PISAU SASTRA (PisTra), Kolom RUANG KARYA/CERPEN, Senin (08/06/2026) – Cerpen berjudul “bebek Emas” ini merupakan buah karya dari Bimo Murdiadi, seorang penulis dan anggota Komunitas Penulis Kreatif (KPKers).
Suasana pagi yang sejuk membuat Agus enggan bangun dari tidurnya. Ia lanjut berbaring dalam keadaan miring. Kondisi menganggur membuatnya malas untuk melakukan aktivitas apa pun.
“Gus, bangun! Sono pergi keluar cari kerja, gih. Pagi-pagi tidur rezekimu nanti habis dipatok sama ayam,” suara Emaknya datang membangunkan Agus.
Mendengar ocehan emaknya, si Agus hanya bergeming. Ia masih ogah beranjak dari ranjang.
“Gus! Bangun! Kamu enggak mau dengar lagi kata-kata Emak!” ujar Ibu Agus naik pitam.
Malas mendengar amarah ibunya, Agus pun akhirnya menjawab sambil masih rebahan.
“Kenapa sih Emak pagi-pagi sudah ribut saja? Lagian mana ada rezeki dipatok ayam. Ayam mah matoknya cacing sama dedak.”
“Eh … eh, ini anak dibilangi sama orang tua malah ngejawab,” ujar Emaknya Agus tambah marah.
Lalu sambil memukul kaki Agus. Ibunya berkata dengan gusar, “Kamu tuh mau jadi apa sih, Gus? Tiap hari kerjanya cuma tidur melulu. Lihat tuh temanmu si Mamad, sekarang dia sudah sukses membuka toko sembako. Sama temanmu si Hamid yang sudah bekerja di pabrik tekstil di kota. Sekarang malah posisi jabatannya sudah bagus.”
“Ya, jelaslah Emak, mereka berhasil. Si Mamad bisa buka toko sembakokan dimodali bapaknya yang kaya. Kalau si Hamid bisa punya kerjaan bagus di pabrik, lantaran dimasukkan sama pamannya yang punya jabatan penting di pabrik itu. Kekuatan orang dalam, Emak. Aku kalau punya koneksi ke orang–orang besar juga bisa seperti mereka,” balas Agus.
“Terserah kamulah! Tapi, kalau sampai ke depannya hidupmu begini-begini saja, silahkan kamu keluar dari rumah ini!” Ancam ibunya Agus dengan tegas, lalu beranjak keluar dari kamar Agus sembari mengambil dompet dan keluar rumah hendak belanja.
Agus yang mendapat peringatan keras dari ibunya pun mau tak mau beranjak dari tempat tidurnya. Dengan malas-malasan, lalu ia pergi mandi. Usai membersihkan badan, ia menuju meja makan dan menyantap nasi goreng yang sudah disiapkan oleh ibunya dengan lauk pendamping berupa telur mata sapi, tahu kuning, dan timun.

Seusai makan, Agus segera berganti pakaian dengan kemeja, celana panjang, sepatu pantofel beserta tas berisi ijazah dan surat lamaran kerja. Sebelum meninggalkan rumah, ia kirim pesan WhatsApp (WA) ke ibunya yang isinya menyatakan kalau ia hendak berangkat cari kerja, meski aslinya ia malas cari kerja.
Kemudian Agus menelusuri jalan menuju arah gerbang desa untuk mencegat angkot atau bus yang lewat menuju kota, guna mencari kerja.
Ketika sudah jauh berjalan, Agus melihat ada sebuah bale-bale. Ia lantas memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu. Lelah rasanya usai berjalan, apalagi aslinya ia tak punya niatan untuk mencari kerja.
Sembari duduk-duduk Agus melihat-lihat sawah dengan padinya yang menguning beserta sungai yang mengalir deras, serta aneka burung yang berkicau bebas di atas langit.
Waktu sedang melihat-lihat, Agus teringat masa lalunya. Ketika pertama kali bekerja usai lulus SMA, ia sempat kerja di gudang distribusi sayuran dan kebutuhan pasar. Namun, setelah tiga bulan, ia memilih berhenti karena tidak cocok dengan lingkungannya serta tekanan dari pimpinannya.
Sehabis itu Agus peroleh kerja kembali di sebuah usaha percetakan. Namun, belum sampai sebulan ia sudah keluar. Sebabnya sepele, cintanya ditolak wanita teman kerjanya yang lebih memilih manajer tempatnya bekerja yang dianggap lebih mapan dan lebih dewasa ketimbang Agus.
Agus pun lalu pergi tanpa permisi. Tak pernah masuk kerja lagi dan tidak kasih keterangan apa pun hingga akhirnya ia mendapat pekerjaan di gudang alat berat. Di tempat ini ia merasa cukup betah karena kerjanya hanya mencatat dan menginput laporan dari pemasok saja.
Sayangnya setelah setahun bekerja, kontrak kerja Agus habis karena gudang tempatnya bekerja harus pindah ke kota lain yang jaraknya lumayan jauh. Tak mungkin ia ikut karena terlalu jauh dari rumahnya.
Karena pengalaman beberapa kali gagal dalam pekerjaan inilah yang membuat Agus jadi malas untuk mencari kerja kembali, walaupun sebetulnya ada niat di hatinya untuk mencari kerja kembali. Sebab tidak mungkin ia hidup selamanya bergantung pada orang tua. Namun, ia dihantui ketakutan bahwa pekerjaan barunya nanti akan berakhir dengan ketidakcocokan yang sama sehingga membuatnya harus berhenti kerja lagi dan balik jadi pengangguran.
Agus ingin mempunyai pekerjaan yang memiliki lingkungan yang cocok dan sesuai dengan kemampuannya. Meskipun, hal tersebut terasa sulit untuk Agus yang tidak memiliki koneksi dan pengalaman kerja yang masih minim.
Sembari melihat-lihat padi di sawah. Agus mengambil bungkus rokok yang ia beli kemarin, diintipnya masih tersisa dua batang. Lalu diambilnya sebatang dan dinyalakan. Dihisapnya rokok kretek itu dalam-dalam sambil menikmatinya.
Waktu sedang menikmati rokoknya. Lewatlah Pak Dadang, tetangganya yang tampak sedang menggembalakan bebek-bebek miliknya. Ketika melihat Agus di bale, si Pak Dadang pun lantas menyapa, “Hai Gus, kamu sedang apa sendirian di sini?”
“Sedang duduk santai saja, Pak. Rencana mau jalan ke kota cari kerja,” jawab Agus santai.
“Wah, bagus itu. Semoga segera dapat ya,” ujar Pak Dadang menyemangati.
“Terima kasih, Pak. Eh, itu ngomong-ngomong bebeknya tambah banyak saja,” kata Agus dengan rasa penasaran.
“Iya, kebetulan anakan bebek yang beberapa bulan lalu menetas kini sudah besar. Itu sebabnya bebeknya tambah banyak,” jelas Pak Dadang sembari pamit melanjutkan kegiatan menggembala bebek.
Agus kembali melamun sambil melihat bebek-bebek Pak Dadang. Waktu melihat bebek terakhir Pak Dadang yang bertubuh gemuk dan lambat mengejar kerumunannya, mendadak Agus jadi teringat tentang cerita mitos bebek emas di desanya.
Menurut cerita yang beredar, siapapun yang bisa memiliki bebek emas akan menjadi kaya raya dan selalu beruntung. Konon, bebek emas itu selalu menjauh dari keramaian dan hanya orang beruntung saja yang bisa menemukannya.
Selain itu bebek emas itu tiap bertelur, telurnya terbuat dari emas. Baik bebek emas maupun telur emas dihargai sangat mahal bagi peminatnya bisa ratusan juta sampai miliaran.
“Andai aku bisa memiliki bebek emas itu, aku pasti kaya raya. Tidak perlu cari-cari kerja seperti sekarang,bisa beli rumah besar dan sawah yang berhektar-hektar. Tidak dimarahi Emak terus-terusan dan yang paling kuimpikan bisa melamar dan menikahi Lilis,” gumamnya sambil melamun membayangkan wajah cantik Lilis, kembang desa yang merupakan gadis pujaannya.
Pada saat sedang melamun tiba-tiba seekor bebek lewat. Tadinya Agus pikir itu bebek Pak Dadang yang tertinggal. Namun, ia melihat bulu bebek itu kuning berkilauan. Paruh, kepala, dan kakinya tampak berwarna emas.
Agus hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bebek emas yang baru dipikirkannya muncul di hadapannya. Ia pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan bersiap menangkap bebek keramat itu. Sayangnya, saat didekati, bebek itu langsung lompat dan berlari. Agus pun lantas mengejar. Sayangnya si bebek berlari dengan cepat, Agus pun hampir kewalahan.
Si bebek bergerak ke sana kemari dengan lincah. Ia lalu melompat ke gerobak sayur Mang Oong yang sedang diparkir di pinggir jalan. Agus yang ingin cepat menangkap bebek itu pun akhirnya menabrak gerobak itu sampai jatuh. Sebagian sayuran dan cabe pun jatuh berceceran di tanah.
Mang Oong yang kebetulan ada di situ pun menjadi kesal lantas memaki, “Punya mata enggak kamu Gus? Main tabrak saja gerobak orang!”
Untungnya, sayur dagangan Mang Oong laris manis hari ini. Jadinya, sayur yang dijatuhkan Agus cuma sedikit.
Agus lanjut mengejar bebek emas. Larinya kian cepat, kali ini si bebek masuk ke perkebunan tebu milik warga.
Si bebek lalu berbelok ke halaman depan rumah Bi Ijah yang terdapat jemuran yang baru saja dicuci. Si bebek yang lincah berlari ke arah jemuran.
Otak Agus yang sudah dikuasai ambisi ingin kaya raya terlalu fokus mengejar si bebek hingga tubuhnya menubruk jemuran yang masih basah sampai pakaian yang mau dikeringkan itu jatuh ke tanah.
“Aduh pakaian saya jadi kotor lagi, Agus!” Teriak Bi Ijah marah.
Seperti sebelumnya si Agus tak peduli. Ia terus mengejar bebek emas yang sangat lincah itu. Mungkin, karena statusnya sebagai bebek keramat maka larinya pun sangat kencang dan sulit ditangkap.
Pengejaran berlanjut saat si bebek akhirnya diam di atas sebuah batu besar di dekat parit. Hal ini pun tidak disia-siakan Agus yang pantang menyerah. Dengan perlahan-lahan dia dekati tempat bebek itu bertengger.
Agus pun merentangkan tangan untuk menangkap, tetapi saat hendak membekuk si bebek, mendadak hewan itu lompat dan berlari. Sementara Agus kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke samping kiri batu yang terdapat tai kebo. Bajunya pun kotor dan belepotan terkena tai kebo. Namun, seperti orang kesetanan, Agus terus mengejar bebek emas itu. Kali ini si bebek tampak naik di atas kandang ayam punya Pak Ending.
Lantaran sudah dikuasai emosi, Agus pun menerjang si bebek yang berakibat hancurnya kandang ayam Pak Ending. Ayamnya pun kabur berlarian meninggalkan kandang yang telah hancur. Sementara si bebek makin kabur menjauh. Agus pun jadi kehilangan jejak.
Akhirnya Agus berhasil menemukan si bebek emas sedang naik ke dahan pohon besar yang tepat di atas kali. Agus pun naik ke atas pohon tersebut. Si bebek kini berada di ujung dahan, tidak ada jalan lari lagi.
“Kini kau sudah terpojok, mau lari ke mana lagi kau. Sebentar lagi aku akan kaya raya dan terpandang,” kata Agus penuh kemenangan.
Dengan langkah yang pelan, tapi pasti, Agus pun mendekati si bebek emas dan “hap” bebek pun berhasil masuk dalam genggaman Agus sehingga akhirnya tertangkap. Namun, baru sebentar Agus merasa senang, tiba-tiba “krak” dahan pohon yang sudah tua itu pun patah. Agus pun terjatuh ke dalam sungai di bawahnya. Bebek pun terlepas.
Agus hanya bisa berteriak panik. Setelah itu ia tak menyadari apa-apa lagi. Tubuhnya pun hanyut terbawa aliran sungai yang deras. Ketika sadar, ia sudah berada di pinggir sungai ditolong beberapa orang.
“Gus …Agus bangun. Sadar Gus.”
Agus sepertimengenali suara itu. Agus pun membuka mata bersamaan dengan memuntahkan air sungai yang banyak ia telan. Ketika sudah sadar penuh. Ia menyadari kalau yang memanggilnya tadi adalah Acep, sahabat baiknya sedari kecil.
Ternyata, Aceplah yang menolong Agus bersama beberapa warga kampung. Ia juga yang memompa dada Agus dan memberi napas buatan,supaya Agus sadar.
“Sudah sadar kamu Gus. Bagaimana kondisimu?” Tanya Acep.
Agus yang sudah sadar teringat kembali dengan bebek emas yang ia kejar tadi. Ditengoknya kanan kiri dan didapatinya bebek itu sedang dipegang oleh si Mamad yang kebetulan ikut mengerumuni. Sontak si Agus berupaya mengambil bebek itu dari tangan Mamad.
“Itu bebek emas punyaku. Kembalikan Mad,” pinta Agus.
“Enak saja bebek punyamu. Ini punyaku,” balas Mamad.
“Kamu jangan culas, Mad! Aku tahu kamu juga menginginkan bebek emas itu karena itu bebek keramat, bisa mendatangkan kekayaan,” Agus pun mulai gusar dan ingin mendekati Mamad untuk merebut bebeknya. Acep dan orang-orang disekelilingnya segera menahannya, takut terjadi pertikaian antara Agus dan Mamad.
Mamad yang merasa kesal dengan sikap Agus pun berkata, “Bebek keramat gundulmu ijo! Ini itu bebek biasa yang aku cat warna kuning keemasan buat lomba besok. Lagipula, kamu masih percaya saja sama mitos bodoh yang sudah ketinggalan zaman itu.”
Akhirnya baik Acep atau Mamad menjelaskan, kalau bebek itu akan dipergunakan buat festival bebek hias besok. Karena temanya bebek hias, jadilah si Mamad mengecat bebek miliknya dengan warna kuning keemasan supaya tampak berkilau dan estetik. Sayangnya, setelah dicat bebeknya kabur dan menghilang. Ternyata bebek tersebut malah ditemukan oleh Agus dan dikejarnya.
Pada saat Mamad dan Acep beserta beberapa warga yang ikut, pergi mencari bebek tersebut, tanpa sengaja mereka menemukan tubuh Agus yang hanyut di sungai dan secara kebetulan bebek yang dicari-cari itu ada di dekatnya.
Si Acep juga menjelaskan bahwa mitos bebek emas itu tidak nyata dan hanya cerita masa lampau di desa tersebut yang sulit dibuktikan. Faktanya, sejak dulu tidak pernah ada yang melihat dan mengetahui keberadaan bebek emas. Cuma Agus satu-satunya orang yang melihat, itu pun bebek emas imitasi.
Kemudian, Acep mengajak Agus pergi. Sebagian orang di situ ada yang menertawakan Agus karena tindakan bodohnya. Sepanjang perjalanan pulang, Agus juga menyampaikan keluh kesahnya pada Acep tentang dilema dan keinginannya mencari kerja kembali, ia takut memperoleh kerja yang tidak cocok dan tidak sesuai dengan kemampuannya.
Si Acep yang kebetulan sedang membuka bisnis keripik kulit dan distributor buah-buahan menawarkan Agus untuk bekerja padanya. Kebetulan, ia sedang butuh orang buat bantu-bantu. Tanpa pikir panjang, Agus pun menyanggupi. Ia merasa senang bisa bekerja dengan orang yang sudah mengenal dirinya dengan baik.
Sebelum pulang, Agus pun menyempatkan bertemu dengan orang-orang yang tak sengaja ia ganggu waktu mengejar bebek emas tadi dengan ditemani Acep.
Mang Oong dan Bi Ijahmemilih memaafkan dan tidak menuntut ganti rugi. Meskipun demikian Bi Ijah menyampaikan kekesalannya pada Agus karena harus mencuci lagi semua bajunya akibat ulah Agus.
Sementara Pak Ending walau memaafkan, ia tetap menuntut ganti rugi untuk perbaikan kandangnya dengan jumlah ratusan ribu. Beruntungnya Agus, si Acep sahabatnya yang baik hati bersedia untuk menanggung biayanya.
Untungnya ayam-ayam Pak Ending yang sempat lari bisa dikumpulkan kembali. Jika tidak, mereka harus mengganti juga ayamnya yang pastinya buat biaya ganti ruginya jadi lebih mahal. Kemudian Acep mengajak Agus pulang dengan membonceng motornya.
“Sekarang mending kamu pulang, Gus. Lalu bersih-bersih badanmu bau tai kebo, tuh,” ujar Acep sambil tertawa.
Si Agus pun hanya tersenyum masam. Membayangkan kekonyolannya tadi mengejar bebek yang membuatnya sampai jatuh ke bekas berakan kebo. Agus juga berpikir bodoh juga ia tadi mau mati-matian mengejar bebek emas sampai harus nyemplung ke sungai yang deras.
Dari peristiwa barusan Agus menyadari kalau mau sukses tidak bisa hanya mengandalkan keajaiban dan cara instan. Butuh proses dan kerja kerasdengan waktu yang panjang. Bukan dengan mengharapkan bebek emas karena kenyataannya tidak ada bebek emas. Justru yang ada cuma bebek hias punya Mamad yang dikira bebek keramat oleh Agus.
Di perjalanan pulang di atas motor, Acep berkata pada Agus, “Gus, nanti malam mau ikut aku enggak?”
“Mau ke mana?” Tanya Agus balik.
“Kita cari bebek, tapi bukan bebek emas, melainkan nasi bebek di warung dekat ujung jalan desa,” jawab Acep.
Agus dan Acep lalu tertawa.
Semenjak saat itu Agus bekerja membantu usaha Acep. Agus pun kini menjadi orang yang tekun dan rajin serta tidak pernah telat bangun pagi. Kini Agus mulai membangun dan menatap hidupnya dengan lebih realistis.
***
Judul: Bebek Emas
Pengarang: Bimo Murdiadi
Editor: Jumari Haryadi