PISAU SASTRA (PISTRA), Rubrik OPINI, Senin (02/03/2026) – Esai berjudul “Laut yang Luas, Sumur yang Dalam” ini adalah sebuah tulisan karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Ada malam yang terasa lebih panjang dari biasanya. Usai tarawih, langkah pulang membawa saya kembali ke rumah, ke ruang sederhana yang selalu menjadi tempat berlabuh. Istri meminta pijatan, tubuhnya masih diliputi rasa sakit. Saya duduk, menunduk, dan dengan tangan yang pelan mencoba meredakan beban yang ia tanggung. Di balik keheningan itu, ada sesuatu yang lain yang masih bergetar dalam diri saya.
Beberapa jam sebelumnya, saya mengirim sebuah video pendek. Di layar, tampak tari Mba Nani di Mendut, di depan sebuah tugu yang namanya entah mengapa tak lekas saya ingat. Saat menonton, tiba-tiba tenggorokan saya tersedat. Ada dorongan ingin berteriak, ingin bicara, tetapi suara tak keluar. Yang muncul justru air mata.

Saya menyebut nama Sunan Gunung Jati, juga Pangeran Losari, Angkawijaya. Ketika lidah mencoba mengucap “sampurasun”, kata itu terasa berat, tercekat, seolah ada pintu batin yang harus diketuk lebih dulu. Tubuh saya bergetar.
Dalam keadaan itu, saya memohon izin. Bukan dengan suara, melainkan lewat batin. Saya menarik napas, memejamkan mata, lalu berbicara dalam diam kepada sosok yang saya sebut. Memohon agar diberi jalan untuk menulis tentang Mba Nani agar tangan saya bisa menjadi perpanjangan dari daya pikir yang sedang bergejolak.

Beberapa menit kemudian, ada rasa plong. Seperti beban yang dilepaskan. Sejak saat itu, saya mulai menulis selama tiga hari tiga malam, nyaris tanpa henti. Tidur hanya tiga jam, bangun untuk sahur, lalu kembali menulis.
Pagi mengantar anak sekolah, siang menjemput, sore menunggu magrib—di sela semua itu, tangan saya terus menari di atas kertas. Ritme hidup berubah menjadi ritme menulis. Seakan ada arus besar yang mengalir, dan saya hanya mengikuti.
Masya Allah, hasilnya membuat saya tertegun. Seratus lima puluh halaman lahir begitu saja, menjadi sebuah novel tentang Nani Losari. Judulnya: “Laut yang Luas, Sumur yang Dalam” ─ sebuah metafora yang saya rasakan sendiri. Luasnya samudra inspirasi, dalamnya sumur batin yang tak habis digali. Siang tadi, tulisan itu rampung. Tinggal dibaca ulang, direvisi, disusun ulang agar lebih rapi.
Menulis kali ini bukan sekadar kerja kreatif. Ia lebih mirip perjalanan spiritual. Ada momen ketika tubuh bergetar, ketika kata “sampurasun” menjadi ujian, ketika air mata jatuh tanpa alasan yang bisa dijelaskan. Semua itu seperti tanda bahwa tulisan bukan hanya milik saya. Ada yang menitipkan, ada yang membimbing.
Kini, setelah tiga hari tiga malam, saya duduk kembali di rumah. Istri masih meminta pijatan, anak-anak sudah tidur, dan saya menatap halaman-halaman yang lahir dari tangan ini. Rasanya seperti baru saja melewati sebuah samudra, lalu menemukan sumur yang dalam di tengah perjalanan.
Esai ini adalah catatan kecil dari perjalanan itu. Sebuah pengingat bahwa menulis bisa menjadi doa, bisa menjadi jalan untuk menyambung rasa dengan yang tak terlihat. Namun, di balik semua kelelahan itu, ada kebahagiaan yang tak tergantikan: kebahagiaan telah menuliskan sesuatu yang lahir dari kedalaman batin, dari laut yang luas, dan dari sumur yang dalam.
***
Judul: Laut yang Luas, Sumur yang Dalam
Penulis: Didin Tulus, sang Petualang Pameran Buku
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas Info Penulis
Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.
Aktivitas dan Karir
Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.
Pengalaman Internasional
Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.
Kegiatan Saat Ini
Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.
Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.
***