PISAU SASTRA (PISTRA), Rubrik RUANG KARYA/PUISI, Minggu (01/03/2026) – Puisi berjudul “Tafsir Rindu” ini adalah sebuah tulisan karya Dimas Saputra, seorang praktisi perbukuan yang kini tinggal di Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
sesungguhnya telah Kufardhukan puasa atasmu
bukan agar engkau lapar
melainkan agar engkau tahu
bahwa Aku lebih dekat dari urat lehermu
yang berdenyut menahan dahaga
di dalam Al-Baqarah
ayat seratus delapan puluh tiga
Kusebut la’allakum tattaqun—
agar engkau bertakwa
mungkin dengan lapar ini
engkau menjadi gentar
bukan pada api neraka
tapi pada dirimu sendiri
yang selama ini kau sembah diam-diam
dan ketika hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku
maka jawablah: Aku dekat
Aku mengabulkan doa orang yang berdoa
apabila ia berdoa kepada-Ku
maka di sepertiga malam Ramadan
ketika sahur hampir tiba
sebelum sendok menyentuh dasar piring
memintalah kepada-Ku
karena di sanalah Aku menunggumu tanpa hijab
doa-doa akan menjadi mustajab
adapun tentang Lailatul Qadr
ia turun seperti bisikan
bukan seperti petir
maka jangan kau cari dengan mata
tapi dengan bulu roma yang merinding
saat kau baca Al-Qur’an
dan tiba-tiba menangis
tanpa tahu sebabnya
Qadr itu kemuliaan
juga ketetapan
bahwa setahun ke depan akan ditentukan
oleh seberapa dalam kau tenggelam
dalam tadarus malam itu—
maka bacalah, bacalah dengan tartil
seperti ibumu dulu mengajarmu bicara
perlahan, penuh makna,
hingga kata-kata Tuhan meresap
jadi daging, jadi darah, jadi cara kau memandang dunia
dan di hari yang diwajibkan berpuasa
jika ada yang mencacimu
katakan: aku sedang puasa, aku sedang puasa—
bukan untuk membela diri
tapi untuk mengingatkan
bahwa di dalam tubuh ini
ada ruang yang tak tersentuh amarah
karena sedang ditempati oleh kesabaran-Ku
Ramadan mengajarkan kita pada iqlab:
menyembunyikan amal seperti menyembunyikan huruf nun
ketika bertemu ba—
tak terdengar, tapi tetap bermakna
maka sedekahmu biarlah diam
puasamu biarlah rahasia
hanya Kau dan Aku yang tahu
sebab Aku sendiri yang akan membalasnya
dengan sesuatu yang tak pernah dilihat mata
didengar telinga
atau terlintas di hati manusia
maka puasalah
bukan karena Aku butuh laparmu
tapi karena engkau butuh
merasakan bagaimana rasanya
hanya bergantung pada-Ku
di saat perut kosong
dan dunia menawarkan segala
tapi engkau memilih Aku
ketika syawal tiba
dan takbir berkumandang
jangan kau kira puasa telah usai
sebab Aku masih menanti
apakah setelah Ramadan
engkau masih tetap pada jalan itu—
jalan orang-orang yang Kusebut dalam Al-Fatihah
yang telah Kuberi nikmat
bukan yang dimurkai
dan bukan pula yang sesat
***
Judul: Tafsir Rindu
Penulis: Dimas Saputra
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas tentang Penulis/Pengarang

Dimas Saputera adalah nama pendek dari Dimas Handi Hijrah Saputra. Pria kelahiran 1982 ini, pada suatu ketika pernah belajar dan lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia.
Dalam perjalanan hidupnya, Dimas pernah menjadi mentor tingkat SD dan SMP untuk pelajaran Bahasa Indonesia pada salah satu Bimbingan Belajar besar di Bandung. Selepas dari itu, sejak 2009 s.d. sekarang pernah bekerja di berbagai penerbit dan percetakan buku, sebagai editor, layouter, desainer cover, hingga sebagai marketing dan admin.
Kini memilih menjadi pekerja freelance di berbagai Penerbit. Dimas juga aktif di beberapa komunitas kepenulisan maupun sosial. Sampai saat ini tercatat sebagai anggota Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) Bandung Raya, Sekretaris Radio Antar Penduduk Indonesia Lokal 02 Lembang Wilayah Kabupaten Bandung Barat, dan Pengurus Pusat IKA UPI divisi Penerbitan.
***