PISAU SASTRA (PISTRA), Rubrik OPINI, Rabu (01/06/2026) – Esai berjudul “Nyanyian yang Menjadi Warisan: Sebuah Catatan tentang Penyair Bambang Suyatno” ini adalah sebuah tulisan karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Di sebuah ruang kebudayaan di Cimahi, seorang penyair bernama Bambang Suyatno membuka kembali lembaran perjalanan hidupnya. Ia bukan sekadar sosok yang menulis puisi, melainkan seorang pengembara yang menapaki jalan panjang sejak masa mahasiswa, ketika idealisme dan gerakan sosial menjadi denyut nadi kehidupan. Dari sana, ia belajar bahwa menulis bukan hanya tentang kata-kata, melainkan tentang keberanian untuk menyuarakan pengalaman, keresahan, dan harapan.
Bambang tumbuh dalam atmosfer yang menuntut konsistensi. Meski harus bekerja di luar dunia seni, ia tidak pernah meninggalkan puisi. Baginya, puisi adalah ruang sunyi yang selalu menanti, tempat ia kembali untuk merawat jiwa. Konsistensi ini bukan sekadar disiplin, melainkan bentuk kesetiaan pada panggilan batin. Ia menulis bukan untuk mengejar tren, melainkan untuk merawat kenikmatan pribadi yang kelak akan menjadi warisan bagi anak cucunya.
Puncak dari perjalanan panjang itu hadir dalam bentuk sebuah antologi berjudul Nyanyian Corona. Buku setebal dua ratus halaman ini lahir dari refleksi mendalam atas pandemi yang mengguncang kehidupan sosial, ekonomi, dan spiritual masyarakat. Dalam bait-baitnya, Bambang tidak sekadar mencatat penderitaan, tetapi juga menghadirkan tafsir baru: Corona sebagai cinta dengan wajah berbeda. Pandemi, bagi Bambang, bukan hanya krisis, melainkan jembatan untuk memahami kembali cara manusia merawat kehidupan.
Puisi-puisi dalam Nyanyian Corona adalah cermin dari pengalaman sehari-hari. Ia menulis tentang kesunyian jalanan, tentang ketakutan yang menyelimuti rumah-rumah, tentang doa yang terucap di tengah keterbatasan. Namun di balik itu semua, ia menyalakan api harapan. Puisi menjadi cara untuk meneguhkan bahwa manusia, meski rapuh, tetap memiliki kekuatan untuk bertahan. Dalam setiap larik, ada ajakan untuk melihat pandemi bukan sebagai akhir, melainkan sebagai kesempatan untuk menata ulang kehidupan.
Bambang juga menegaskan posisinya dalam lanskap sastra. Ia tidak tertarik mengikuti tren baru seperti puisi esai yang ramai dibicarakan. Baginya, menulis puisi adalah kenikmatan pribadi, bukan kompetisi. Ia menolak terjebak dalam arus yang sering kali lebih mementingkan popularitas daripada kedalaman. Sikap ini menunjukkan bahwa ia memilih jalan sunyi, jalan yang mungkin tidak ramai, tetapi penuh makna. Puisi, bagi Bambang adalah pengisi hidup, bukan sekadar karya untuk dipamerkan.
Dalam refleksinya, Bambang menyampaikan harapan sederhana namun mendalam: ia ingin terus mencetak karya dengan idealisme yang sama. Ia ingin menjadikan puisi sebagai kebanggaan keluarga, sebagai warisan yang akan dikenang anak cucunya. Di tengah dunia yang semakin cepat dan sering kali dangkal, ia memilih untuk tetap setia pada kedalaman. Puisi adalah cara ia menjaga martabat, cara ia meneguhkan bahwa hidup tidak hanya tentang materi, tetapi juga tentang makna.
Pembacaan puisi Nyanyian Corona menutup perbincangan dengan kesan yang kuat. Di sana, Bambang menegaskan bahwa Corona adalah jembatan untuk merawat kehidupan dengan cara yang tepat. Puisi menjadi medium untuk menyampaikan pesan itu, medium yang mampu menembus batas waktu dan ruang. Ia tidak hanya berbicara kepada generasi sekarang, tetapi juga kepada generasi yang akan datang. Puisi adalah warisan, dan warisan itu lahir dari kesetiaan pada panggilan batin.
Esai ini adalah potret seorang penyair yang memilih jalan sunyi, yang menulis bukan untuk tren, melainkan untuk kenikmatan pribadi dan warisan keluarga. Bambang Suyatno menunjukkan bahwa puisi masih memiliki tempat penting dalam kehidupan, bahwa di tengah krisis sekalipun, kata-kata mampu menyalakan harapan.
Nyanyian Corona bukan hanya antologi puisi, melainkan sebuah pernyataan: bahwa menulis adalah cara untuk merawat kehidupan, cara untuk memastikan bahwa warisan yang ditinggalkan bukan sekadar benda, melainkan makna.
***
Judul: Nyanyian yang Menjadi Warisan: Sebuah Catatan tentang Penyair Bambang Suyatno
Penulis: Didin Tulus, sang Petualang Pameran Buku
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas Info Penulis
Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.
Aktivitas dan Karir
Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.
Pengalaman Internasional
Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.
Kegiatan Saat Ini
Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.
Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.
***