Menyimak Nilai Ekonomi dalam Pementasan Teater

PISAU SASTRA (PisTra), Kolom OPINI, Selasa (16/06/2026) – Artikel berjudul “Menyimak Nilai Ekonomi dalam Pementasan Teater” ini merupakan karya original dari Yoyo C. Durachman, seorang penulis, pengarang, dosen,  sutradara, dan budayawan Cimahi. Saat ini aktif sebagai salah satu anggota Tim Redaksi “PISAU SASTRA”, sebuah media yang fokus menyuarakan tentang sastra.

Semakin mengglobalnya situasi dunia dalam berbagai aspek kehidupan, seperti: sosial, politik, kebudayaan, ekonomi dan teknologi, menuntut setiap Negara yang berada di belahan dunia mana pun untuk mengantisipasinya dengan seksama. Salah satu upaya yang esensial untuk menyongsong fenomena ini adalah memacu peningkatan sumber daya manusia di berbagai sektor kehidupan dan profesi.

Langkah ini secara umum diambil karena sifat dari globalisasi mempunyai nilai yang mendua. Di satu pihak ia mempunyai kemampuan untuk memacu iklim berdemokrasi di setiap negara. Namun, di pihak lain karena faktor kebebasannya.

Yoyo C. Durachman
Yoyo C. Durachman, Penulis – (Sumber: Arie/PMN)

Secara faktual, negara yang kuat akan memangsa negara yang lemah dalam berbagai aspek kehidupan terutama ekonomi, teknologi dan budaya; yang pintar menipu yang bodoh dan yang maju mengekploitir yang terbelakang. Di sini berlaku iklim persaingan yang sangat terbuka. Siapa yang kuat dia yang dapat.

Kebiasaan proteksi, harus dihapuskan secara total. Jadi dalam konteks kebudayaan, khususnya kesenian, lebih khususnya lagi seni teater, dapat saja kebudayaan, kesenian atau seni teater satu bangsa, karena mempunyai kemampuan sumber daya manusia dan manajemen yang memadai, akan mengglobal menguasai bangsa yang lainnya yang lebih lemah. Hal ini sudah terbukti pada kebudayaan dan kesenian Amerika yang mempengaruhi negara-negara lain di dunia.

Kesenian, khususnya seni teater, sebagai bagian dari kebudayaan suatu bangsa tidak akan dapat mengelakkan diri dari arus di atas. Semuanya akan menerpa, baik kehidupan, penyelenggaraan, pementasan maupun sikap hidup para senimannya. Bagi Negara dunia ketiga yang sedang berkembang seperti Indonesia, kenyataan ini menjadi sesuatu yang memberatkan karena dalam kehidupan seni teater Indonesia belum dikenal yang disebut industri kebudayaan.

Kehidupan seni teater di Indonesia, masih ditopang oleh mentalitas agraris dengan segala kebiasaannya. Boleh dikata, seni teater masih sangat jauh dengan segala perihal yang menyangkut industri. Walaupun ada suatu institusi yang dibentuk untuk mengelola kegiatan kesenian, institusi tersebut secara umum masih beroerientasi pada hanya sekedar menjaga kehidupannya/melestarikan, bukan memajukan  secara sosial ekonomi yang mempunyai nilai profit.

Jadi, kegiatan seni teater menjadi tidak mandiri sehingga pada akhirnya suatu ketika akan lumpuh sendiri. Aktivitas seni teater bisa terlaksana apabila ada dana yang mengucur secara cuma-cuma. Apabila tidak ada maka tidak akan ada aktivitas seni teater.

Bila saja kondisi seperti ini didiamkan, apalagi sampai berlarut-larut, maka kehidupan seni teater akan terlindas oleh aktivitas kehidupan yang lainnya, terutama teknologi dan ekonomi. Yang paling parah, dapat saja seni teater kita terlindas oleh arus seni teater yang datang dari luar karena sumberdaya manusianya belum mempunyai kemampuan untuk bertarung di medan globalisasi ini.

Menyimak dari apa yang diuraikan di atas, para aktivis seni teater di Indonesia seperti menyandang beban untuk mengantisipasinya karena secara faktual, para aktivis seni teater didorong untuk membuka peluang dan mempunyai kesadaran dan pengertian terhadap situasi dan kondisi yang dihadapinya. Ini akan berbeda sekali dengan seniman seni teater masa lalu yang berkembang secara mandiri di masyarakat.

Tidak semua dari mereka mempunyai kesadaran yang mendalam terhadap kondisi yang melingkupinya. Meskipun ada, jumlahnya tidak banyak, terutama di kalangan seniman seni teater tradisional. Karena mereka adalah pekerja dan penggiat seni teater yang pola berpikirnya akan berbeda bila dibandingkan dengan aktivis seni teater masa kini, terutama yang mengenyam pendidikan tinggi kesenian secara formal.

Aktivis seni teater masa kini lebih memungkinkan menangani persoalan ini karena pada umumnya mempunyai pengetahuan manajemen, tidak hanya berkutat dalam memproduksi seni teaternya saja. Aktivis seni teater masa kini harus mempunyai kepekaan, menyimak dan kesadaran bahwa kesenian ini perlu dikembangkan bukan hanya nilai-nilai estetikanya saja, tetapi juga nilai ekonominya; nilai yang mempunyai kaitan dengan untung rugi. Obyek yang ditimbangnya adalah “harga” dari suatu barang atau jasa (Mulyana: 2004, 33), dan kegiatan pementasan seni teater termasuk ke dalam katagori jasa.

Seni teater (modern), di tengah-tengah opini masyarakat sudah terlanjur dianggap sebagai media untuk mencurahkan gagasan, cita-rasa artistik/estetika, idealisme dan nilai-nilai filosofis. Dengan demikian, seni teater jauh atau sengaja dijauhkan dari segala sesuatu yang sifatnya komersial (mempunyai nilai ekonomi-bisnis).

Memang, sejak zaman dahulu dimana seni-seni teater tradisional mendominasi peta kehidupan seni teater secara umum, mendapatkan imbalan dari berkiprah dalam seni teater sudah dikenal. Namun, hal ini tidak dijalankan melalui transaksi-transaksi yang sifatnya murni bisnis. Imbalan didapat atas dasar kemurahan hati penerima jasa seni teater saja.

Pementasan Teater berjudul "Tiga Kehidupan", Naskah Lakon Karya: Yasmina Reza, Sutradara: Yoyo C. Durachman, Produksi : Studiklub Teater Bandung (STB)/2005, dipentaskan di Gedung CCF Bandung, GK Dewi Asri ISBI Bandung dan Teater Kecil-Taman Ismail Marzuki (TiM), Jakarta.
Pementasan Teater berjudul “Tiga Kehidupan”, Naskah Lakon Karya: Yasmina Reza, Sutradara: Yoyo C. Durachman, Produksi : Studiklub Teater Bandung (STB)/2005, dipentaskan di Gedung CCF Bandung, GK Dewi Asri ISBI Bandung dan Teater Kecil-Taman Ismail Marzuki (TiM), Jakarta.

Pada zaman modern seperti sekarang pun, sebenarnya dalam jenis dan katagori seni teater tertentu, kebiasaan tersebut relatif tidak berubah. Hal ini terjadi karena munculnya dua katagori dalam seni teater, yaitu seni teater yang komersial dan seni teater yang idealis, seni teater yang dapat dijual dan digemari oleh masyarakat, serta seni teater untuk seni.

Seni teater yang dapat dijual jelas yang mendatangkan keuntungan. Dalam seni teater yang seperti ini, pertimbangan terhadap selera masyarakat sangat memegang peranan, sedangkan seni teater yang idealis adalah seni teater yang hadir berdasarkan ekspresi dan ide-ide/pemikiran seniman penciptanya. Menggapai selera masyarakat tidak menjadi tujuan yang utama. Oleh sebab itu, seni teater seperti ini acapkali tidak komunikatif dengan publiknya dan akibat lebih jauhnya tidak mempunyai nilai ekonomi.

Aktivis seni teater masa kini relatif banyak yang menekuni kedua katagori tersebut di atas. Dengan demikian, setiap aktivis seni teater mempunyai kondisi yang berbeda-beda, baik dalam sosial ekonomi maupun eksistensi kesenimanannya. Hal ini wajar-wajar saja karena setiap seniman, termasuk di dalamnya seniman teater, mempunyai kebebasan untuk memilih jalurnya sendiri secara khusus, dan jalan hidupnya secara umum.

Guna mencapai arah dan sasaran yang lebih berbobot, baik dalam karya seninya itu sendiri, maupun kondisi sosial ekonominya, mempunyai kemampuan berolah seni saja tidaklah cukup. Ia harus mempunyai kemampuan lain yang mempunyai fungsi sebagai penguat, salah satunya adalah kewirausahaan.

Kemampuan berwirausaha ini, pada penerapannya tidaklah mengenal kategorisasi kesenian. Karena kesenian apa pun yang akan diacu, kewirausahaan tetap mempunyai fungsi yang fundamental, hanya starateginya saja yang berbeda.

Dua ketagori seni teater tersebut, pada lahan kewirausahaan secara operasional dapat saja bersilang. Artinya, para aktivis seni teater mengerjakan kedua-duanya untuk saling tunjang-menunjang, baik dari segi sosial, ekonomi maupun eksistensi kesenimanannya.

Sebagai contoh; seniman terkenal Hongaria bernama Cristo yang terkenal dengan karya-karya seni rupa lingkungan yang spektakuler dan selalu menghabiskan dana jutaan dollar dalam setiap pamerannya. Namun, kehidupan sosial ekonominya ditunjang oleh profesi sampingannya sebagai pendesain kartu natal, tahun baru, ulang tahun dan perangko.

Begitu pula dengan Affandi, salah seorang maestro seni rupa Indonesia. Pada awal masa perintisannya sebagai pelukis, ia berprofesi ganda sebagai pembuat poster-poster film bioskop.

Sineas Garin Nugroho yang film-filmnya banyak menerima penghargaan pada berbagai festival film di luar negeri pun seorang penulis, pembuat film dokumenter, iklan, dan video klip.

Demikian pula dengan Goenawan Mohammad, sebagai penyair terkemuka Indonesia saat ini, ia pun seorang wartawan, penulis, dan pernah menjadi pimpinan redaksi Majalah Tempo.

Masih banyak lagi seniman-seniman lain yang serupa itu. Jadi, dari beberapa contoh di atas, kemampuan yang satu dipakainya untuk menunjang eksistesinya dalam bidang kesenimanan yang lain, sedangkan yang satu lagi dipakai sebagai penyangga kehidupan sosial ekonominya, tetapi masih dalam jalur yang sama. Hal ini berjalan secara kontinyu, serta dikerjakan dengan serius.

Di dalam berwirausaha, yang perlu diterapkan dan diasah adalah kepekaan dan kemampuan melihat peluang bidang-bidang apa saja yang dapat dijadikan obyeknya. Kepekaan dan kemampuan ini disebut Entrepreneurship.

Melakukan ini semua bukanlah pekerjaan yang gampang karena sedikit banyak berhubungan dengan bakat, kreativitas, motivasi, dan kebiasaan-kebiasaan. Orang yang tidak peka, tidak kreatif, dan tidak terbiasa mandiri akan sukar berbuat seperti ini. Oleh sebab itu, pada proses berkariernya, aktivis seni teater, perlu menyadari, memikirkan dan mempelajari kewirausahaan secara cermat, tepat dan efisien.

Hal ini perlu dilakukan agar para aktivis seni teater memahami bahwa dalam kondisi seperti sekarang ini, wawasan dan kemampuan berwirausaha memegang peranan yang penting. Jangan sampai mereka terlalu terlena dalam berkarya dengan menyandarkan diri pada subsidi dari pemerintah karena pada sektor ini pemerintah mengupayakan dukungan pembiayaannya sangat minimal.

Ada asumsi yang melekat kuat pada aktivis seni teater selama ini, bahwa idealisme dalam pementasan teater tidak ada sangkut pautnya dengan urusan nilai ekonomi. Atau, seni teater yang diciptakan dengan berlandaskan ekspresi seni yang sifatnya mempribadi, apabila disangkut pautkan dengan nilai ekonomi dan bisnis maka nilai-nilai seni/estetika yang ada di dalamnya akan berkurang. Bahkan, mungkin sama sekali tidak nampak.

Asumsi-asumsi di atas, untuk saat ini tidak relevan lagi karena selain sarana dan biaya untuk dapat dipentaskannya sebuah karya, seni teater menjadi semakin mahal, para pengayom seni- termasuk di dalamnya pemerintah pun yang biasanya mensponsori kegiatan kesenian, seperti halnya zaman dahulu, sekarang hampir dipastikan sudah tidak ada lagi atau menghadapi keterbatasan dana sehingga dana yang ada harus dihibah bersaingkan.

Para pengayom itu sekarang sudah berubah bulu dan warna; tidak hanya sekedar hobi dan upaya pelestarian saja, tetapi sudah menjurus kepada mencari keuntungan finansial. Situasi ini jelas akan memojokkan seni teater yang tidak mempunyai nilai ekonomi karena tidak digandrungi dan diminati oleh masyarakat, padahal keberadaannya tetap diperlukan sebagai dinamika karya cipta kebudayaan.

Jika dilihat dari sudut pandang yang lain, sebenarnya tidak dapat disalahkan apabila ada aktivis seni teater yang berpendapat seperti di atas karena mungkin mereka kurang mempunyai kepekaan dan kesadaran terhadap situasi dan kondisi yang dihadapinya. Oleh sebab itu, di sinilah tugas pengamat, pengkaji seni teater dan kebudayaan yang menaruh perhatian dan memahami masalah kewirausahaan dan atau manajemen produksi seni teater untuk memberikan pengertian dan penjelasan secara seksama. Penjelasan ini penting untuk menetralisir asumsi-asumsi yang mendua tentang kehidupan seni teater di Indonesia seperti yang diuraikan di atas.

Apabila aktivis seni teater sudah diberi penjelasan dan memahami situasi dan kondisi yang dihadapinya serta tahu apa yang harus diperbuatnya, diharapkan sikap dan cara berpikir mereka terhadap pentingnya kewirausahaan akan semakin terbuka. Dengan demikian, produktivitas dan kualitas karya cipta seni teater akan semakin semarak.

Dari kesemarakan inilah diharapkan tumbuh kemampuan para aktivis seni teater dalam memecahkan segala persoalannya sendiri berkenaan dengan pendayagunaan kreativitas penciptaannya. Selain itu, kehidupan seni teater itu sendiri senantiasa akan semakin termotivasi oleh lahirnya karya-karya baru sementara karya- karya seni teater lama tetap dapat terjaga keberadaannya.

Walaupun sama-sama berurusan dengan nilai ekonomi dan bisnis, tetapi ada satu hal yang mendasar yang membedakan antara sifat-sifat manajemen bisnis ekonomi yang menargetkan diri pada keuntungan final dalam produknya dengan manajemen seni yang dalam prosesnya mengacu kepada suatu tujuan untuk mencapai pada suatu sistem nilai. Perbedaan target akhir dari apa yang hendak dicapai dengan kerangka konsep manajemen inilah yang memisahkan jarak antara disiplin manajemen bisnis ekonomi dengan manajemen kesenian (Harjana, 1995: 1).

Pendapat yang dikemukakan Suka Harjana di atas, sangat jelas menyiratkan perbedaan yang mendasar antara manajemen bisnis yang mengacu pada nilai ekonomi semata dengan manajamen seni karena target akhir manajemen seni diharapkan tetap mampu mengapungkan suatu sistem nilai maka dengan demikian perlu dipikirkan dan diupayakan agar pesoalan manajemen seni, khususnya seni teater, baik secara teoritis maupun praktis dapat menampilkan suatu kekhasan.

Salah satu kekahasan itu adalah harus tetap dipegangnya anutan-anutan sistem tata nilai proses kreatif berkesenian itu sendiri, di samping nilai ekonomi. Dalam pengertian, seni teater tetap sebagai dunia ide, gagasan, perasaan dan ekspresi. Dengan demikian, prinsip manajemen seni teater adalah bukan seni teater apa yang akan dijual, tetapi bagaimana cara mengelola dan menjual produk seni teater yang sudah dilahirkan.

Dalam persfektif ini, dari segi proses kreatif jelas relatif banyak aktivis seni teater yang sudah memahami dan menguasainya. Namun, bagaimana hasil proses kreatif yang membuahkan karya seni teater itu dapat dikomunikasikan kepada masyarakat secara proporsional untuk mampu memberikan imbalan secara finansial? Inilah yang menjadi persoalan.

Tidak jarang, pementasan-pementasan seni teater, dilihat dari segi pemasarannya sudah salah orientasi. Seni teater yang seharusnya dikonsumsi oleh orang dewasa, misalnya, dipentaskan di hadapan pelajar Sekolah Dasar (SD).

Kesalahan orientasi di atas, paling sedikit disebabkan oleh dua kemungkinan: pertama, ia tidak memahami seluk beluk manajemen seni pertunjukan teater secara benar; kedua, besarnya faktor ego dari seniman penciptanya.

Faktor ego yang terlalu besar dapat mendorong ke kemungkinan agar produk karya seni teaternya diapresiasi oleh seminimal mungkin penonton. Dalam hal ini, faktor apresiator (penikmat karya seni teater) boleh dikata dilecehkan. Mereka tidak dipercaya untuk mampu mengapresiasi karya seni teater yang diciptakannya. Oleh sebab itu, tidak bisa tidak, saat ini merupakan momentum yang sudah tidak dapat ditawar lagi bagi aktivis seni teater untuk mengetahui dan menguasai masalah kewirausahaan.

***

Daftar Pustaka

  • Naisbit, John & Patricia Aburdene. 1990. Megatrends 2000. Jakarta: Binarupa Aksara. Naisbit, John. 1994. Global Paradox. Jakarta: Binarupa Aksara.
  • Suka Harjana. 1995. Seni Pertunjukan Indonesia. Yogyakarta: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia [MSPI].
  • Rohmat Mulyana. 2004. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta. Sztompka, Piotr. 2007. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada

Judul: Menyimak Nilai Ekonomi dalam Pementasan Teater
Pengarang: Yoyo C. Durachman
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas tentang penulis

Yoyo C. Durachman adalah seorang seniman dan budayawan Cimahi yang multitalenta. Pria kelahiran Bandung, 21 September 1954 ini dikenal sebagai dosen, aktor, sutradara, penulis, pengarang, dan budayawan.

Selama karirnya dalam dunia teater, tidak kurang dari 30 pementasan telah dilakukan Yoyo dengan kapasitas sebagai sutradara, pemain, penata pentas, konsultan, dan pimpinan produksi. Naskah drama berjudul “Dunia Seolah-olah” adalah naskah drama yang ia tulis dan dibukukan bersama naskah drama lain milik Joko Kurnain, Benny Johanes, Adang Ismet, Arthur S. Nalan, dan Harris Sukristian.

Pensiunan dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung ini kini sering diundang sebagai juri maupun sebagai narasumber diberbagai kegiatan kebudayaan. Selain itu, Yoyo juga aktif sebagai anggota Tim Redaksi PISAU SASTRA.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *