PISAU SASTRA (PISTRA), Rubrik RUANG KARYA/CERPEN, Rabu (28/01/2026) ─ Cerpen berjudul “Misteri Tembok Bersuara” ini ditulis oleh Jumari Haryadi alias J. Haryadi seorang penulis, pegiat literasi, dan pendiri Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) yang kini tinggal di Kabupaten Bandung Barat.
Di bawah langit Bandung yang mendung, Wulan berdiri di depan sebuah gerbang besi yang berkarat. Sebagai seorang content creator misteri yang sedang naik daun, ia tidak ingin melewatkan kesempatan mengeksplorasi rumah peninggalan zaman Belanda yang konon angker ini.
Di samping Wulan, terlihat Mira sedang memegang senter dengan tangan yang sedikit gemetar, menatap bangunan tua yang tertutup akar gantung itu.
“Kita benar-benar akan masuk?” tanya Mira ragu.
Wulan hanya tersenyum tipis sambil menyesuaikan posisi kamera di genggamannya.

Mereka melangkah masuk ke dalam aula utama. Udara di dalam terasa berat dan dingin, membawa aroma debu dan kayu lapuk yang menyengat. Natalie mengikuti dari belakang, matanya terus berpindah-pindah ke setiap sudut ruangan yang gelap.
“Tempat ini terasa seperti sedang memperhatikan kita,” bisik Natalie.
Mira menyalakan senternya, cahayanya membelah kegelapan dan menyingkap tirai-tirai beludru yang terkoyak di jendela-jendela tinggi.
Cahaya senter Natalie berhenti pada sebuah objek di ujung lorong. Sebuah lukisan minyak besar masih tergantung miring di dinding. Lukisan itu menggambarkan seorang pria tua dengan setelan jas hitam formal dan tatapan mata yang seolah-olah menembus jiwa siapa pun yang melihatnya. Wulan mendekat, mengarahkan kameranya tepat ke wajah pria di lukisan itu.

“Lihat sorot matanya, sangat tidak alami,” ujar Wulan dengan nada kagum sekaligus ngeri.
Tiba-tiba, suara rintihan lirih terdengar dari balik dinding di samping mereka. Suara itu terdengar seperti seseorang yang sedang kesakitan, teredam oleh lapisan beton tebal.
Wulan segera mematikan lampu kameranya agar mereka bisa mendengar lebih jelas. Mira mencengkeram lengan Wulan dengan kuat, napasnya memburu.
“Kau dengar itu? Itu bukan suara angin,” bisik Mira dengan suara tercekat di tenggorokan.
Wulan merasa tertantang. Ia melangkah menuju bagian tembok yang menjadi sumber suara rintihan tersebut. Natalie mengikutinya dengan ragu, memegang senter untuk menerangi permukaan tembok yang ditutupi oleh sisa-sisa wallpaper yang sudah mengelupas.

Rintihan itu semakin jelas, sekarang terdengar seperti bisikan kata-kata yang tidak bisa dimengerti. Natalie mengulurkan tangannya, ragu apakah ia harus menyentuh tembok yang tampak berdenyut halus itu.
“Tembok ini… tidak keras,” gumam Wulan saat jarinya bersentuhan dengan permukaan semen.
Di bawah cahaya senter Mira, tembok itu tampak berubah secara mustahil. Permukaan yang seharusnya padat kini melunak dan menjadi elastis seperti karet hitam yang ditarik.
Mira mundur beberapa langkah, tubuhnya gemetar hebat. Ia melihat bagaimana tangan Wulan mulai tenggelam sedikit demi sedikit ke dalam materi dinding yang bergerak seperti cairan kental.
Secara tiba-tiba, sebuah tangan hitam yang panjang dan kurus dengan kuku-kuku tajam muncul dari dalam tembok yang elastis itu. Tangan itu dengan cepat mencengkeram bahu Wulan.

Sosok makhluk menyeramkan dengan wajah yang hanya berupa lubang gelap mulai mengintip dari balik lapisan tembok yang merenggang. Wulan berteriak, namun suaranya seolah tersedot ke dalam kehampaan di balik dinding tersebut.
Tarikan itu sangat kuat. Wulan berusaha meronta, kakinya berjuang mencari pijakan di lantai yang licin. Namun, makhluk itu terus menariknya masuk.
Tubuh Wulan perlahan-lahan mulai tertelan oleh dinding yang berubah menjadi lubang hitam tak berujung. Makhluk itu membungkus Wulan dengan lengannya yang panjang, menariknya semakin dalam ke tempat yang tidak terjangkau oleh cahaya apa pun.
Natalie dan Mira hanya bisa terpaku dalam horor yang tak terlukiskan. Dalam sekejap mata, Wulan menghilang sepenuhnya. Tembok itu kembali menjadi keras dan dingin, tidak meninggalkan bekas sedikit pun kecuali wallpaper yang mengelupas. Natalie jatuh terduduk di lantai, napasnya tersengal-sengal.

“Wulan? Wulan!” teriak Natalie, tetapi tak ada jawaban dari sahabatnya itu, hanya terdengar gema suaranya sendiri yang menjawab dari lorong-lorong rumah tua yang sunyi itu.
Tanpa pikir panjang lagi, Mira menarik tangan Natalie dan mereka berlari sekuat tenaga keluar dari rumah terkutuk itu. Mereka terus berlari melewati taman yang liar dan gerbang besi yang berderit, tidak berani menoleh ke belakang.
Di dalam rumah, rintihan itu kembali terdengar. Namun, kali ini suaranya sangat mirip dengan suara Wulan yang memanggil minta tolong dari balik tembok yang membisu.
***
Judul: Misteri Tembok Bersuara
Penulis: Jumari Haryadi
Editor: JHK