Cerpen “Peluk Aku Sebelum Kau Pergi”

PISAU SASTRA (PisTra), Kolom Ruang Karya/Cerpen, Kamis (12/03/2026) ─ Cerpen berjudulPeluk Aku Sebelum Kau Pergi ini merupakan hasil karya L. Malaranggi atau akrab disapa “El”, seorang mahasiswa aktif yang tengah menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Wiralodra, Indramayu, Jawa Barat.

Senja di sudut langit mulai memerah, kawanan burung malang-melintang terbang mengintari luasnya udara. Di sini, kadang aku hanya ingin duduk dan menatap langit-langit sambil membakar rokokku berbatang-batang.

Tak lupa, lalu-lalang orang-orang melintasi, klakson mobil, deru motor yang berjalan, dan gedung-gedung instansi sedikit rusak terpampang di depanku. Kala sore datang, aku selalu menyempatkan duduk melihatnya setelah semuanya selesai: pekerjaan, deadline, dan hal-hal pribadiku yang sukar.

Kadang kepala rasanya ingin meledak dan tubuh memuntahkan segalanya, tapi langit sore selalu menjadi sesuatu harap yang bisa kupandang, hingga aku lepas dan merebahkan semuanya perlahan.

L. Malaranggi
L. Malaranggi, penulis/pengarang – (Sumber: Koleksi pribadi)

Kediri, kota yang kata orang pelan kata orang lainnya lagi tenang, tapi bagiku sukar. Semua harap kutumpahkan pada laju derasnya kota ini: masalah-masalah, uang, harapan keluarga, dan study lanjut yang ingin sekali ku selesaikan. Namun, inilah kenyataan, di mana tidak setiap orang merasakan perasaan yang sama, perasaan di mana tidak saling menekan, tidak saling menyalakan dan tidak saling membunuh.

Ingin sekali aku berjalan ke kedai kopi terdekat dan memesan v60 sendirian. Lalu bercengkrama dengan diriku yang lama tinggal dan terlupakan.

Entah kapan, aku tidak mengajaknya berbicara, sekadar berbicara ringan mengenai kenapa perasaan ini hidup, mengapa perasaan ini tumbuh, dan mengapa semuanya begitu sulit untuk di wujudkan.

Dulu, anak kecil dalam diriku suka sekali bermain denganku, permainan-permainan yang menyenangkan, hujan-hujanan tanpa perlu di marahi ibu dan mandi di sungai yang debit arusnya deras tanpa takut kepada ayah. Namun sekarang, hidup mengubahku drastis dan kepala menjadi sarangnya.

***

Malam itu ketika semuanya pecah menjadi retakan, aku tak menyangka kalau ibu bisa sekuat itu dan tak terduga oleh pikirku. Ayah dengan membabi buta memecahkan semuanya yang ada di depannya dengan emosi yang tersulut-sulut berkobar. Mulut mereka berdua mengeluarkan amarah yang marah, bahasa-bahasa yang sejak kecil tak pernah kudengar dari kedua orang tuaku akhirnya terdengar juga oleh telingaku yang tipis ini.

Mata ibu memerah, perlahan air matanya menetes pelan, dan ayah dengan tangan besinya telah menghancurkan hatiku seketika dengan tamparan yang keras dan membanting pajangan di atas etalase yang ia beli sendiri 20 tahun silam.

Ibu tersungkur dan emosiku meledak-ledak, aku menghampiri ayah dan mendorongnya dengan teriakan. Ia tak peduli itu. Ia terus mengoceh dengan bahasa-bahasa binatang yang secara spontan keluar dari mulutnya.

Aku hidup dari kecil tak pernah mengalami kejadian ini. Ayahku adalah seorang pekerja kantoran di sebuah kantor di kediri dan sempat pindah-pindah kerjaan sebelumnya. Ia juga pernah menetap lama di jakarta dan meninggalkanku dengan ibu berdua di sini.

Semua yang aku tahu tentang ayah adalah kasi sayangnya kepada keluarga, meskipun ayah jarang pulang, tapi ketika ia pulang, ia begitu paham terhadap kondisi aku dan ibuku di rumah. Itulah rekaman memoriku, rekaman tentang kehangatan yang sejak aku kecil tahu, tidak dengan sekarang. Aku tidak mengerti kenapa sekarang semuanya gampang begitu pecah dan marah.

Ibu bagiku adalah malaikat kecil. Ia setiap hari datang ke kamarku ketika pukul 20:00 malam. Ia bercerita tentang indahnya dunia. Sesekali ia memelukku, mengelus rambutku yang mulai tumbuh dan membuatku selalu tersenyum setiap mau tidur.

Ibu tidak pernah jauh dariku. Ia adalah seorang pekerja keras yang setiap harinya ada buat rumah ini, makanan sisa, masakan lezat, dan foto-foto keluarga kecil kita yang terpampang di dinding selalu ibu bersikan.

Hampir semua pekerjaan rumah ini adalah pekerjaan ibu dan aku bak beruang kecil yang pemalas melihat ibu dengan cucuran keringat menetes perlahan di dahinya. Ibu juga tidak pernah marah. Bahkan, pertentangan dengan ayahpun tak pernah ada setahuku.

Baru sekarang semuanya aku tahu. Aku melihat bagaimana keluarga ini retak perlahan. Aku merasakan begitu sakitnya hatiku melihat semuannya terjadi.

***

Semenjak kejadian itu, aku mulai berani memulai hidup. Aku meninggalkan rumah setelahnya. Aku memilih bekerja di sebuah kedai kopi mengambil part time siang sampai jam 19:00 malam. Semua aku habiskan di kedai kecil milik orang yang tak kukenal sebelumnya dan sekarang semuanya hampir seperti keluarga.

Aku di terima di tempat ini, pemiliknya begitu suka padaku. Ia selau menanyakan kabarku setiap malam. Ia juga selalu sedia ketika aku butuh apa-apa. Namun, aku selalu menutup diri. Kejadian lampaulah yang menjadikan aku ingin sendiri saja dan hanya tersisa senyum kecil yang ada ketika ada orang baik menerimaku.

Perlahan, hari-hari yang aku jalani di sini adalah hari-hari lengang dan kosong, tidak ada harap apapun selain bekerja dengan sebisanya dan sisa-sisa tenaga yang ada. Sorenya, aku merenung kembali, duduk di luar kontrakan sambil melihat burung-burung terbang.

Aku hanya duduk, diam, merasakan lagi, kenapa semuanya menjadi seperti ini. Aku tak ingin sendiri. Aku butuh ibu, juga butuh ayah. Aku butuh mereka berdua. Aku ingin setiap malam ibu datang dan bercerita tentang indahnya dunia lagi sambil memelukku dari samping dan mengusap rambutku perlahan.

Kemana ibu, kemana ayah. Kemana mereka semua? Apakah mereka semua sudah tidak memikirkanku lagi setelah kepergianku dari rumah kemarin-kemarin.

Dalam benakku aku bertanya, apakah mereka berpisah dan hidup sendiri-sendiri. Apakah mereka meninggalku sendiri dengan alasan masalah-masalah mereka. Entahlah, air mataku terus menetes jika ingat tentang itu.

***

Sejak aku di sini, aku mencoba berdamai dengan semuanya. Apa yang bisa aku kerjakan, aku kerjakan. Semuanya aku lakukan sendiri tanpa bantuan mereka lagi. Namun, perlahan kukontrol hidupku.

Kadang perasaan-perasaan lalu menjadi sisa-sisa amarah yang menggumpal di dadaku. Kadang pula air mataku menetes jika mengingatnya kembali. Aku mencoba dengan setenang-tenangnya, memulai hidup dengan ala kadarnya sampai aku terbiasa pada rasa sakit yang lama hinggap di dadaku.

Di kediri, di kedai, dan kontrakan ini. Aku memulai lagi sisa-sisa hidupku, membereskan dengan perlahan dan mencoba belajar berdamai atas luka-luka masa lalu. Aku tahu, kota ini selalu mengingatku pada mereka, pada tawanya, pada janji-janji manisnya ketika aku kecil, janji untuk selalu membahagiakanku.

Aku selalu yakin dengan seluruh kesendirianku. Aku akan menemukan diriku sendiri dalam sepi dan sunyi ini. Aku tahu, semua telah mencapai titik retak yang parah, tapi di sinilah aku bisa belajar bahwa kesabaran adalah sesuatu yang harus aku pelajari dengan perlahan.

***

Judul: Peluk Aku Sebelum Kau Pergi
Pengarang: L. Malaranggi
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas tentang Penyair

L. Malaranggi kelahiran Indramayu adalah penulis cerpen, puisi, dan esai. Ia menulis tentang pengalaman sehari-hari, ingatan, dan relasi antarmanusia dengan gaya sederhana dan reflektif. Selain menulis fiksi, ia juga tertarik pada isu sosial dan kebudayaan. Bisa disapa di @malarangiii

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *