Cerpen “Senyum di Ujung Lorong”

PISAU SASTRA (PISTRA), Rubrik RUANG KARYA/CERPEN, Minggu (15/02/2026) Cerpen berjudul “Senyum di Ujung Lorong” ini ditulis oleh Jumari Haryadi alias J. Haryadi seorang penulis, pegiat literasi, dan pendiri Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) yang kini tinggal di Kabupaten Bandung Barat.

Damar berdiri di depan gerbang besi yang sudah berkarat. Di hadapannya terpampang sebuah rumah tua milik mendiang neneknya yang berdiri kokoh. Namun, bangunan itu tampak merana, seolah-olah ia sedang menahan napas dalam kegelapan malam yang pekat.

Angin dingin berhembus, membawa aroma tanah basah dan kayu lapuk. Damar merapatkan jaketnya, menggenggam erat kunci tembaga yang terasa sedingin es di telapak tangannya.

Cerpen “Senyum di Ujung Lorong”
Ilustrasi: Damar sedang masuk ke halaman depan rumah tua neneknya sambil membawa kunci – (Sumber: Arie/Pistra)

Pintu depan terbuka dengan derit panjang yang memilukan, seolah-olah rumah itu memprotes kehadiran Damar. Pria remaja itu lalu melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang penuh dengan furnitur tertutup kain putih, membuatnya tampak seperti sekumpulan hantu yang sedang duduk melingkar.

Damar melirik jam besar di sudut ruangan; jarumnya menunjukkan pukul 11:45 malam. Keheningan di dalam sini terasa begitu berat, hingga suara detak jantungnya sendiri terdengar seperti tabuhan genderang.

Cerpen “Senyum di Ujung Lorong”
Ilustrasi: Damar mendengar langkah kaki berjalan di lantai atas rumah tua neneknya sehingga membuatnya ketakutan – (Sumber: Arie/Pistra)

Tiba-tiba, keheningan itu pecah. Duk… duk… duk… Suara langkah kaki yang berat terdengar dari lantai atas. Damar membeku. Rumah ini seharusnya kosong selama bertahun-tahun sejak neneknya tiada.

Suara itu tidak terdengar seperti langkah kaki pencuri yang mencoba bersembunyi; itu adalah langkah kaki seseorang yang sengaja ingin terdengar, berjalan mondar-mandir di atas kepalanya.

Keingintahuan yang berbahaya mulai mengalahkan rasa takutnya. Damar menyalakan senter kecilnya, membelah kegelapan dengan seberkas cahaya pucat. Ia mulai menaiki tangga kayu satu per satu. Setiap langkahnya memicu suara derit yang nyaring, bergema di seluruh penjuru rumah seolah memberitahu apa pun yang ada di atas bahwa ia sedang datang mendekat.

Sesampainya di lantai dua, Damar mendapati dirinya berada di sebuah koridor panjang yang sempit. Udara di sini terasa jauh lebih dingin, seakan-akan ada mesin pendingin tak kasat mata yang bekerja di balik dinding-dinding tua itu. Ia mengarahkan senternya ke depan, namun cahaya itu seolah-olah tertelan oleh kegelapan yang lebih pekat di ujung lorong.

Senter di tangannya tiba-tiba berkedip-kedip. Damar memukul-mukul badan senter itu dengan panik, berharap cahayanya tidak padam di saat seperti ini. Cahaya itu meredup, menguning, lalu kembali terang dengan sekali hentakan kuat. Namun, dalam sepersekian detik saat cahaya itu meredup tadi, Damar merasa melihat sesuatu yang bergerak di kejauhan.

Cerpen “Senyum di Ujung Lorong”
Ilustrasi: Di lorong rumah tua itu terlihat sosok nenek tua memakai kebaya – (Sumber: Arie/Pistra)

Di ujung koridor yang jauh, sesosok bayangan berdiri tegak. Sosok itu mengenakan kebaya tua berwarna putih gading yang sudah kusam dan kain batik yang terseret di lantai. Ia berdiri membelakangi jendela besar yang membiarkan cahaya bulan masuk secara minimal, membuat siluetnya tampak tajam dan mengancam. Sosok itu tidak bergerak, hanya berdiri di sana seperti patung yang dilupakan waktu.

 

“Nenek?” bisik Damar dengan suara gemetar.

Damar memberanikan diri untuk melangkah maju, perlahan-lahan mengarahkan cahaya senternya langsung ke wajah sosok itu. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat cahaya senter itu akhirnya menyingkap apa yang tersembunyi di balik kegelapan. Itu memang nenek, tapi ada sesuatu yang sangat salah dengannya.

Cahaya senter menyorot wajah yang pucat pasi dan keriput. Namun, di tempat di mana seharusnya ada bola mata yang hangat, kini hanya ada lubang hitam legam sepekat arang yang baru terbakar. Sesuatu yang paling mengerikan adalah mulutnya; Nenek memberikan senyum yang sangat lebar, terlalu lebar untuk ukuran manusia normal, hingga sudut bibirnya seolah menyentuh telinga, memperlihatkan deretan gigi yang menghitam.

Ketakutan murni melanda Damar. Ia berbalik dan berlari sekuat tenaga kembali ke arah tangga. Namun, suara langkah kaki yang berat itu kini terdengar tepat di belakang punggungnya. Saat ia mencapai pintu depan dan menarik gagangnya dengan panik, pintu itu terkunci rapat.

Dari kegelapan di atas tangga, suara tawa parau yang kering pecah, memenuhi rumah itu dengan melodi kematian yang mengerikan.

***

Judul: Senyum di Ujung Lorong
Penulis: Jumari Haryadi
Editor: JHK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *