PISAU SASTRA (PISTRA), Rubrik OPINI, Rabu (18/02/2026) – Esai berjudul “Lebih dari Sekadar Membaca: Merayakan Literasi sebagai Jalan Menuju Kebijaksanaan dan Ketuhanan” ini adalah sebuah tulisan karya Dimas Saputra, seorang praktisi perbukuan yang kini tinggal di Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Pada era gempuran informasi seperti saat ini, kata “literasi” mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Setiap tahun, kita memperingati Hari Literasi Internasional. Di sekolah-sekolah, program literasi digalakkan dengan pojok baca dan kewajiban membaca buku sebelum pelajaran dimulai. Namun, sayangnya pemaknaan literasi seringkali terjebak dalam ruang yang sempit. Ia kerap disalahartikan sebagai sebuah program atau paling banter hanya diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis.
Pandangan ini ibarat kita mengagumi samudra hanya dari permukaannya yang berkilau, tanpa menyelami kedalamannya yang penuh kehidupan. Literasi sejatinya adalah sebuah ekosistem pemahaman yang luas dan dalam. Ia bukan sekadar aktivitas mekanis mengeja kata, melainkan sebuah proses kontinu untuk menangkap makna, mengamati realitas, mengaplikasikan pemahaman dalam keseharian, dan pada puncaknya, membentuk watak serta cara pandang kita terhadap kehidupan dan Sang Pencipta.

Langkah pertama dalam literasi memang sering dimulai dari teks. Membaca adalah jendela dunia, sebuah klise yang tetap benar adanya. Melalui membaca, kita berdialog dengan pemikiran orang lain, melintasi batas ruang dan waktu. Namun, literasi yang paripurna tidak berhenti pada titik ini. Ia mendorong kita untuk kemudian mengamati dunia nyata di sekitar kita dengan lebih saksama.
Seorang petani yang mampu membaca perubahan cuaca, kondisi tanah, dan tanda-tanda alam lainnya adalah seorang yang literat. Seorang seniman jalanan yang membaca ekspresi dan keresahan masyarakat lalu menuangkannya dalam goresan cat adalah seorang yang literat. Seorang ibu yang membaca tangisan anaknya, membedakan apakah itu tangisan lapar, lelah, atau sakit adalah seorang yang literat.
Literasi adalah kemampuan untuk “membaca” konteks. Ia adalah kepekaan untuk tidak hanya melihat, tetapi juga mengamati; tidak hanya mendengar, tetapi juga menyimak. Di sinilah literasi bertransformasi dari sekadar keterampilan linguistik menjadi kecerdasan emosional dan sosial. Dunia ini adalah teks raksasa yang menanti untuk dibaca, dengan bahasa yang beragam: bahasa alam, bahasa tubuh, bahasa seni, dan bahasa kehidupan itu sendiri.
Puncak dari pemahaman adalah aplikasi. Pengetahuan yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tidak berbuah. Literasi yang hakiki haruslah membumi, ia terwujud dalam tindakan nyata keseharian.
Memahami bahaya sampah plastik (literasi sains) harusnya berujung pada tindakan membawa tas belanja sendiri. Membaca tentang pentingnya toleransi (literasi sosial-budaya) harusnya tercermin dalam sikap menghormati tetangga yang berbeda keyakinan. Mengetahui sejarah perjuangan bangsa (literasi sejarah) harusnya menggelorakan semangat untuk mengisi kemerdekaan dengan karya nyata, bukan hanya sekadar hafal tanggal dan nama pahlawan.
Di sinilah letak kekuatan literasi yang sesungguhnya: ia menjembatani dunia ide dan realitas. Ia menjadikan seseorang tidak hanya pandai berteori, tetapi juga cakap bertindak. Seorang yang literat adalah problem-solver, seorang yang mampu menggunakan pengetahuannya untuk memperbaiki keadaan dirinya dan lingkungannya. Literasi mengubah penonton menjadi pemain, pengeluh menjadi pemberi solusi.
Proses membaca, mengamati, dan mengaplikasikan ini secara kumulatif akan membentuk struktur berpikir seseorang. Ia akan terlatih untuk tidak mudah percaya pada satu sumber, terbiasa membandingkan, menganalisis, dan menyintesis berbagai informasi. Inilah benih dari pola pikir yang terbuka (open-minded).
Seorang yang literat memahami bahwa kebenaran seringkali tidak hitam-putih. Ia akrab dengan nuansa abu-abu. Ia tidak mudah terprovokasi oleh berita hoaks atau ujaran kebencian karena ia memiliki filter kritis. Ia mampu berempati dengan sudut pandang yang berbeda karena ia telah banyak “berkenalan” dengan berbagai perspektif melalui bacaannya. Perbedaan bukan lagi ancaman, melainkan kekayaan yang memperluas cakrawala berpikir.
Dengan demikian, literasi menjadi tameng yang ampuh melawan dogmatisme dan fanatisme sempit. Ia mengajarkan kerendahan hati intelektual, bahwa kita tidak tahu segalanya, dan selalu ada hal baru yang bisa dipelajari dari orang lain, dari pengalaman, bahkan dari kegagalan.
Pada titik inilah, literasi mencapai dimensi tertingginya: spiritualitas. Jika literasi sosial mengajarkan kita membaca perilaku orang lain, dan literasi sains mengajarkan kita membaca hukum alam maka literasi spiritual adalah kemampuan untuk “membaca” tanda-tanda di balik setiap peristiwa kehidupan.
Seseorang dengan literasi spiritual yang baik tidak akan berhenti pada penjelasan permukaan ketika menghadapi sebuah kejadian. Ketika kendaraan yang dikendarainya bermasalah di tengah jalan, misalnya, ia tidak hanya membaca masalah itu sebagai akibat dari komponen yang aus atau kelalaian perawatan semata. Di balik penjelasan teknis itu, ia merenung: Mungkinkah ini adalah “bahasa” lain dari alam atau kehendak Ilahi yang ingin menyampaikan pesan? Mungkin ini sebuah teguran halus untuk mengingatkan agar tidak terlalu terburu-buru dalam menjalani hidup, atau sebuah jeda yang dipaksakan agar ia bisa merenung sejenak.
Literasi spiritual mengajarkan kita untuk tidak memisahkan secara dikotomis antara urusan duniawi dan ukhrawi. Ia menolak anggapan bahwa “tidak ada hubungan” antara kondisi fisik sebuah benda dengan kondisi batin seseorang. Sebaliknya, ia percaya bahwa segala sesuatu saling terhubung dalam satu kesatuan kosmis di bawah kendali Sang Pencipta. Memperbaiki yang rusak secara fisik adalah ikhtiar lahiriah, namun merenungkan makna di balik kerusakan itu adalah ikhtiar batiniah. Keduanya berjalan beriringan dan sama pentingnya.
Pada muaranya, literasi spiritual akan membawa manusia pada dimensi tertinggi: pengenalan akan Tuhan. Proses membaca dan mengamati alam semesta dengan saksama, merenungkan keteraturannya yang luar biasa, akan membawa manusia pada sebuah pertanyaan mendasar: “Adakah yang menciptakan semua ini dengan tanpa tujuan?”
Seorang ilmuwan yang literat tidak akan puas hanya dengan menemukan rumus dan hukum alam. Ia akan terus bertanya, “Mengapa hukum itu ada?” “Mengapa ada keteraturan, bukan kekacauan?” Semakin dalam ia menyelami samudra ilmu, semakin ia merasa kecil sekaligus kagum pada kebesaran Dzat di balik semesta ini. Inilah yang dialami oleh banyak ilmuwan besar, di mana sains justru membawa mereka pada pengakuan akan adanya Sang Pencipta.
Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang mampu membaca setiap kejadian—baik suka maupun duka—sebagai “ayat-ayat” (tanda-tanda) yang diturunkan Tuhan untuk direnungkan, maka hidup ini akan terasa lebih bermakna. Musibah tidak lagi dipandang sebagai nasib buruk semata, melainkan sebagai undangan untuk introspeksi. Keberhasilan tidak lagi membuatnya sombong, melainkan disyukuri sebagai titipan yang harus dijaga dengan amanah.
Literasi mengikis kesombongan intelektual. Ia mengajarkan bahwa di balik setiap fenomena yang bisa dijelaskan oleh sains, selalu ada misteri yang tak terjelaskan yang hanya bisa dihadapi dengan iman. Semakin banyak yang kita ketahui, seharusnya semakin kita menyadari betapa sedikitnya pengetahuan kita dibandingkan dengan keluasan ilmu Tuhan.
Membaca kitab suci (literasi religius) pun tidak lagi sekadar membaca untaian alif ba ta menjadi untaian ayat, tetapi merenungkan maknanya, menghubungkannya dengan konteks kekinian, dan mengaplikasikan nilai-nilai luhurnya dalam kehidupan. Literasi menjadikan agama tidak hanya sebatas ritual, tetapi juga jalan untuk menggapai pencerahan. Ia menuntun kita untuk tidak hanya menyembah Tuhan, tetapi juga berusaha memahami kebesaran-Nya melalui ciptaan dan firman-Nya.
Sudah saatnya kita merayakan literasi dalam maknanya yang paling utuh. Bukan sekadar program membaca satu buku dalam sebulan, bukan hanya parade lomba menulis cerpen, bukan hanya seberapa banyak buku yang kita baca dan koleksi, dan bukan pula sekadar tumpukan buku menjadi sebuah perpustakaan pribadi. Literasi adalah sebuah gaya hidup, sebuah cara untuk menjadi manusia seutuhnya, sebuah cara untuk bisa lebih memanusiakan orang lain.
Literasi adalah kemampuan memaknai hidup. Ia adalah proses tanpa henti untuk belajar, mengamati, bertindak, dan merenung. Dengan literasi, kita tidak hanya menjadi pintar, tetapi juga (seharusnya) menjadi lebih bijaksana. Dengan literasi, kita tidak hanya terbuka pada perbedaan, tetapi juga kokoh pada pendirian. Dengan literasi, kita tidak hanya mengenal dunia, tetapi juga semakin dekat dengan Penciptanya. Mari kita selami lautan literasi. Jangan hanya berenang di permukaan, tetapi beranilah menyelam ke kedalamannya. Karena di sanalah, di kedalaman pemahaman, kita akan menemukan mutiara kebijaksanaan yang menerangi jalan kehidupan, dunia hingga akhirat.
***
Judul: Lebih dari Sekadar Membaca: Merayakan Literasi sebagai Jalan Menuju Kebijaksanaan dan Ketuhanan
Penulis: Dimas Saputra
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas tentang Penulis/Pengarang

Dimas Saputera adalah nama pendek dari Dimas Handi Hijrah Saputra. Pria kelahiran 1982 ini, pada suatu ketika pernah belajar dan lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia.
Dalam perjalanan hidupnya, Dimas pernah menjadi mentor tingkat SD dan SMP untuk pelajaran Bahasa Indonesia pada salah satu Bimbingan Belajar besar di Bandung. Selepas dari itu, sejak 2009 s.d. sekarang pernah bekerja di berbagai penerbit dan percetakan buku, sebagai editor, layouter, desainer cover, hingga sebagai marketing dan admin.
Kini memilih menjadi pekerja freelance di berbagai Penerbit. Dimas juga aktif di beberapa komunitas kepenulisan maupun sosial. Sampai saat ini tercatat sebagai anggota Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) Bandung Raya, Sekretaris Radio Antar Penduduk Indonesia Lokal 02 Lembang Wilayah Kabupaten Bandung Barat, dan Pengurus Pusat IKA UPI divisi Penerbitan.
***