Cerpen “Batas Itu Nikmat”

PISAU SASTRA (PisTra), Kolom RUANG KARYA/CERPEN, Jumat (20/02/2026) – Cerpen berjudul “Batas Itu Nikmat” ini merupakan buah karya dari Drs. Aswin, M.M., seorang guru dan Alumni SMPN 1 Angkatan 1982, Kotabumi, Lampung Utara.

Babu di rumah sendiri. Begitulah, aktivitas kerja segalanya ada. Belanja, membersihkan rumah, mengantar anak, memasak, dan mencuci. Semua dilakukannya. Selain itu, pria bernama Didu ini bekerja sebagai driver ojek online (ojol). Usianya sudah tak muda lagi. Namun, ia cukup bahagia dalam menjalani kehidupannya. Mimpi-mimpinya sederhana, ia ingin sehat selalu agar bisa menjalani aktivitas sehari-hari secara normal.

Tiba-tiba ada notifikasi di handphone Didu. Pemesanan makanan. Sebagai driver ojol, ia bersemangat sekali. Dengan motor kreditnya, ia sampai ditempat toko penjual roti bakar ─ biasa dipesan siap diantar.

Ojek Online
Ilustrasi: Didu sedang ngobrol bersama tetangga rumahnya, Haji Roni di Halte Bus – (Sumber: Arie/PISTRA)

Didu bekerja penuh semangat. Hujan ataupun panas tak menjadi penghalang, ia selalu siap menghadapinya. Begitu juga siang atau malam, ia pasti selalu melayani pelanggannya dan siap mengantar pesanannya. Ia tak perduli dengan kondisi tubuhnya yang terkadang lelah. Baginya yang terpenting pelanggannya puas. Setiap ada orang yang pesan, ia siap menjalankannya sebagai babu.

Awal bulan ini, curah hujan tinggi. Siang malam selalu hujan. Di mana-mana banjir. Kondisi ini menyebabkan pemesanan sepi.

Saat itu, Didu sedang nongkrong di depan Stasiun Kereta Api Depok Baru. Ia menunggu penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) turun sambil menyulut sebatang rokok kretek. Sesekali ia melirik handphone-nya, mengecek pesanan, ternyata belum ada yang masuk. Sementara teman-temannya justru sibuk memanggil penumpang yang telah memesannya.

***

Malam ini sepi sekali, kata Didu dalam hati. Biasanya tak seperti ini, tambahnya. Didu tak pernah menyesali masa lalunya. Ia pun tak pernah mengkhawatirkan masa depannya. Dulu, ia sudah memiliki segalanya. Namun, saat ini, ia bisa merasakan kebahagiaan sejati dalam hidupnya.

“Batas itu nikmat,” kata Haji Roni kepada Didu yang tengah melamun, duduk di sisi Halte Bus sambil melepas asap rokok dari mulutnya.

“Iya, Kamu bisa merasakan nikmat. Bisa memiliki keterbatasan,” lanjut Haji Roni, tetangganya yang kebetulan lewat di sana.

“Saya tak paham Pak Haji, apa maksudnya?” Tanya Didu.

“Ya, dengan keterbatasan itu bisa membuat kita mensyukuri apa yang Allah berikan. Bukankah begitu Pak Didu?” Lanjut Haji Roni.

Didu masih terdiam. Ia mencoba memahami apa yang dikatakan sahabatnya itu.

“Untuk memahaminya, Kamu harus merenungi kata-kata yang tadi baru kuucapkan,” kata Haji Roni.

Didu masih diam. Mulutnya terus menghisap rokok, sementara pikirannya berkelana entah ke mana. Haji Roni pun diam, menanti jawaban Didu. Mendadak suasana jadi hening seperti kuburan. Keduanya membisu sejenak.

“Keterbatasan itu nikmat. Dengan keterbatasan, kita belajar untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah pada kita. Apakah yang dimaksud Pak Haji itu ibarat  orang yang baru sembuh dari sakit dan bisa menikmati rasanya sehat?” Ujar Didu perlahan, membelah kesunyian.

“Ya, betul sekali,” balas Haji Roni sembari menatap wajah Didu dengan tersenyum.

Sebatang rokok kembali disulut Didu dan menghisap asapnya agak dalam. Ia begitu menikmati rokok terakhirnya tersebut. Mungkin ia tak bisa merokok menjelang tidur sesampai nanti di rumahnya.

“Saya bisa merasakan itu, Pak Haji,” kata Didu sambil memperlihatkan sebatang rokok yang baru disulutnya kepada Haji Roni.

“Ini rokok terakhir yang saya miliki. Beda sekali ketika saya baru membeli sebungkus rokok yang masih penuh,” ujar Didu, “Nikmat sekali rokok ini,” tambahnya sambil tersenyum bahagia.

Haji Roni kembali berkata, “Angan-angan itu membahagiakan juga. Setelah tercapai, semuanya tak seindah angan-angan. Kadang kala kita lupa mensyukuri apa yang telah kita miliki atau telah kita capai.  Manusia menjadi babu dari ambisinya.”

Kembali suasana hening. Haji Roni memandang suasana di jalan yang ramai dengan hiruk pikuk kesibukan manusia.

“Walaupun begitu, kita tak perlu menyesali yang lalu dan tak perlu khawatir dengan masa depan kita. Yang lalu biarlah berlalu dan menjadi pelajaran. Ke depannya, kita harus bisa menjalani kehidupan dengan bijaksana,“ kata Haji Roni menasehati Didu yang usianya lebih muda darinya.

“Siap Pak Haji,” sela Didu sambil menundukkan kepalanya.

“Ibarat Babu yang tinggal serumah dengan majikannya, tapi mereka tidak tidur seranjang. Mereka tidur di rumah yang sama dan menikmati fasilitas yang sama, tetapi keduanya berbeda. Babu tetaplah babu yang bisa menikmati,  tetapi tak pernah memiliki, sedangkan majikan adalah orang yang memiliki serta menikmati,” kata Haji Roni lagi.

“Aku ingin memiliki dan menikmati. Aku ingin menjadi majikan,” kata Didu.

“Bisa menjadi majikan kalau kita selalu bersyukur pada-Nya. Bila duniamu ingin semua sukses, hanya Allah mengizinkannya. Beresin urusan akhirat kepada Allah dengan ikhlas, InsyaAllah dunia yang diidam-idamkan akan terwujud,” pungkas Haji Roni.

***

Judul: CerpenBatas Itu Nikmat”
Pengarang: Drs. Aswin
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas tentang pengarang

Drs. Aswin, M.M., pengarang dan pengajar di SMAN 3 Kotabumi, Lampung Utara – (Sumber: koleksi pribadi)
Drs. Aswin, M.M., pengarang dan pengajar di SMAN 3 Kotabumi, Lampung Utara – (Sumber: koleksi pribadi)

Pria bernama lengkap Drs. Aswin, M.M. ini merupakan lulusan Program S1 Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya,  Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung  ̶  sekarang berubah menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Angkatan ’85.

Selanjutnya alumni SMPN 1 Kotabumi, Lampung Utara, Angkatan 1982 ini menempuh studi pascasarjana dengan mangambil Program S2 Magister Manajemen di Universitas Saburai, Kota Bandar Lampung dan lulus dengan gelar akademis M.M. (Magister Manajemen). Kini pria penggemar sastra ini berprofesi sebagai  pengajar di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung hingga.

Aswin hidup bahagia bersama pasangan hidupnya, Dra. Baroroch, alumni Bahasa Sastra Arab IKIP Bandung Angkatan 1989. Istrinya ini juga bekerja di tempat yang sama di SMAN 3 Kotabumi.

Buah perkawinan Aswin dan  Baroroch menghasilkan empat orang putra yang ganteng-ganteng. Mereka adalah putra sulung bernama Fahri Muhammad (alumni Teknik Perkapalan Universitas Diponegoro), putra kedua bernama Farhan firdausi (alumni Fakultas Psikologi UPI Bandung), putra ketiga bernama Fikri Muhammad (Masih kuliah di Fakultas Teknik Kimia Universitas Lampung), dan putra bungsu bernama Fadil Fauzani (masih kuliah di ITB STEI Teknik Informatika).

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *