PISAU SASTRA (PISTRA), Rubrik PROFIL SASTRAWAN/DALAM NEGERI, Selasa (24/02/2026) – Artikel berjudul “Di Antara Danau Toba dan Eropa: Kesepian, Cinta, dan Pemberontakan Sitor Situmorang” merupakan karya Jumari Haryadi alias J. Haryadi, seorang penulis, jurnalis, pendiri Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) Indonesia dan Komunitas Penulis Cimahi (Kompeni).
Di tanah yang dilingkari Danau Toba dan desir angin dari bukit-bukit Sumatra Utara, lahirlah seorang anak bernama Sitor Situmorang. Ia lahir di sebuah desa kecil di Kecamatan Harian Boho, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Desa kelahirannya ini kelak menjadi pusat destinasi wisata populer di sekitar Danau Toba.
Batin Sitor tertancap kuat di tanah kelahirannya ini sehingga sangat berpengaruh terhadap hampir seluruh karya puisinya. Alam Batak yang keras itu menanamkan dalam dirinya keberanian sekaligus kerinduan. Dari sanalah ia belajar bahwa hidup bukan sekadar perjalanan tubuh, tetapi juga pengembaraan jiwa.

Sitor tumbuh di zaman yang bergolak. Ia menyaksikan kolonialisme, revolusi, pergantian kekuasaan, dan pertarungan ideologi. Namun, di tengah riuh sejarah itu, ia justru memilih kata sebagai sarana untuk menumpahkan buah pikirnya.
Victor Hugo (26 Februari 1802 – 22 Mei 1885), salah satu penulis aliran Romantisisme pada abad ke-19 dan sering dianggap sebagai salah satu sastrawan dan penyair terbesar Prancis mengatakan, “Tidak ada yang lebih kuat daripada sebuah ide yang waktunya telah tiba.” Kalau Victor menumpahkan idenya dengan beragam tulisan maka Sitor menuangkannya dalam bentuk puisi.
Nama Sitor mulai dikenal luas pada dekade 1950-an sebagai bagian dari generasi sastrawan pasca-kemerdekaan. Ia tidak hanya menulis puisi, tetapi juga esai dan kritik kebudayaan. Salah satu karya puisinya yang paling terkenal adalah sebuah buku berjudul “Surat Kertas Hijau” ─ antologi puisi pertamanya yang ditulis dengan gaya bahasa khas, menonjolkan simplisitas, kejernihan, dan citraan visual yang kuat.
Buku yang diterbitkan pada 1953 tersebut berisi pengembaraan batin Sitor. Ia menulis tentang cinta, kesepian, tanah air, dan jarak antara manusia dengan dirinya sendiri. Puisinya bukan sekadar rangkaian metafora, melainkan dialog dengan waktu.
Pria berkarakter kuat ini berbicara tentang rindu kampung halaman ketika ia sedang berada di Eropa. Sitor juga menulis tentang identitas yang terombang-ambing antara Timur dan Barat. Dalam antologi puisi “Dalam Sajak”, ia memperlihatkan kedewasaan estetik yang semakin matang—bahasanya lebih tenang, tetapi justru makin dalam.
Melalui buku antologi puisi “Wajah Tak Bernama”, Sitor mencoba memotret kegelisahan manusia modern. Ia tidak menawarkan jawaban, hanya pertanyaan-pertanyaan sunyi yang menggantung di langit kesadaran pembacanya. Membaca Sitor seperti berdiri di tepi Danau Toba saat senja: tenang di permukaan, tetapi menyimpan kedalaman yang tak terukur.

Tak hanya sebagai penyair, Sitor juga menulis esai-esai penting tentang kebudayaan Indonesia. Dalam karya prosanya berjudul “Sastra Revolusioner”, ia berbicara tentang hubungan antara sastra dan perjuangan sosial. Ia percaya bahwa sastra tidak boleh tercerabut dari realitas, tetapi juga tidak boleh diperbudak oleh kekuasaan. Pandangannya sering menimbulkan perdebatan, sebab ia berdiri di persimpangan antara kebebasan individu dan tuntutan zaman.
George Orwell (nama asli: Eric Arthur Blair, 1903–1950) adalah novelis, esais, dan kritikus Inggris yang sangat berpengaruh pada abad ke-20. Ia terkenal karena karya sastra yang mengecam totalitarianisme dan menyalahgunakan kekuasaan
Sebagaimana diungkapkan George Orwell (nama asli: Eric Arthur Blair, 1903–1950) ─ seorang novelis, esais, dan kritikus Inggris yang sangat berpengaruh pada abad ke-20, “Di masa kebohongan universal, mengatakan kebenaran adalah tindakan revolusioner.”
Sitor memahami risiko dari keberanian berpikir. Pikirannya yang liar dan berkelana jauh di atas kebanyakan orang pada masanya, telah membuat pemerintah pada masa Orde Baru meradang. Pikirannya dianggap berbahaya sehingga ia mengalami penahanan politik selama beberapa tahun. Pengalaman pahit itu menjadi bab kelam dalam hidupnya. Namun, di sisi lain juga memperdalam refleksi batinnya. Dalam kesunyian penjara, ia tetap memelihara api kata-kata.
Penyair yang menggabungkan lirisisme personal dengan kesadaran sejarah ini menulis tentang Batak dengan cinta yang tak sentimentil. Juga menulis tentang Indonesia dengan kejujuran yang kadang terasa getir. Meskipun ia pernah lama berkelana ke luar negeri dan sempat tinggal di Belanda dan Prancis, tetapi ia tidak pernah benar-benar meninggalkan tanah airnya. Sebab seperti kata Khalil Gibran, “Tanah airmu adalah tempat di mana hatimu merasa pulang, meski kakimu berada jauh.”
Dalam banyak karya puisi Sitor, kita merasakan aroma tanah basah, bayangan gereja tua di desa Batak, juga kegelisahan intelektual seorang pengelana kosmopolitan. Ia adalah jembatan antara lokalitas dan universalitas. Puisinya dapat dibaca sebagai doa, sebagai surat cinta, atau sebagai catatan perlawanan yang lirih.

Karya-karya Sitor terus dibaca dan dikaji hingga kini, bukan hanya karena nilai historisnya, tetapi karena kekuatan estetiknya yang tetap relevan. Sitor mengajarkan bahwa puisi tidak harus keras untuk menggugah; kadang ia cukup menjadi bisikan yang tak mau pergi dari ingatan.
Dunia ini hanya persinggahan sementara, cepat atau lambat pasti akan ditinggalkan. Begitu juga dengan Sitor, pada 21 Desember 2014, Sitor Situmorang wafat. Tuhan memanggilnya untuk kembali ke pangkuan-Nya. Namun kematian hanyalah jeda bagi tubuh, bukan bagi kata-kata. Sebagaimana Rabindranath Tagore pernah berkata, “Kematian bukanlah memadamkan cahaya; ia hanya memadamkan lampu karena fajar telah tiba.” Sitor telah memadamkan lampunya, tetapi fajar puisinya masih menyala di hati para pembaca.
Riwayat hidup pria berhati baja ini adalah kisah tentang kesetiaan pada kata. Dari pinggiran desa di Sumatra Utara hingga Eropa, dari ruang kuliah hingga ruang tahanan, ia tetap seorang penyair. Ia tidak tunduk pada zaman, tetapi selalu berdialog dengannya. Melalui karya-karyanya, seperti “Surat Kertas Hijau”, “Dalam Sajak”, dan “Wajah Tak Bernama”, ia meninggalkan jejak yang tak mudah terhapus.
Sitor Situmorang adalah bukti bahwa seorang penyair bisa menjadi saksi zaman tanpa kehilangan kelembutan jiwanya. Puisinya adalah cinta yang menjelma kata, kesunyian yang berubah suara, dan perjalanan yang tak pernah benar-benar selesai. Selama masih ada yang membaca dan merenungkan bait-baitnya, selama itu pula Sitor akan tetap hidup—mengalir seperti air Danau Toba yang tak pernah berhenti memantulkan langit. (J. Haryadi)
***
Judul: Di Antara Danau Toba dan Eropa: Kesepian, Cinta, dan Pemberontakan Sitor Situmorang
Penulis: Jumari Haryadi
Editor: Asep (HC) Arie Barajati