PISAU SASTRA (PISTRA), Rubrik RUANG KARYA/PUISI, Minggu (01/03/2026) – Puisi berjudul “Ceramah Air kepada Manusia yang Lupa Akar” ini adalah sebuah tulisan karya Indra Rasyid Julianto, seorang dosen di sebuah perguruan tinggi Medan, Sumatra Utara yang dulu swaktu masih berstatus mahasiswa pernah bergiat di HIMA Satrasia FPBS UPI Bandung.
Kemarin tersiar berita
Tentang pulau yang mandi terlalu lama
Sampai lupa mematikan keran langit
Air turun bak dosen galak
Yang tak sempat memberi pengantar
Langsung menyuguhkan pertanyaan ujian tengah semester:
“siapa di antara kalian yang menebang pohon tanpa permisi?”
Hutan menjawab lirih
tapi suaranya tidak terdengar, karena yang bernyawa lebih sempurna sedang asyik mendengar pujian kepadanya saja
Kayu-kayu terapung
Seperti surat cinta yang gagal terkirim kepada akar
Mari membayangkan sungai yang tampak selalu merenung
Lalu tampil stand up comedy di tengah kota:
“Maaf, saya meluap. Saya hanya ingin diperhatikan, sejak kalian sibuk membeton jalan, saya merasa di-unfollow”
Rumah-rumah berenang tanpa kurus
Ayam-ayam sibuk belajar menyebut kata “evakuasi”
Lemari kayu di dalam rumah Pak RT pun menyebut lirih “evaluasi”
dan berharap semoga tidak menjadi perahu darurat bagi
Tersiar berita di televisi, pemberitaan di layar besar itu membuat kita serius kali
Padahal alam sedang menyindir:
“Terima kasih atas penghargaan pembangunan tercepat tahun ini. Hadiah utamanya?
Banjir bandang edisi terbatas.”
***
Judul: Ceramah Air kepada Manusia yang Lupa Akar
Penulis: Indra Rasyid Julianto
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas tentang Penulis/Pengarang

Indra Rasyid Julianto lahir di Bogor, 23 Juli 1999. Pernah bergiat di HIMA Satrasia FPBS UPI Bandung. Saat ini berprofesi sebagai Dosen dan berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Dapat dijumpai di instagram @indra_rasyid.
***