PISAU SASTRA (PisTra), Kolom RUANG KARYA/PUISI, Selasa (03/03/2026) – Puisi berjudul “Di Puncak Cinta, Kita Menyebut Nama-Nya” ini merupakan buah karya dari Jumari Haryadi, seorang penulis, pegiat literasi, dan pendiri “Kopi Literasi”, kini tinggal di Desa Cihanjuang, Kabupaten Bandung Barat.
Di puncak gunung
yang dinginnya menembus tulang
dan sunyinya seperti sajadah panjang
yang dibentang alam semesta,
Aku berdiri di sampingmu—
istriku—
dengan napas yang mengepul
menjadi doa-doa kecil
yang beterbangan ke langit.
Kabut turun perlahan
seperti tangan Tuhan
yang menyibakkan tirai dunia.
Angin berhembus lirih
membaca tasbih di antara pucuk-pucuk cemara.
Di tengah keluasan itu,
kita hanyalah dua hamba
yang belajar mencintai
tanpa congkak,
tanpa suara keras,
tanpa ingin dipuji siapa pun
kecuali oleh-Nya.
Tanganku menggenggam tanganmu.
Hangat.
Sederhana.
Nammun di sanalah seluruh matahari
bersemi.
Bukan bara dunia yang kita cari,
melainkan cahaya yang tak padam
ketika usia mulai rapuh
dan langkah tak lagi tegap.
Di hadapan jurang dan lembah,
aku sadar:
betapa kecilnya kita,
betapa agungnya Dia
yang menciptakan puncak ini
dan menakdirkan kita
bertemu,
berjanji,
dan setia.
Wajahmu menoleh kepadaku—
bukan sekadar cantik
seperti bunga yang mekar pagi hari,
melainkan teduh
seperti ayat yang turun
di hati yang bersih.
Dalam sorot matamu
aku membaca kesabaran
yang tak tercatat di koran-koran,
pengorbanan
yang tak diumumkan pengeras suara,
dan cinta
yang tak meminta tepuk tangan.
Gunung ini tinggi,
tetapi doa kita lebih tinggi.
Langit ini luas,
tetapi rahmat-Nya lebih luas.
Kita duduk di batu besar,
menyaksikan matahari bangkit perlahan
dari peraduannya.
Cahayanya mengusap wajahmu,
dan aku tahu—
Tuhan sedang menulis puisi-Nya sendiri
di atas dahi kita.
Cinta ini bukan sekadar getar dada
atau kata-kata manis
yang mudah gugur di musim kecewa.
Cinta ini adalah amanah,
adalah jalan panjang
yang harus kita tempuh
dengan sabar dan syukur.
Bila suatu hari nanti
rambutku memutih seluruhnya
dan tubuhmu tak lagi sekuat hari ini,
biarlah kenangan tentang puncak ini
menjadi saksi
bahwa kita pernah berdiri
di antara bumi dan langit
seraya menyebut nama-Nya
bersama-sama.
Sebab cinta sejati
bukan hanya saling memandang
di bawah matahari terbit,
melainkan saling menguatkan
ketika kabut turun
dan dunia kehilangan arah.
Di puncak gunung yang dingin membeku itu
aku belajar satu hal:
bahwa mencintaimu
adalah cara paling khusyuk
untuk bersyukur kepada Tuhan.
Bersamamu,
aku tak sekadar sampai di puncak alam—
aku sampai
pada puncak makna.
***
Judul: Di Puncak Cinta, Kita Menyebut Nama-Nya
Pengarang: Jumari Haryadi
Editor: JHK
Sekilas tentang pengarang
Jumari Haryadi alias J.Haryadi adalah seorang penulis, pegiat literasi, dan pendiri “Kopi Literasi”. Beberapa karya puisinya telah diterbitkan di berbagai media online, seperti “Jangan Mengeluh dan Cepat Rapuh” dan “Nyali Tak Boleh Banci” yang terbit di Pratama Media News, “Hidup Sekejab Kudu Makrifat” dan esai berjudul “Napas Sunyi Bangsa yang Abadi” (terbit Kompasiana).
Selain puisi, J.Haryadi juga menulis beberapa cerita pendek (cerpen), seperti “Aku dan Gadis Misterius”, “Pertarungan yang Menentukan”, dan “Kamar 13.09” yang terbit di Kompasiana. Ia juga pernah menerbitkan sebuah buku kumpulan cerita pendek berjudul “5 Kisah Inspiratif dari Kota Cimahi” yang diterbitkan oleh Kreasi Cendekia Pustaka.
***