Cerpen “Kapal Hantu di Lautan Hindia”

PISAU SASTRA (PISTRA), Rubrik RUANG KARYA/CERPEN, Senin (23/02/2026) ─ Cerpen misteri berjudul “Kapal Hantu di Lautan Hindia” ini ditulis oleh Jumari Haryadi alias J. Haryadi seorang penulis, pegiat literasi, pendiri Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) dan Komunitas Penulis Cimahi (Kompeni) yang kini tinggal di Kabupaten Bandung Barat.

Malam itu, Samudra Hindia tampak tenang. Namun, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Bima mendayung perahu kecilnya sendirian ke tengah lautan. Di atas sana, bulan purnama bersinar sangat terang, seperti mata raksasa yang mengawasi setiap gerakannya. Bima merasa ada sesuatu yang menunggunya di balik kabut tipis yang mulai merayap di permukaan air.

Tiba-tiba, sebuah bayangan raksasa muncul dari balik kabut. Itu adalah sebuah kapal tua yang sangat besar. Layarnya robek-robek seperti sarang laba-laba raksasa. Kayu kapal itu tampak menghitam dan rapuh, mengeluarkan suara derit yang memilukan. Tidak ada lampu yang menyala. Namun, kapal itu memancarkan cahaya biru pucat yang redup dan menyeramkan.

Kapal Hantu di Lautan Hindia
Ilustrasi: Tiba-tiba dari balik kabut muncul kapal hantu di hadapan Bimo – (Sumber: Arie/PISTRA)

Bima memberanikan diri untuk naik ke atas kapal tersebut. Begitu kakinya menyentuh dek kayu, rasa dingin yang menusuk tulang langsung menyelimutinya. Napasnya mengeluarkan uap putih, padahal mereka berada di perairan tropis. Di sekelilingnya, tali-tali kapal berayun sendiri tanpa tertiup angin, dan suara bisikan halus terdengar dari balik dinding-dinding kapal yang lembap.

Di tengah dek yang gelap, berdirilah seorang gadis kecil. Ia mengenakan gaun putih yang tampak basah dan berat. Wajahnya sangat pucat, dan matanya bening namun tanpa emosi, seperti mutiara yang tenggelam di dasar laut. Gadis itu adalah Lila, putri sang kapten kapal yang telah lama hilang. Ia berdiri mematung, menatap Bima dengan tatapan yang membuat bulu kuduk berdiri.

Kapal Hantu di Lautan Hindia
Ilustrasi: Bima bertemu Lila, putri Kapten Kapal Hantu – (Sumber: Arie/PISTRA)

“Kami sudah lama tersesat di sini,” bisik Lila.

Suara Lila terdengar seperti desiran angin di lubang kunci, dingin dan hampa. Setiap kali ia berbicara, embun beku muncul di lantai di bawah kakinya.

Lila mengangkat tangannya yang pucat, menunjuk ke arah kemudi kapal yang diselimuti kabut tebal. Ia tampak sangat sedih, seolah membawa beban ribuan tahun di pundaknya yang kecil.

Gadis misterius itu mengajak Bima menyusuri lorong-lorong kapal yang gelap. Bayangan-bayangan di dinding tampak bergerak mengikuti mereka, seolah-olah kapal itu sendiri sedang bernapas. Bima bisa merasakan kehadiran makhluk lain di kegelapan, sosok-sosok pelaut yang hanya terlihat seperti asap kelabu. Lila berjalan tanpa suara, kakinya tidak menyentuh lantai sepenuhnya, membuat suasana semakin mencekam.

Kapal Hantu di Lautan Hindia
Ilustrasi: Gadis misterius itu mengajak Bima menyusuri lorong-lorong kapal yang gelap – (Sumber: Arie/PISTRA)

Di ujung lorong, mereka sampai di ruang kemudi. Di sana, seorang pria besar dengan pakaian kapten yang sudah hancur berdiri mematung. Itulah Kapten Baruna, ayah Lila. Tangannya yang kaku memegang kemudi yang sudah patah. Kapten itu tidak menoleh. Suara geraman rendah keluar dari dadanya, menandakan keputusasaan karena tidak bisa menemukan jalan pulang selama berabad-abad.

Bima teringat sesuatu. Ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah peta tua milik kakeknya. Peta itu dikenal sebagai “Peta Bintang Abadi”. Begitu peta itu dibuka, cahayanya yang kuning keemasan langsung mengusir kegelapan di ruang kemudi.

Lila mendekat, matanya sedikit bersinar melihat garis-garis emas pada peta yang menunjukkan jalan menuju pelabuhan kedamaian. Ia mengambil alih peta itu dengan lembut.

Kapal Hantu di Lautan Hindia
Ilustrasi: Bima mengeluarkan sebuah peta tua milik kakeknya yang dikenal sebagai “Peta Bintang Abadi” dan menunjukkan kepada Lila – (Sumber: Arie/PISTRA)

Saat jemari gadis mungil itu menyentuh kertas peta, seluruh kapal mulai bergetar. Suasana dingin yang tadinya mencekam perlahan berubah menjadi hangat. Kapten Baruna mulai memutar kemudinya, dan kapal itu perlahan-lahan mulai transparan, menyatu dengan cahaya bulan. Lila menatap Bima untuk terakhir kalinya, memberikan senyuman tipis yang penuh terima kasih.

Kapal hantu itu perlahan menghilang. Bima kini sendirian di tengah laut, di atas perahunya yang kini terasa tenang dan hangat.

Kabut telah sirna, dan bulan purnama tampak sangat indah, tidak lagi menakutkan. Bima mendayung pulang dengan hati yang lega, tahu bahwa Lila dan ayahnya tidak akan lagi tersesat di lautan yang luas.

***

Judul: Cerpen “Kapal Hantu di Lautan Hindia”
Penulis: Jumari Haryadi
Editor: JHK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *