Cerpen “Fatamorgana Zaman”

PISAU SASTRA (PISTRA), Kolom RUANG KARYA/CERPEN, Senin (15/03/2026) – Cerpen berjudul “Fatamorgana Zaman” ini merupakan karya original dari Febri Satria Yazid  yang sehari-hari berprofesi sebagai seorang pengusaha, penulis, dan pemerhati sosial. Penulis yang berasal dari Sumatra Barat ini merupakan anggota Komunitas Penulis Cimahi (Kompeni) dan Ketua Forum TBM Kota Cimahi Periode 2025-2030.

Sore itu langit tampak pucat, seperti sedang menahan sesuatu yang tak ingin diucapkannya. Arman duduk sendirian di sebuah bangku taman kota. Angin bergerak pelan, membawa aroma tanah yang baru saja diguyur hujan tipis. Di tangannya sebuah gawai kecil masih menyala, memantulkan cahaya dari layar berita dan percakapan yang tak pernah berhenti.

Setiap hari dunia terasa semakin riuh.Ada kabar yang datang seperti badai. Ada opini yang berlarian seperti angin. Semua tampak yakin dengan kebenarannya masing-masing. Orang-orang berdebat, menyanggah, membela, menyerang, seolah kebenaran adalah sesuatu yang bisa dimenangkan oleh suara paling keras.

Febri Satria Yazid
Febri Satria Yazid, penulis/pengarang – (Sumber: BJN)

Arman menghela napas panjang, lalu mematikan gawainya.

“Kadang dunia ini terlalu berisik,” gumam Arman pelan.

Seorang laki-laki tua yang duduk di bangku sebelah menoleh.

“Berisik bagaimana?” tanya laki-laki tua itu ramah.

Arman tersenyum tipis, “Semua orang berbicara seolah mereka paling benar.”

“Ah… itu bukan hal baru. Hanya saja sekarang panggungnya lebih besar,” jawab laki-laki tua itu.

Arman mengangguk pelan. Namun, pikirannya tiba-tiba melayang jauh ke masa kecil. Bertahun-tahun lalu, ketika ia masih kecil, ayahnya pernah mengajaknya menempuh perjalanan panjang melewati daerah tandus. Di tengah perjalanan, Arman kecil melihat sesuatu berkilau di kejauhan.

“Ayah!” Seru Arman dengan mata berbinar, “Lihat! Ada danau di sana!”

Ayah Arman tersenyum sambil tetap mengemudi, “Itu bukan danau, Man.”

Arman mengerutkan dahi, “Lalu apa?”

“Itu fatamorgana,” jawab ayah Arman.

“Fatamorgana?” Arman kecil belum pernah mendengar kata itu, “Kenapa kelihatan seperti air?”

Ayah Arman menoleh sebentar, “Karena mata kita kadang bisa tertipu.”

“Tapi itu jelas-jelas air, Yah,” kata Arman penasaran.

Ayah Arman tertawa lembut, “Tunggu saja. Kita dekati.”

Mobil terus berjalan. Semakin dekat, kilau air itu perlahan memudar dan akhirnya yang tersisa hanyalah hamparan tanah kering.

Arman kecil terdiam lama.

“Tadi… airnya ke mana?” tanya Arman bingung.

Ayah Arman menjawab pelan, “Tidak pernah ada.”

“Lalu kenapa kelihatan ada?” Tanya Arman lagi.

“Karena kadang cahaya bisa membuat ilusi. Mata melihatnya seperti air, tapi sebenarnya bukan,” jelas ayah Arman.

Arman masih terlihat bingung. Ayahnya lalu berkata perlahan, “Man, ingat satu hal. Tidak semua yang tampak indah di kejauhan itu benar-benar nyata.”

Kenangan itu kini terasa begitu dekat. Arman memandang taman kota yang mulai ramai oleh orang-orang yang berjalan pulang dari aktivitas mereka. Beberapa duduk sambil tertawa. Sebagian sibuk berbicara lewat telepon. Sebagian lagi menunduk menatap layar gawai. Di antara mereka, seorang pria tiba-tiba menghampiri Arman.

“Arman?” Tanya pria itu spontan.

Arman menoleh. Wajahnya berubah terkejut.

“Raka?” Tanya Arman setengah tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

Mereka tertawa kecil dan saling berjabat tangan. Raka duduk di sampingnya dengan wajah penuh semangat.

“Aku sering baca tulisanmu,” kata Raka, “Masih menulis yang serius-serius begitu?” Tanya Raka.

Arman tersenyum,  Raka tertawa.

“Sekarang zaman sudah berubah, Man. Orang tidak punya waktu membaca yang berat,” jelas Arman.

“Lalu?” Tanya Raka kembali.

“Buat saja sesuatu yang viral. Itu lebih cepat,” ujar Arman sambil menatap Raka, “Viral belum tentu benar.”

Raka mengangkat bahu, “Yang penting ramai dulu.”

Arman terdiam sejenak.

“Raka, kau masih ingat waktu kita kuliah dulu?” Tanya Arman.

“Tentu Arman,” jawab Raka singkat.

“Kau pernah bilang ingin menulis sesuatu yang membuat orang berpikir,” lanjut Arman.

Raka tertawa kecil, “Itu dulu.”

“Sekarang?” Tanya Arman.

“Sekarang aku ingin terkenal,” jawab Raka sembari menatap wajah temannya itu lama.

“Kenapa?” Tanya Arman kembali.

Raka menjawab tanpa ragu, “Karena di zaman ini, yang terkenal selalu dianggap benar.”

Arman menggeleng pelan, “Kadang yang terlihat besar hanya bayangan.”

Raka menyeringai, “Kau masih seperti dulu, Man. Terlalu idealis.”

Saat mereka berbicara, seorang gadis muda yang duduk tidak jauh dari mereka tampak memperhatikan. Ia mendekat dengan ragu.

“Maaf,” kata gadis muda itu pelan, “Boleh saya ikut duduk?”

Arman mengangguk ramah, “Silakan.”

“Nama saya Lila,” kata gadis itu memperkenalkan dirinya.

Raka tersenyum, “Kami sedang membicarakan dunia yang penuh fatamorgana.”

Lila terlihat tertarik.

“Fatamorgana?” Tanya Lila penuh selidik.

Arman menjelaskan perlahan,“Hal yang terlihat nyata, padahal sebenarnya tidak ada.”

Lila berpikir sejenak, “Seperti popularitas di media sosial?”

Raka langsung tertawa, “Tidak selalu.”

Lila menatap Raka serius, “Tapi sering begitu,” Ia melanjutkan,“Saya melihat banyak orang tiba-tiba terkenal. Semua orang memujinya. Lalu beberapa bulan kemudian hilang begitu saja.”

Arman mengangguk, “Itulah fatamorgana zaman.”

Lila bertanya pelan, “Lalu bagaimana kita tahu mana yang nyata?”

Arman tersenyum samar, “Itu pertanyaan yang sangat penting.”

Raka menyela, “Jawabannya sederhana. Ikuti saja yang ramai.”

Arman menggeleng, “Tidak semua keramaian membawa kita ke mata air.”

Lila menatap Arman penuh rasa ingin tahu, “Lalu bagaimana cara menemukannya?”

Arman berpikir sejenak, “Ayah saya pernah mengatakan sesuatu. ‘Kalau kita kehausan di padang tandus, jangan hanya percaya pada kilau di kejauhan.’ Kenapa? karena tidak semua kilau adalah air.”

Lila mengangguk perlahan, “Jadi kita harus mendekatinya dulu?”

Arman tersenyum, “Lebih dari itu. Kita harus bertanya, berpikir, dan tidak terburu-buru.”

Raka menggeleng sambil tertawa, “Kalau semua orang berpikir lama, tidak ada yang viral.”

Arman menatap Raka dengan tenang, “Mungkin memang tidak semua hal perlu viral.”

Langit kini berubah warna menjadi jingga. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu.

Lila berkata pelan, “Kadang saya takut.“

Takut apa?” Tanya Arman.

“Takut mengejar sesuatu yang ternyata hanya fatamorgana,” jawab Lila.

Arman tersenyum hangat, “Itu ketakutan yang baik.”

“Kenapa?” Tanya Lila.

“Karena orang yang takut tertipu biasanya akan berjalan lebih hati-hati,” balas Arman.

Raka berdiri sambil menepuk bahu Arman, “Aku harus pergi. Ada siaran langsung.”

Arman tertawa kecil, “Semoga sukses.”

Raka melambaikan tangan dan pergi.

Lila memandang ke arah lampu-lampu kota yang berkilau, “Semua tampak indah.”

Arman mengangguk,“Ya.”

“Tapi sekarang saya mulai mengerti,” lanjut Lila, “Tidak semua kilau harus dikejar.”

Arman berdiri dari bangku taman itu. Di kejauhan lampu kota memantul di kaca gedung dan jalan yang basah oleh sisa hujan. Semua tampak berkilau. Namun, kali ini Arman tidak tergesa-gesa mengejarnya. Ia hanya berjalan pelan.

Arman percaya bahwa di suatu tempat yang tidak terlalu ramai, selalu ada mata air yang benar-benar nyata bagi mereka yang bersedia mencarinya dengan hati yang jernih.(fsy).

***

Judul: Fatamorgana Zaman
Jurnalis: Febri Satria Yazid (FSY)
Editor: Jumari Haryadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *