PISAU SASTRA (PisTra), Kolom Ruang Karya/Cerpen, Sabtu (20/06/2026) ─ Cerpen berjudul “Teori Relativitas Kantong Celana” ini merupakan hasil karya Dimas Saputera atau akrab disapa “Adiem”, lulusan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia.

Sumber Gambar: Generated by AI
Bagi sebagian besar umat manusia, sebuah kantong celana adalah penemuan jenius yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara. Ponsel, kunci rumah, atau beberapa lembar uang kertas bisa masuk dan keluar dengan damai. Namun, bagi Reno, kantong celana adalah sebuah anomali ruang dan waktu—sebuah lubang hitam mini yang memiliki satu misi tunggal: menghancurkan estetika kabel earphone miliknya. Reno lebih menyukai memakai perangkat jemala yang berkabel dibandingkan dengan TWS yang nirkabel dan menggunakan koneksi Bluetooth.
Sore itu di sebuah kafe, Reno duduk dengan napas yang memburu. Tangannya perlahan merogoh saku kanan jinsnya, lalu menarik keluar seonggok benda putih yang sudah tidak lagi berbentuk kabel lurus. Benda itu telah bermutasi menjadi gumpalan rumit yang menyerupai mi instan mentah atau simpul pramuka tingkat pandega yang dikerjakan oleh laba-laba yang sedang frustrasi.
“Ndi, liat ini,” ujar Reno, suaranya bergetar menahan geram. Ia menyodorkan gumpalan itu ke depan wajah Andi, temannya yang sedang asyik menyeruput es kopi gula aren, yang telah duduk dan datang lebih dulu dibandingkan Reno.
Andi hanya melirik sekilas, lalu mengangkat bahu. “Ya elah, Ren. Cuma kabel kusut. Tinggal ditarik dikit juga beres. Kenapa muka lu kayak habis ngeliat hantu?”
Di sinilah letak jurang pemisah antara Reno dan seluruh dunia. Bagi Andi dan jutaan orang santai lainnya kabel kusut adalah dinamika hidup yang lazim. Selazim matahari yang terbit dari arah timur dan tenggelam di barat. Selazim emak-emak yang naik motor belok kiri tapi lampu sign menyala ke kanan. Fenomena sepele yang bisa diselesaikan dalam hitungan detik tanpa perlu melibatkan emosi. Namun, bagi Reno, ini adalah masalah prinsip, sebuah penghinaan terhadap logika manusia.
“Kamu gak paham argumenku, Ndi,” kata Reno, matanya menatap tajam gumpalan kabel itu seolah benda mati tersebut sedang menantangnya duel. “Secara sains dan logika, ini gak masuk akal. Satu jam yang lalu, aku menggulung kabel ini dengan presisi tinggi. Aku pakai teknik lingkaran sempurna, lalu aku selipkan ujungnya dengan rapi. Aku memasukkannya ke kantong selembut mungkin, seperti menidurkan bayi.”
Reno mengetuk meja dengan jarinya, memulai argumen deskriptifnya yang berapi-api.
“Tapi begitu masuk ke dalam kantong yang gelap itu, terjadilah hukum rimba. Bagaimana bisa sebuah benda mati, tanpa adanya intervensi tangan manusia, tanpa adanya mesin penggerak, bisa menciptakan delapan simpul mati yang berbeda dalam tiga ribu enam ratus detik? Aku bahkan gak tahu cara bikin simpul mati di dunia nyata, Ndi! Tapi saku celanaku entah bagaimana punya gelar profesor di bidang tata ruang dan simpul-menyimpul!”.
Andi tertawa geli, menganggap sahabatnya sudah mulai kehilangan kewarasan akibat tekanan kerja. “Lu terlalu overthinking, Ren. Itu kan cuma efek gesekan pas lu jalan.”
“Nah, itu dia!” potong Reno cepat. “Kalau cuma gesekan, harusnya polanya acak dan longgar. Tapi liat ini! Ini bukan longgar, ini konspirasi. Ini sebuah inkonsistensi. Ini sebuah paradoks. Kabel ini sengaja mengikat dirinya sendiri karena mereka punya ego. Dia tahu manusia modern sangat bergantung pada mereka untuk mendengarkan musik untuk healing atau meredakan stres, makanya dia menyiksa kita dulu lewat ujian kesabaran ini.”
Dengan hati-hati, layaknya seorang personel jihandak, seperti seorang ahli bom yang sedang menjinakkan hulu ledak, Reno mulai menarik satu ujung kabel. Ia menolak bantuan Andi karena ia tahu, sentuhan tangan orang luar yang tidak sinkron justru akan membuat simpul itu semakin mengunci secara permanen.
Selama sepuluh menit berikutnya, meja kafe itu menjadi saksi bisu perjuangan seorang pria melawan hukum fisika kantong celana. Kening Reno berkeringat. Setiap kali satu simpul berhasil diurai, dua simpul lain tampak semakin mengetat di bagian bawah. Rasanya seperti memotong kepala Hydra; hilang satu, tumbuh dua. Sedangkan americano panas yang telah diantarkan pelayan lima menit yang lalu sudah semakin dingin.
Orang-orang di sekitar mereka mungkin akan menganggap Reno aneh. Di dunia yang sedang menghadapi krisis global, perubahan iklim, karut marut embege, harga Pertamax yang naik jadi 16.250 rupiah, Piala Dunia Meksiko, dan ancaman inflasi 2027, ada seorang pria dewasa yang hampir menangis hanya karena kabel earphone. Tapi bagi Reno, jika manusia tidak bisa mengendalikan kerapian kabel di dalam kantongnya sendiri, bagaimana mungkin manusia bisa mengendalikan takdir dunia? Setidaknya begitu pemikiran Konfusianisme, seorang filsuf Timur yang Reno sering baca pemikirannya, bahwa seseorang tidak akan pernah bisa menyelaraskan dunia jika kehidupan pribadinya sendiri masih berantakan.
Klik.
Simpul terakhir akhirnya lepas. Kabel itu kembali lurus, menjuntai pasrah. Reno menghela napas lega, senyum kemenangan terukir di wajahnya. Ia berhasil membuktikan bahwa rasionalitas manusia masih bisa menang melawan anarki kantong celana.
Dengan bangga, Reno memasangkan kedua sumbat kabel itu ke telinganya, lalu menyambungkan ujung jack-nya ke ponsel. Membuka aplikasi pemutar musik, memilih salah satu lagu dari Frank Sinatra, lalu menekan tombol play, siap menikmati buah dari perjuangannya.
Satu detik. Dua detik.
Senyum Reno perlahan pudar. Wajahnya berubah menjadi pucat, lalu berangsur-angsur mengeras menahan amarah yang jauh lebih besar.
“Kenapa lagi lu?” tanya Andi heran melihat perubahan drastis wajah temannya.
Reno melepaskan earphone itu dengan tangan gemetar. “Suaranya… cuma keluar sebelah kiri. Yang kanan mati.”
Andi terbahak-bahak sampai tersedak es kopinya, sementara Reno hanya bisa menatap langit-langit kafe, merenungi kenyataan pahit bahwa dalam pertempuran melawan kabel, benda mati selalu punya cara untuk tertawa paling akhir.
***
Judul: Teori Relativitas Kantong Celana
Pengarang: Dimas Saputera
Sekilas tentang Pengarang
Dimas Saputera adalah nama pendek dari Dimas Handi Hijrah Saputra. Pria kelahiran 1982 ini, pada suatu ketika pernah belajar dan lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia.
Dalam perjalanan hidupnya, Dimas pernah menjadi mentor tingkat SD dan SMP untuk pelajaran Bahasa Indonesia pada salah satu Bimbingan Belajar besar di Bandung. Selepas dari itu, sejak 2009 s.d. sekarang pernah bekerja di berbagai penerbit dan percetakan buku, sebagai editor, layouter, desainer cover, hingga sebagai marketing dan admin.
Kini memilih menjadi pekerja freelance di berbagai Penerbit. Dimas juga aktif di beberapa komunitas kepenulisan maupun sosial. Sampai saat ini tercatat sebagai anggota Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) Bandung Raya, Sekretaris Radio Antar Penduduk Indonesia Lokal 02 Lembang Wilayah Kabupaten Bandung Barat, dan Pengurus Pusat IKA UPI divisi Penerbitan.