Puisi “Antara Debu dan Doa”

PISAU SASTRA (PISTRA) – RUANG KARYA/ PUISI, Jumat (24/07/2026) – Puisi berjudul  “Antara Debu dan Doa” ini merupakan karya Maesaroh, seorang penulis lepas, komunikator, dan ibu pembelajar yang memiliki perhatian besar pada dunia pendidikan, keluarga, serta pengembangan fitrah anak.

Di tanah yang dahulu dipenuhi tawa,
kini debu menjadi saksi
atas rumah-rumah yang kehilangan dinding,
atas jalan-jalan yang kehilangan langkah.

Hari demi hari,
langit kembali bergemuruh.
Dentuman memecah fajar,
asap mengaburkan senja,
sementara bumi menelan air mata
yang tak sempat dikeringkan.

Di Gaza,
anak-anak belajar mengenal suara ledakan
lebih dahulu daripada nyanyian.
Mereka menggenggam boneka yang berdebu,
memeluk harapan di antara puing,
dan menatap langit
seolah bertanya,
“Kapankah pagi datang tanpa rasa takut?”

Para ibu memeluk kehilangan
dengan tangan yang tetap menghangatkan.
Air mata jatuh tanpa suara,
namun bibir mereka tak berhenti
melantunkan ayat-ayat suci.
Di balik duka yang tak terucap,
mereka percaya
bahwa setiap kesabaran
tak pernah luput dari pandangan Allah.

Para ayah berdiri
di atas reruntuhan yang pernah mereka sebut rumah.
Mereka mencari serpihan kehidupan,
mengumpulkan harapan
yang berserakan bersama batu dan debu.

Dunia menyaksikan.
Ada yang bersuara,
ada yang berduka,
namun tak sedikit yang memilih diam,
seolah penderitaan dapat berlalu
bersama bergantinya berita.

Namun bagi rakyat Palestina,
ini bukan kisah yang selesai
ketika layar dimatikan.
Bukan pula cerita
yang hanya hadir dalam hitungan menit.

Ini adalah kehidupan—
yang setiap harinya dipertahankan
di tengah luka, kehilangan,
dan langit yang terus bergemuruh.

Meski rumah runtuh,
iman tetap berdiri.
Meski tubuh terluka,
doa terus menjulang.

Sebab di antara debu yang memenuhi bumi,
selalu ada tangan-tangan yang menengadah,
memohon keadilan,
menggenggam harapan,
dan meyakini bahwa
pertolongan Allah
tak pernah terlambat datang.

***

Judul: Antara Debu dan Doa
Pengarang: Maesaroh, M.Sos.
Editor: JHK

Sekilas tentang Penyair

Maesaroh, M.Sos adalah seorang penulis lepas, komunikator, dan ibu pembelajar yang memiliki perhatian besar pada dunia pendidikan, keluarga, serta pengembangan fitrah anak. Baginya, setiap anak lahir dengan potensi dan keunikannya masing-masing. Karena itu, tugas orang tua bukan mengubah anak sesuai keinginan, melainkan menangkap sinyal fitrah yang telah Allah titipkan sejak lahir.

Maesaroh
Maesaroh, penyair – (Sumber: Koleksi pribadi)

Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa SMA. Dari kebiasaan menulis itulah, biidznillah, ia mendapatkan beasiswa bantuan pendidikan dari Yayasan Anak Bimbingan Ibu Ainun Habibie dan Bapak BJ Habibie hingga menyelesaikan pendidikan S1. Sejak saat itu, menulis menjadi bagian dari perjalanan hidup yang terus ia rawat hingga hari ini melalui artikel, puisi, cerpen, antologi, dan proses penyelesaian buku solo yang sedang diusahakan.

Setelah menikah pada 2014, Maesaroh lebih banyak membersamai anak-anak sebagai full time mom. Baginya, masa membersamai tumbuh kembang anak adalah amanah berharga yang tidak akan terulang kembali. Di tengah aktivitas rumah tangga, ia tetap aktif menulis setiap hari, belajar, serta berusaha menghadirkan karya yang bermanfaat bagi sesama.

Sebagai lulusan Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam, Maesaroh aktif berkarya dalam bidang komunikasi, dakwah, pendidikan, parenting, dan literasi keluarga. Ia juga dipercaya menjadi Tutor Universitas Terbuka pada 2026. Melalui tulisan dan proses belajar yang terus dijalani, ia berharap dapat menghadirkan manfaat, menginspirasi banyak orang, serta menebar kebaikan melalui karya dan keteladanan hidup.

“Berkarya dengan hati, menginspirasi negeri.”

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *