PISAU SASTRA (PISTRA), Rubrik OPINI, Rabu (17/06/2026) – Tulisan berjudul “Ketika Umpatan Menjadi Hiburan: Potret Hilangnya Budi Pekerti pada Zaman Now” ini adalah sebuah artikel populer karya Jumari Haryadi atau biasa disingkat J. Haryadi. Ia merupakan seorang penulis, jurnalis, pendiri Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) Indonesia dan Komunitas Penulis Cimahi (Kompeni).
Di sebuah warung kopi, di ruang obrolan WhatsApp, di kolom komentar media sosial, atau di tengah forum yang mengaku paling intelektual sekalipun, kita sering menemukan pemandangan yang sama: orang begitu mudah mengumpat, menghujat, dan menghakimi orang lain. Kata-kata kasar meluncur tanpa rem. Kritik berubah menjadi caci maki. Perbedaan pendapat menjelma menjadi permusuhan, seolah-olah dunia ini dipenuhi hakim yang merasa dirinya paling benar, sementara orang lain selalu berada di kursi terdakwa.
Fenomena ini bukan lagi sesuatu yang langka. Ia telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat modern. Bahkan, dalam banyak kasus, umpatan dan hujatan justru menjadi tontonan yang menghibur. Semakin keras seseorang menyerang orang lain, semakin banyak perhatian yang ia dapatkan. Semakin pedas kalimat yang diucapkan, semakin besar kemungkinan mendapat tepuk tangan dari kelompok yang sepemikiran.

Jika direnungkan lebih dalam, manusia sesungguhnya adalah makhluk yang penuh kekurangan. Tidak ada seorang pun yang lahir dengan kesempurnaan. Setiap orang memiliki kelemahan, kesalahan, dan sisi gelap yang mungkin tidak diketahui orang lain. Namun anehnya, ketika melihat kekurangan orang lain, kita sering bertindak seolah-olah diri kita adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan Tuhan. Merasa paling mulia. Merasa orang lain tidak lebih baik dari diri kita.
Ada sebuah ungkapan bijak yang mengatakan bahwa mata dapat melihat segala sesuatu kecuali dirinya sendiri, seperti pepatah mengatakan, “Gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang lautan tampak.” Begitulah manusia. Ia begitu tajam melihat kesalahan orang lain, tetapi sering kali rabun ketika harus melihat kekurangan dirinya sendiri.
Melihat kekurangan orang lain memang mudah. Tidak memerlukan ilmu tinggi. Tidak memerlukan latihan khusus. Bahkan, seseorang yang tidak mengenal siapa pun dapat dengan cepat menemukan sesuatu yang dianggap salah dari orang lain. Justru yang sulit itu adalah melihat kebaikan dan kelebihan orang lain, serta mau mengakui bahwa orang lain mungkin memiliki sesuatu yang tidak kita miliki.
Dalam psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai bias negatif, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih memperhatikan hal-hal buruk dibandingkan hal-hal baik. Oleh karena itu jangan heran kalau berita buruk lebih cepat menyebar daripada kabar baik. Kesalahan kecil seseorang bisa terus diingat dengan mudah, tetapi puluhan kebaikannya bisa dilupakan begitu saja.
Media sosial kemudian memperbesar kecenderungan tersebut. Platform digital yang seharusnya menjadi sarana berbagi pengetahuan dan mempererat silaturahmi, sering berubah menjadi arena pertarungan ego. Banyak orang merasa memiliki kebebasan tanpa batas untuk berkomentar apa saja. Jari-jari bergerak lebih cepat daripada hati dan pikiran. Sebelum sempat merenung, kalimat bernada hinaan sudah terlanjur dikirim.
Ironisnya, banyak pelaku hujatan merasa dirinya sedang membela kebenaran. Mereka menganggap kemarahan adalah bentuk keberanian. Mereka mengira kata-kata kasar adalah simbol ketegasan, padahal tidak semua yang keras itu benar dan tidak semua yang lembut itu lemah. Kita harus cerdas dan bijak dalam menyikapinya.
Dalam budaya nusantara, khususnya budaya Sunda, dikenal konsep silih asah, silih asih, dan silih asuh. Tiga nilai yang mengajarkan manusia untuk saling mencerdaskan, saling mengasihi, dan saling membimbing. Nilai-nilai itu lahir dari kesadaran bahwa kehidupan tidak dibangun oleh kebencian, melainkan oleh penghormatan terhadap sesama.
Sayangnya, nilai-nilai tersebut perlahan mulai terkikis. Banyak orang lebih bangga menunjukkan kemarahan daripada kebijaksanaan. Lebih senang memenangkan perdebatan daripada menemukan kebenaran. Lebih tertarik mempermalukan orang lain daripada memperbaiki keadaan.
Menyikapi fenomena tersebut, terlintas sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik, “Apakah kita perlu kembali ke bangku sekolah dasar (SD) untuk belajar budi pekerti seperti dahulu?”
Pertanyaan itu tentu bukan ajakan untuk benar-benar kembali mengenakan seragam SD. Namun, ada pesan yang patut direnungkan. Dahulu, pendidikan tidak hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Anak-anak juga diajarkan sopan santun, menghormati orang tua, menghargai perbedaan, serta menjaga ucapan. Nilai-nilai itu mungkin terdengar kuno bagi sebagian orang, tetapi justru menjadi fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Kemajuan teknologi ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan kemajuan karakter. Kita memiliki telepon pintar yang mampu terhubung ke seluruh dunia dalam hitungan detik, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan untuk memilih kata yang pantas diucapkan. Kita mampu mengakses jutaan informasi, tetapi sering gagal mengendalikan emosi sendiri.
Pada akhirnya, peradaban tidak diukur dari seberapa canggih teknologi yang dimiliki manusia. Peradaban diukur dari bagaimana manusia memperlakukan sesamanya. Ketika hujatan menjadi bahasa sehari-hari dan umpatan dianggap hal biasa, sesungguhnya ada sesuatu yang sedang retak dalam fondasi kemanusiaan kita.
Mungkin sudah saatnya setiap orang melakukan introspeksi sebelum menghakimi. Menengok ke dalam diri sebelum menunjuk kesalahan orang lain. Sebab bisa jadi, orang yang paling keras menghujat justru sedang menyembunyikan kelemahannya sendiri. Banyak menghujat orang lain, bisa jadi dirinya sendiri memang pantas dihujat juga. Namun, apakah orang yang sering menghujat itu, dirinya juga siap dihujat juga oleh orang lain?
Dunia tidak membutuhkan lebih banyak penghujat. Dunia membutuhkan lebih banyak manusia yang mampu menghargai, memahami, dan memuliakan sesamanya. Sebab kata-kata yang baik tidak hanya menyenangkan telinga, tetapi juga mampu menyembuhkan luka yang tidak terlihat.
Dalam kondisi negara kita yang sedang carut marut ini, alangkah baiknya kita belajar menjaga adab. Berpikir dulu, baru bicara. Jangan banyak bicara sebelum berpikir. Hargai orang lain sebagaimana kita pun ingin dihargai oleh orang lain. Menjaga adab adalah bentuk keberanian yang paling langka.
***
Judul: Ketika Umpatan Menjadi Hiburan: Potret Hilangnya Budi Pekerti pada Zaman Now
Penulis: Jumari Haryadi
Editor: Asep (HC) Arie Barajati