PISAU SASTRA (PisTra), Kolom RUANG KARYA/PUISI, Kamis (21/05/2026) – Puisi berjudul “Adab dan Ilmu” ini merupakan buah karya dari Drs. Aswin, seorang guru dan Alumni SMPN 1 Angkatan 1982, Kotabumi, Lampung Utara.
Riuh rendah suara di ruang perdebatan,
Kau berdiri tegak, menggenggam ribuan dalil,
Membelah malam dengan argumen yang jitu,
Hingga lawan bicara tunduk, terdiam kaku.
Bicara agamamu begitu mendalam,
Bak samudra luas yang tak terselami awam,
Mampu mengurai benang kusut pemikiran,
Menjadi pemenang di setiap altar lisan.
Namun, dengarlah bisikan sunyi di dada…
Apakah riuh tepuk tangan telah membutakan mata?
Sebab agama bukan sekadar seni bersilat kata,
Bukan piala yang dipajang di atas raga yang jumawa.
Kau kuasai mimbar, kau menangkan perdebatan,
Namun apakah hatimu turut merasakan kedamaian?
Ilmu yang menjulang setinggi langit biru,
Akan runtuh tak berharga jika batinmu membatu.
Tak boleh berhenti hanya pada lembaran kitab,
Sebab iblis pun tahu cara berhujjah dengan fasih.
Yang dicari bukan siapa yang paling pandai mendakwa,
Melainkan siapa yang paling gigih membasuh jiwa.
Di balik jubah kehebatan retorika yang kau miliki,
Seharusnya ada jemari yang sibuk membenahi diri.
Meniti Jembatan Ilmu dan Adab
Menundukkan Ego di Hadapan Kebenaran
Ilmu tanpa perbaikan diri hanyalah lentera,
Yang menerangi orang lain, namun membakar diri sendiri.
Ketika dalil keluar dari bibir yang fasih,
Pastikan ia juga meresap, menyembuhkan luka dan benci.
Hebat di mata manusia belum tentu mulia di mata pencipta,
Jika kesombongan masih bertahta di dalam dada.
Hakikat Berilmu dan Beradab
Inilah jalan para pencari kebenaran yang sejati:
Semakin tinggi ilmu, semakin tunduklah hati.
Bukan untuk merasa paling suci di atas bumi,
Melainkan melihat kekurangan diri yang tak bertepi.
Setiap debat yang kaumenangkan dengan gemilang,
Harus dibayar dengan sujud malam yang panjang.
”Ilmu tanpa adab dan perbaikan diri bagai pohon yang rimbun namun tak berbuah; indah dipandang dari jauh, namun tak memberi makan bagi jiwa yang lapar.”
Maka turunlah sejenak dari podium keangkuhan,
Mari bercermin pada cermin bening keikhlasan.
Perbaiki retak-retak akhlak yang tersembunyi,
Seka debu-debu riya yang mengotori hati.
Sebab esensi tertinggi dari tingginya pemahaman,
Adalah lahirnya insan yang berilmu, sekaligus penuh keadaban.
***
Judul: Adab dan Ilmu
Pengarang: Drs. Aswin
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas tentang pengarang
Pria bernama lengkap Drs. Aswin, M.M. ini merupakan lulusan Program S1 Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung ̶ sekarang berubah menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Angkatan ’85.

Selanjutnya alumni SMPN 1 Kotabumi, Lampung Utara, Angkatan 1982 ini menempuh studi pascasarjana dengan mangambil Program S2 Magister Manajemen di Universitas Saburai, Kota Bandar Lampung dan lulus dengan gelar akademis M.M. (Magister Manajemen). Kini pria penggemar sastra ini berprofesi sebagai pengajar di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung hingga.
Aswin hidup bahagia bersama pasangan hidupnya, Dra. Baroroch, alumni Bahasa Sastra Arab IKIP Bandung Angkatan 1989. Istrinya ini juga bekerja di tempat yang sama di SMAN 3 Kotabumi.
Buah perkawinan Aswin dan Baroroch menghasilkan empat orang putra yang ganteng-ganteng. Mereka adalah putra sulung bernama Fahri Muhammad (alumni Teknik Perkapalan Universitas Diponegoro), putra kedua bernama Farhan firdausi (alumni Fakultas Psikologi UPI Bandung), putra ketiga bernama Fikri Muhammad (Masih kuliah di Fakultas Teknik Kimia Universitas Lampung), dan putra bungsu bernama Fadil Fauzani (masih kuliah di ITB STEI Teknik Informatika).
***