangimu menuju Tuhan-mu.
Ingatlah wahai manusia:
Ketika semua lampu di dunia sudah dipadamkan,
ketika nama kita tak lagi dipanggil oleh bawahan atau atasan,
ketika kursi kekuasaan sudah berpindah tangan menjadi milik orang lain,
kita akan berdiri sendirian bersama perbuatan yang pernah kita lakukan,
di sana tidak ada lagi sebuatan “orang dalam”,
tidak ada “kenalan pejabat”,
tidak ada “kenalan pejabat”,
tidak ada “titipan”,
tidak ada lagi “permainan”,
yang ada hanyalah sebuah pengadilan,
atas semua perbuatan yang pernah kita lakukan,
di mana kebenaran dan keadilan akan menemukan jalannya sendiri.
Maka kepada mereka yang hari ini masih terlalu rakus,
berhentilah berbuat munkar.
Mungkin inilah kemerdekaan yang kita impikan:
bukan sekadar bebas dari penjajah asing,
tetapi bebas dari penjajahan nafsu,
bebas dari keserakahan,
bebas dari korupsi,
bebas dari kebencian,
dan bebas dari keinginan untuk memiliki hak orang lain.
Merdeka adalah ketika seorang pejabat mampu berkata:
“Ini bukan milikku.”
Merdeka adalah ketika seorang hakim berani berkata:
“Hukum berlaku untuk semua.”
Merdeka adalah ketika pengusaha mampu berkata:
“Buruhku juga manusia.”
Merdeka adalah ketika orang kaya berkata:
“Aku tidak harus memiliki semuanya.”
Merdeka adalah ketika rakyat kecil dapat tidur tanpa rasa takut,
bukan karena ia adalah seorang pahlawan,
tetapi karena negara sudah melindunginya dari keserahakan dan ketidakadilan.
***
Judul: Merdeka yang Masih Mencari Jalan Pulang
Pengarang:Jumari Haryadi
Editor: JHK
Sekilas tentang pengarang
Jumari Haryadi alias J.Haryadi adalah seorang penulis, pegiat literasi, dan pendiri “Kopi Literasi”. Beberapa karya puisinya telah diterbitkan di berbagai media online, seperti “Jangan Mengeluh dan Cepat Rapuh” dan “Nyali Tak Boleh Banci” yang terbit di Pratama Media News, “Hidup Sekejab Kudu Makrifat” dan “Napas Sunyi Bangsa yang Abadi” (terbit Kompasiana).
Selain puisi, J.Haryadi juga menulis beberapa cerita pendek (cerpen), seperti “Aku dan Gadis Misterius”, “Pertarungan yang Menentukan”, dan “Kamar 13.09” yang terbit di Kompasiana. Ia juga pernah menerbitkan sebuah buku kumpulan cerita pendek berjudul “5 Kisah Inspiratif dari Kota Cimahi” yang diterbitkan oleh Kreasi Cendekia Pustaka.
***