Drama Musikal Pertunjukan Kitch

PISAU SASTRA (PisTra), Kolom OPINI, Kamis (21/05/2026) – Artikel berjudul “Drama Musikal Pertunjukan Kitch” ini merupakan karya original dari Yoyo C. Durachman, seorang penulis, pengarang, dosen,  sutradara, dan budayawan Cimahi. Saat ini aktif sebagai salah satu anggota Tim Redaksi “PISAU SASTRA”, sebuah media yang fokus menyuarakan tentang sastra.

Bagian I

Sesungguhnya saat ini masyarakat tidak bisa mengelak dari apa yang namanya “perubahan” di dalam berbagai aspek kehidupannya termasuk di dalamnya kehidupan kesenian (teater- drama musikal). Kesenian yang di dalam terminologi konvensional-tradisional senantiasa dikaitkan dengan upacara ritual dan seremonial serta sebagai wahana ekspresi pribadi para seniman, saat ini semakin bergeser ke arah keprofanan dengan tidak menabukan anasir-anasir komersialisme yang ujung-ujungnya berkarakter industrialisasi yang berindikator: berorientasi profit dan pasar, repetitif, dan kemasan.

Pernyataan di atas berbeda dengan deskripsi teater/drama musikal yang konvensional bahwa pada hakekatnya terjadi dari suatu motivasi untuk mengkomunikasikan karya seni  kepada masyarakat. Motivasi ini datangnya bisa dari pribadi seniman, lembaga/organisasi, serta intansi-intantsi lain yang relevan.

Kenapa motivasi ini tumbuh? Karena di dalam masyarakat, teater mempunyai kedudukan sebagai sarana komunikasi antar jiwa.

Pementasan Teater Musikal "Musyawarah Burung", Sutradara : Arya Sanjaya, Produksi: Studiklub Teater Bandung (STB)/2025.
Pementasan Teater Musikal “Musyawarah Burung”, Sutradara: Arya Sanjaya, Produksi: Studiklub Teater Bandung (STB)/2025 – (Sumber: Yoyo C. Durachman)

Di dalam teater, manusia: baik itu sebagai kreator maupun apresiator, meleburkan diri secara bersama- sama untuk menghayati dan dihayati. Dengan demikian teater mengeksiskan fungsinya di masyarakat sebagai:media hiburan.

Dengan kata lain sebagaimana yang dikemukakan oleh Aristoteles untuk “mensucikan/khatarsis” dan memberikan keseimbangan bagi perasaan hati yang sering kali tertekan; memberikan pengalaman, pengetahuan dan perasaan baru. Oleh karena itu di dalam produksi teater dapat ditinjau dari dua segi, yaitu artistik dan non artistik.

Dari segi artistik yang ada hubungannya dengan seniman dan gagasan-gagasan artistiknya, sedangkan dari segi non artistik melingkupi masalah manajemen.

Kata “hiburan” dan “manajemen” kiranya telah menjadi jembatan bagi teater untuk senantiasa beradaptasi dengan perkembangan jamannya. Saat ini kata hiburan (baik dengan huruf “h” besar maupun kecil) dengan luwesnya bisa diberi makna sebagai  hiburan tinggi sampai ke hiburan rendah, sedangkan kata menajemen diberi makna berorientasi profit dan non profit.

Maka saat ini, baik seniman teater maupun apresiator bisa  dan seperti dipaksa untuk memilih wilayah mana dan mengapresiasi teater macam apa; dari teater berorientasi estetis yang bernilai hiburan tinggi sampai ke teater  yang berklasifikasi hiburan rendahan.

Bagian II

Kendatipun unsur hiburan di dalam teater sudah muncul pada era kejayaan Romawi, semakin dieksiskan secara serius ketika pearadaban manusia masuk ke era insdustrialisasi yang menandai modernisasi dan lebih menjadi-jadi di era globalisasi seperti sekarang ini.

Pada era ini dimana struktur masyarakat didikotomikan antara masyarakat proletar dan masyarakat  borjuis dimana mereka mengkonsumsi keseniannya sendiri-sendiri yang konon masyarakat proletar mengkonsumsi kesenian berestetika hiburan rendah, sedangkan masyarakat berjuis (kapitalis-industrialis dan keturunan bangsawan) mengkonsumsi kesenian berestetika adiluhung, meskipun yang dari kalangan  kapitalis industrialis banyak yang pura pura mengemari kesenian adiluhung supaya bisa masuk bergaul di lingkungan kaum borjuis.

Sudah barang tentu secara strata sosial kaumproletar lebih banyak apabila dibandingkan dengan kaum borjuis. Oleh sebab itu kebutuhan akan konsumsi jenis kesenian hiburan berestetika rendah, termasuk teater dan atau drama musikal akan lebih banyak.

Maka berkembanglah yang dalam menajemen pemasaran  kita kenal sekarang ini dengan istilah “kesenian berorientasi pasar”. Kesenian/teater/drama musikal dibuat memasa, harus disenangi oleh orang banyak yang kemudian masuk ke dalam istilah kebudayaan masa (Mass Culture)  dalam istilah lain ada juga yang menyebut “kitch”.

Kesenian yang masuk ke dalam katagori kebudayaan masa ini diusahakan menghibur dengan standar yang paling dangkal dari kebutuhan penontonnya seperti: ceritanya sederhana, mengandung unsur romans, bertokohkan hero, bentuk lakon yang melodramatik, kekerasan dan balas dendam, pemain sistim bintang dan  apabila perlu dibumbui mengeksploitasi unsur-unsur seksualitas, tokohnya berkarakter hitam putih, dll. Konon kesenian seperti ini dikritik oleh Marx sengaja diciptakan oleh kaum borjuis kapitalis untuk “meninabobokan” kaum proletar untuk tidak kritis, tetap dungu dan selamanya menjadi kaum proletar.

Sejalan dengan era globalisasi sekarang ini dimana perkembangan teknologi informasi menjadi anak emasnya, kesenian masa ini makin berkembang canggih dengan pengemasan yang dilakukan oleh para praktisi seni yang terpelajar/berpendidikan tinggi kesenian.

Maka secara realita masyarakat yang sebenarnya secara strata sosial mulai beranjak dari katagori proletar tetap menggandrungi kesenian ini, maka selanjutnya muncul istilah kesenian “pop”. Namun dalam kontek ini, Izet Begovik mantan presiden Bosnia Herzegovina menolak disamakannya antara kesenian masa dengan kesenian pop.

Menurut Izet Begovik, kesenian masa itu tidak kreatif karena hanya menghamba kepada selera masa, sedangkan di dalam kesenian pop ada unsur kreativitasnya.

Selanjutnya kita mengenal industri kebudayaan. Istilah ini mengandung pengertain karya-karya kebudayaan termasuk di dalamnya kesenian bisa diindustrikan, konon yang termasuk ke sini di antaranya adalah musik pop.

Industri kebudayaan dan kesenian pop ini di era globalisasi ini semakin memasyarakat melalui bantuan industri televisi dan pariwisata. Di mata para kritikus kebudayaan industri televisi dan pariwisata di banyak belahan dunia telah menghegemoni dan menghancurkan seni-seni budaya tinggi dan seni rakyat.

Bagian III

Drama musikal yang merupakan salah satu jenis dan atau genre teater sekarang sedang memikat hati banyak pekerja seni pertunjukan dan apresiatornya di Indonesia, terutama di Kota-kota besar, seperti Jakarta dan Bandung. Teater ini adalah seni pertunjukan dimana musik menjadi element yang penting dan kerap tampil dalam format pertunjukan khusus dengan kemasanspektakuler, melibatkan para pesohor atau dalam format yang sederhana yang dimainkan oleh masyarakat umun dan pelajar dalam konteks pementasan biasa maupun festival. Kalau para pelajar, mahasiswa dan remaja biasanya dalam konteks festival.

Memasanya drama ini di seluruh dunia dipopulerkan oleh industri kebudayaan barat seperti West End di Inggris dan Broadway di Amerika melalaui karya-karyanya yang legendaris seperti Miss Saigon, Cats, Phantom Of The Opera, Les Miserable, dan lain-lain yang dipentaskan berbulan-bulan dalam satu gedung pertunjukan, ditonton oleh jutaan orang di seluruh dunia dan mendatangkan profit ratusan juta dolar. Bahkan sebagaimana layaknya industri, bisa diwaralabakan.

Secara esensial drama musikal sebenarnya bukanlah jenis teater dan atau genre baru dalam wilayah teater Indonesia modern karena idiom-idiom dasarnya bisa kita lihat dalam kesenian “kaulinan urang lembur” di Jawa Barat, “dolanan anak-anak” di Jawa Tengah, Langendriyan di Yogyakarta, Gending Karesmen di Jawa Barat, dan dikebanyakan teater tradisional lainnya di Indonesia dimana paling tidak unsur nyanyian dan tarian serta musik memegang peranan penting dalam pertunjukannya. Namun kemasan bentuk pertunjukan dan penanganan manajerialnya yang menjadi pembeda.

Dari kemasan pertunjukan, kendatipun berorientasi pop dalam berbagai aspeknya, tetapi masih memuat pesan-pesan philosofis yang masih bermanfaat bagi kehidupan penonton dan mengandung nilai kontekstual yang kental. Karena bahan dasar ceritanya diangkat dari karya sastra yang monumental seperti “Les Miserable”, karya: Victor Hugo.

Adapun profesionalisme di dalam penanganan manajemen bisa kita lihat dalam aspek perencanaannya; dari mulai menentukan tema dan atau cerita, pemain, desain artistik, pendanaan, sponsor sampai ke waktu dan tempat penyelenggaraan pertunjukan.

Jadi kalau kita paling sedikit bertanya tentang drama musikal di antara pertunjukan kitch, paling tidak ada beberapa jawaban atau pernyataan yang bisa kita kemukakan;

Yoyo C. Durachman
Yoyo C. Durachman, Penulis/Pengarang – (Sumber: Arie/PISTRA)

Kita harus tahu dan paham tentang definisi, prinsip-prinsip dasar dan tujuan dari drama musikal itu sendiri; memproduksi drama musikal jangan karena latah mumpung lagi tren sebagaimana yang kita lihat sekarang ini; menempatkan drama musikal sebagai media ekspresi seni sehingga desain artistik, kasting pemain, pemilihan cerita tidak asal mengikuti selera masyarakat kebanyakan, seperti yang menjadi ciri kesenian yang termasuk ke dalam kebudayaan masa atau kitch, yaitu:  desain artistik asal megah-spektakuler,  kasting pemain asal pesohor dan cerita asal dimengerti dan disenangi penonton kendati tidak menyampaikan pesan yang berguna; mengeksplorasi kekuatan unsur-unsur budaya lokal, baik dalam cerita maupun  dalam kemasan bentuk pementasannya; dan lain-lain.

Apabila kita tidak berusaha untuk berorientasi kepada beberapa hal seperti yang diuraikan di atas, jangan-jangan nantinya kita akan terperangkap ke dalam hegemoni pertunjukan kitch yang kebudayaan masa itu yang lebih berorientasi profit, tidak membuat penontonnya menjadi pintar, terpenjara di dalam bentuk kemasan yang tidak kreatif, dan lain-lain.

Dengan demikian drama musikal di Indonesia hanya numpang lewat dan penggembira saja, tidak memberikan sumbangan yang berarti ke dalam perkembangan dunia seni pertunjukan Indonesia, tidak bisa dijadikan salahsatu wahana alternatif kreativitas senimannya.

Dalam pengertian yang lain, drama musikal tidak menyumbangkan pemikiran philosofis maupun estetis, dan kalau ini menjadi krisis maka selanjutnya akan menjadi krisis kebudayaan kita.

***

Judul: Drama Musikal Pertunjukan Kits
Pengarang: Yoyo C. Durachman
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas tentang penulis

Yoyo C. Durachman adalah seorang seniman dan budayawan Cimahi yang multitalenta. Pria kelahiran Bandung, 21 September 1954 ini dikenal sebagai dosen, aktor, sutradara, penulis, pengarang, dan budayawan.

Selama karirnya dalam dunia teater, tidak kurang dari 30 pementasan telah dilakukan Yoyo dengan kapasitas sebagai sutradara, pemain, penata pentas, konsultan, dan pimpinan produksi. Naskah drama berjudul “Dunia Seolah-olah” adalah naskah drama yang ia tulis dan dibukukan bersama naskah drama lain milik Joko Kurnain, Benny Johanes, Adang Ismet, Arthur S. Nalan, dan Harris Sukristian.

Pensiunan dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung ini kini sering diundang sebagai juri maupun sebagai narasumber diberbagai kegiatan kebudayaan. Selain itu, Yoyo juga aktif sebagai anggota Tim Redaksi PISAU SASTRA.

***

restorasi foto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *