Cerpen “Kota yang Kau Bahasakan”

PISAU SASTRA (PISTRA)– Ruang Karya/Cerpen, Sabtu (24/01/2026) – Cerpen berjudul Kota yang Kau Bahasakan” ini ditulis oleh L. Malaranggi yang berprofesi sebagai Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Wiralodra Indramayu.

Indramayu adalah daerah kecil yang pernah kami tempati sebelum kota-kota lain. Mungkin juga kami akan singgah di negara-negara lain yang menjadi impian kami untuk sekadar berlibur atau bekerja. Dulu, kami berkenalan waktu SMP di pelosok kecamatan, saat itu pula kami menjadi teman bermain yang akrab, olok-olokan nama orang tua hingga curhat tentang kenakalan kami.

“Dia enggak mau sama kamu tuh. Katanya kamu perokok,” ujar temanku kecilku itu sambil tertawa, saat kami membahas sosok perempuan yang kebetulan sedang aku incar.

Pacaran
Ilustrasi: Aku dan dia saat masih remaja suka ngobrol bersama – (Sumber: Arie/Pistra)

Aku masih ingat saat teman kecilku itu mengatakan kata-kata itu persis sambil makan gorengan di kantin sekolah. Ternyata kata-kata itu masih saja segar di kepalaku sampai sekarang. Perempuan yang aku deketin ternyata tidak mau karena aku sering merokok saat pulang sekolah di parkiran secara ngumpet-ngumpet. Anehnya, perempuan yang aku taksir itu tahu kalau aku suka merokok. Bisa jadi ia tahu dari teman kecilku ini.

Itulah kami dulu, mungkin kalau tidak sekolah bareng di satu SMP, aku tidak akan mengenalnya. Setelah kami berdua lulus dan memilih jalan masing-masing, sempat tak berkabar sampai hilang kontak beberapa tahun. Aku tidak tahu di mana teman kecilku itu berada.

Tahun 2023 aku masuk kuliah di kota, memilih Indramayu lagi sebagai tempat berkembang sebagaimana aku cinta pada daerah ini. Aku memilih menetap di kontrakan dan tidak pulang-pergi. Aku merasa lebih dekat saja dengan kampus, supaya tidak telat saat ada mata kuliah. Ya walaupun, rumahku dengan kampus tidak terlalu jauh, hanya sekitar 20–30 menit, tetapi aku merasa itu akan memakan waktuku.

“Hei kamu di sini?” Tiba-tiba terdengar suara perempuan.

Suara yang sedikit serak-serak basah itu persis seperti berdiri di belakangku. Aku ingat betul suaranya. Aku memalingkan wajah dan segera melihatnya. Aku tersentak, kaget. Kini tubuhnya berbeda, lebih kurus dan anggun, memakai kerudung hitam. Sambil tersenyum ia melambaikan tangannya di depan mukaku. Aku terdiam beberapa detik dan tak berbicara apa-apa.

“Ko bengong,” kata teman kecilku itu dengan wajah sumringah.

“Ko Kamu ada di sini?” Aku bertanya spontan.

“Aku baru kelar sekolah bahasa di sini,” ucap teman kecilku itu mencoba menjelaskan, “Udah lama aku di sini, sudah hampir setahun.”

“Kita ngobrol ya habis ini,” ucapku sambil melangkah keluar warung.

Rintik hujan menetes, jalanan basah, daun-daun berguguran di sepanjang jalan. Kami berdua akhirnya pergi ke kedai kopi terdekat. Aku tak habis pikir pada pertemuan ini, kenapa ia datang begitu mendadak, padahal selama ini aku mencarinya, tetapi tidak ketemu.

“Ko kamu ngilang sih? Kemana aja selama ini?” Ucapku penasaran.

“Aku lagi fokus sekolah bahasa,” ujar perempuan itu, “Tapi aku bentar lagi ke Jepang. Tinggal ngurus visa aja.”

“Jepang?” Tanyaku agak terkejut.

“Iya. Tapi tenang, aku nanti berkabar kok,” jawab teman kecilku ini meyakinkan.

Hujan mulai reda, orang-orang bergegas pulang. Jalanan kembali ramai.

Pagi-pagi di tahun 2026, ketika ayam berkokok dan embun masih basah, aku belum tidur. Mataku masih menatap layar laptop, skripsiku belum juga selesai. Aku kepikiran tentang ia yang tiba-tiba berangkat ke Jepang. Aku membuka Google, mengulik tentang Jepang, tentang kota-kotanya, tentang budayanya.

Mungkin dia udah bahagia ya di sana, ujarku dalam hati. Pesan dari ponsel terus berbunyi, tetapi aku malas melihatnya. Tiba-tiba ponselku berdering.

“Hallo, kok enggak diangkat-angkat sih,” ucap suara video call di seberang sana dengan girang sambil memperlihatkan salju.

“Aku di kontrakan,” kataku.

Aku tersenyum. Rasanya seperti obat.

Dua tahun kemudian, aku lulus dan bekerja di Jakarta. Aku meniatkan diri untuk ke Jepang menyusulnya dan datang secara tiba-tiba. Aku mengambil cuti, membeli tiket, mengambil koper.

L. Malaranggi
L. Malaranggi, penulis/pengarang – (Sumber: Koleksi pribadi)

Pesawat membawaku melesat ke Osaka. Kota ini dingin sekali. Salju turun perlahan terlihat dari jendela kereta.

Aku meminta teman kecilku itu mengirimkan foto tempatnya berada. Beberapa menit kemudian, foto itu masuk. Pemandangan yang persis sedang kulihat. Ia duduk bersama temannya di sebuah café kecil. Aku melangkah dan berhenti tepat di belakang tempat duduknya.

“Hei, betah ya kamu di sini,” ucapku sambil tersenyum.

Perempuan itu menoleh. Ia tampaknya terkejut, lalu berdiri dan memelukku erat. Namun, tiba-tiba seorang lelaki datang menghampirinya.

“Kenalin,” ucap lelaki itu sambil tersenyum, “Aku tunangannya.”

Dadaku retak mendengarnya. Salju terus jatuh perlahan. Aku tersenyum, pamit, lalu melangkah pergi dengan koper besar. Air mataku menetes perlahan seiring salju yang terus berjatuhan.

Kami berpisah di sana, disaksikan musim salju dan cahaya kota Osaka yang muram. Indramayu tetap hidup di ingatan. Namun, Jepang kini menjadi air mata karena akhirnya kami bertemu di kota yang sama pada waktu yang salah. (L. Malaranggi).

***

Judul: Cerpen “Kota yang Kau Bahasakan”
Penulis: L. Malaranggi
Editor: JHK

Sekilas tentang Penulis

L. Malaranggi kelahiran Indramayu adalah penulis cerpen, puisi dan esai. Ia menulis tentang pengalaman sehari-hari, ingatan, dan relasi antarmanusia dengan gaya sederhana dan reflektif. Selain menulis fiksi, ia juga tertarik pada isu sosial dan kebudayaan. Ia bisa di sapa di @malarangiii.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *