PISAU SASTRA (PISTRA), Rubrik OPINI, Kamis (19/02/2026) – Esai berjudul “Menjadi Bayangan Leluhur: Jejak Nani Dewi Sawitri dan Sakralitas Topeng Losari” ini adalah sebuah tulisan karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Di Cirebon, ada sebuah seni yang bukan sekadar pertunjukan panggung, melainkan jalan hidup: Topeng Losari. Dari Sanggar Purwakencana, lahirlah Nani Dewi Sawitri, seorang dalang yang memikul amanah sebagai generasi ketujuh penerus tradisi ini. Kisahnya bukan hanya tentang menari dengan topeng, tetapi tentang bagaimana sebuah warisan budaya dijaga melalui tirakat, pantangan, dan pengabdian seumur hidup.

Topeng Losari berbeda dari tari topeng Cirebon lainnya. Ia lahir sebagai media dakwah Islam, lalu berkembang menjadi seni pertunjukan yang tetap menyimpan inti ritual. Dalang topeng bukan sekadar penari; ia adalah penjaga nilai spiritual, pelaku tirakat, dan penghubung antara manusia dengan leluhur. Nani menekankan bahwa setiap gerakan, setiap tarikan napas di balik topeng adalah bagian dari laku hidup yang penuh konsekuensi.
Menjadi dalang berarti menjalani tirakat yang berat. Puasa mutih, patigeni, hingga laku 40 hari adalah syarat yang harus ditempuh. Restu leluhur menjadi bagian tak terpisahkan sebelum pertunjukan dimulai dan rasa syukur selalu dipanjatkan setelahnya.

Topeng yang dikenakan tidak memiliki lubang mata sehingga dalang harus melatih insting, merasakan arah, dan menyatu dengan energi panggung. Semua ini bukan sekadar latihan fisik, melainkan latihan batin yang menuntut kerendahan hati.
Ada pantangan yang harus dijaga: tidak boleh minum alkohol, tidak boleh berlaku sombong, dan harus selalu menjaga diri. Dalang topeng adalah cermin nilai-nilai spiritual yang diwariskan turun-temurun.
Nani sendiri pernah menghadapi konsekuensi besar dalam hidupnya. Ia harus memilih antara keluarga dan amanah budaya. Kehilangan anak-anak menjadi luka yang dalam, tetapi ia tetap teguh menjaga tradisi. Baginya, pengabdian kepada Topeng Losari adalah jalan yang sudah digariskan. Namun, di balik segala tirakat dan pengorbanan, ada kebahagiaan yang tak ternilai.

Topeng Losari telah tampil di 32 negara, memperkenalkan Cirebon ke panggung dunia. Murid-murid di Sanggar Purwakencana menjadi harapan baru, generasi yang diharapkan tetap konsisten melanjutkan tradisi. Meski pandemi sempat menghentikan banyak pertunjukan, semangat berkesenian tidak pernah padam.
Kisah Nani Dewi Sawitri adalah kisah tentang bagaimana tradisi bisa bertahan di tengah arus modernitas. Ia menunjukkan bahwa seni bukan hanya hiburan, melainkan jalan spiritual yang menuntut pengabdian. Topeng Losari bukan sekadar tarian dengan topeng, melainkan sebuah laku hidup yang menyatukan manusia dengan leluhur dengan nilai-nilai yang melampaui zaman.
Dalam dunia yang serba cepat, kisah Nani mengingatkan kita bahwa ada keindahan dalam kesetiaan pada tradisi. Ada kekuatan dalam tirakat, dan ada kebahagiaan dalam pengabdian. Topeng Losari adalah saksi bahwa budaya bukan hanya warisan, tetapi juga amanah.
Nani Dewi Sawitri dengan segala pengorbanan dan kebahagiaannya adalah bayangan leluhur yang terus menari di panggung kehidupan.
***
Judul: Menjadi Bayangan Leluhur: Jejak Nani Dewi Sawitri dan Sakralitas Topeng Losari
Penulis: Didin Tulus, sang Petualang Pameran Buku
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas Info Penulis
Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.
Aktivitas dan Karir
Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.
Pengalaman Internasional
Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.
Kegiatan Saat Ini
Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.
Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.
***